Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?


Lazimnya, wanita hamil tidak mengalami haid. Namun ternyata sebagian wanita ada yang keluar darah selama kehamilannya. Ada yang mengalaminya beberapa hari di trimester tertentu, bahkan adapula yang mengalaminya secara konsisten tiap bulan hingga usia kehamilan mencapai 9 bulan. Apakah darah ini haid ataukah istihadhah?
Para ulama berbeda pendapat mengenai  hal ini:

Umrah Ramadhan Seperti Haji Bersama Nabi


Umrah sudah kita ketahui keutamaannya. Sebagaimana amalan ada yang memiliki keistimewaan jika dilakukan pada waktu tertentu, demikian pula umrah. Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat istimewa dari umrah di bulan lainnya yaitu senilai dengan haji bahkan seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,
مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

hukum dan Keutamaan puasa Syawal


Di antara rahmat Allah ta’ala bagi hamba-Nya adalah Ia mensyariatkan puasa Syawal setelah bulan Ramadan, agar mereka bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Berikut ini pembahasan ringkas mengenai fikih puasa Syawal, semoga bermanfaat.

Berhari Raya Sesuai Sunnah Nabi


Hari Raya idul Fitri atau Idul Adha adalah diantara ibadah sekaligus sebagai syiar Islam, maka kita mesti mengetahui bagaimana petunjuk Rasulullah dalam berhari raya. Berikut sunnah yang seharusnya dilakukan seorang muslim pada hari Ied :

Tiga Orang Yang Pasti Doanya Dikabulkan


Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Ada tiga doa yang pasti dikabulkan tanpa ada keraguan padanya : doanya orang yang terdholimi, doanya seorang musafir dan doa jeleknya orang tua pada anaknya”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud No.1536, dan Imam At-Tirmidzi No. 3442. Imam At-Tirmidzi mengatakan : hadits hasan. Imam Suyuti pada kitab Al Jami’ Ash Shoghir memberinya tanda shohih) 

Perilaku-perilaku Suami Terhadap Istri Yang Dibenci Allah


Tanpa kita sadari dalam kehidupan keluarga tidak jarang para suami melakukan tindakan yang menyimpang dari ketentuan Allah SWT dan telah melanggar hak-hak isterinya. Oleh karena itu perlu sekali para suami mengetahui perbuatan-perbuatan yang oleh islam dikategorikan sebagai tindakan durhaka terhadap istri adapun beberapa perilaku yang sering suami lakukan adalah sebagai berikut  :

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmu
Perhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.

Sebagai Seorang Muslim Kita Harus Mengetahui Adab Masuk Masjid


Masjid memiliki kedudukan yang mulia di mata kaum muslimin karena masjid merupakan tempat berkumpulnya kaum muslimin ketika melaksanakan shalat berjamaah. Kaum muslimin akan mendapatkan kemuliaan jika mereka kembali memakmurkan masjid sebagaimana yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.

Rezeki Suamiku Berlimpah Setelah Aku Tak Lagi Kerja


Secara logika jika gaji istri Rp 5 juta dan suami Rp 5 juta perbulannya, maka keluarga ini menerima Rp 10 juta setiap bulannya.

Namun Nyatanya, Istri Kerja Membantu Keuangan Keluarga, Eh Kok Masih Kurang Aja...

Jangankan di Jakarta kota yang keras, ditempat Anda tinggal sekarang saja rasanya di masa ini tak cukup hanya mengandalkan gaji suami karena itu banyak istri yang ikut bekerja tanpa henti...

Kebanyakan itu yang jadi alasan istri 'turun gunung' ikut banting tulang.

Tapi apa ia istri ikut bekerja ini harus menjadi solusi satu satunya?

Tapi apakah istri yang ikutan turun tangan mengais rezeki sanggup menyelesaikan solusi keuangan?

Saya kasih jawaban pastinya.
Ketika suami dan istri sama-sama berpenghasilan, belum tentu menjamin hidup lebih makmur. Masalah keuangan tetap saja menghantui, wong yang namanya uang makin dapat banyak juga tetap saja kurang.

Memang secara teoritis sih itu berkebalikan, karena ada penghasilan tambahan dari istri yang bekerja, seharusnya kan keuangan semakin makmur?

Terus apa yang salah kalau terus-terusan merasa kurang?

Mungkin asumsi di bawah ini bisa menjadi biang kerok kenapa istri kerja tetap tak bikin perubahan keuangan keluarga meskipun ikut bekerja.

1. Istri bekerja gaya hidup pun berubah

Secara ditempat kerja istri temen temenya pada bawa smartphone X keluaran terbaru, tas gemes terbaru dll.

Begitu pula suami, mumpung pendapatan keluarga lebih dari sebelumnya sekarang bisa deh beli beli barang hobi, alat pancing kek, tongkat golf kek...

Ketika keuangan keluarga masih mengandalkan suami, istri biasanya sangat piawai mengaturnya. Yang menonjol adalah sikap superselektif saat belanjakan uang.

Hidup irit dan hemat jadi rumusnya. Tapi enggak saat istri sudah bekerja.

Muncul sifat ‘lebih mampu’ belanja lebih banyak dari biasanya karena di alam bawah sadar tertanam pikiran ‘punya duit lebih’ dari biasanya.

Ketika pemasukan ada lebihan dan di saat bersamaan pos-pos pembelanjaan bertambah, sama saja enggak ada perubahan. Inilah yang membuat tambahan penghasilan dari istri yang bekerja sama sekali tak berasa efeknya.

2. Akhirnya jadi ngutang.

Yang dulunya gaji suami 5 juta cukup malah bisa nabung, kini pendapatan berdua malah nggak cukup.

Gara-gara temen istri punya smartphone X dan tas merk Gemes.

Lagian kan bulan depan gajian, nggak apa-apa kan ngutang. Akhirnya salah kaprah kan.

Secara logika memang demikian lalu bagaimana secara agama?
Mungkin tidak ada larangan bagi perempuan bekerja, seperti disebutkan dalam surat al-Qashash, ayat-23-28.

Dimana disana dikisahkan mengenai dua puteri Nabi Syu’aib as yang bekerja menggembala kambing di padang rumput, yang kemudian bertemu dengan Nabi Musa AS.

Namun beda dulu beda sekarang. Mungkin saat ini jika wanita bekerja diluar rumah akan lebih banyak mudharatnya.

1. Misal tidak mengenakan pakaian yang menutup aurat

Terkadang ada perusahaan yang tidak membolehkan pekerja wanita memakai jilbab, dan bawahan panjang.

2. Jadi satu kantor campur baur pria wanita, jadinya berkhalwat.

Sabda Rasulullah Saw “tidak boleh berkhalwat (bersepi-sepian) antara laki-laki dengan wanita kecuali bersama wanita tadi ada mahram”.

Sebagaimana antara dalil yang menunjukkan keperluan untuk tidak bercampur dan berasak-asak dengan kumpulan lelaki sewaktu bekerja adalah firman Allah SWT:

وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاء وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dan tatkala ia ( Musa a.s) sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang (lelaki) yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia mendapati di belakang lelaki-lelaki itu, ada dua orang wanita yang sedang memegang (ternaknya dengan terasing dari lelaki).

Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?”. Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya” (Al-Qasas: 24).

3. Namanya perempuan cenderung pamer

Entah pamer perhiasan, atau pamer kecantikannya.

Wanita dilarang memamerkan perhiasan dan kecantikannya, terutama di hadapan para laki-laki, seperti firman Allah SWT :

“Janganlah memamerkan perhiasan seperti orang jahiliyah yang pertama”(QS Al-Ahzaab 33).

4. Kalau sudah berkumpul dan bercanda, memerdukan suaranya.

Para wanita diharamkan bertingkah laku yang akan menimbulkan syahwat para laki-laki. Seperti mengeluarkan suara yang terkesan menggoda, atau memerdukannya atau bahkan mendesah-desahkan suaranya.

Larangannya tegas dan jelas di dalam Al-Quran;

Janganlah kamu tunduk dalam berbicara (melunakkan dan memerdukan suara atau sikap yang sejenis) sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik` (QS Al-Ahzaab 32).

5. Bisa saja terjadi cinlok, saat kondisi hubungan dengan suami pas ada masalah meski kecil

Katakanlah pada orang-orang laki-laki beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya ……..”(QS An Nuur 30-31)

Menahan pandangan saja harus dijaga, apalagi sampai terjadi perselingkuhan.

6. Kewajiban dirumah jadi terbengkalai

Mungkin banyak tugas dirumah adalah tugas suami, namun itu kembali kepada adat yang berlaku dilingkungan itu. Dimana bila seorang istri harus menjaga anak anak dan rumah itu kewajibannya.

Berbeda lagi, jika disana perempuan hanya melayani suami dan semua tugas rumah adalah tugas suami. Biasanya yang seperti ini suami akan membayar pembantu rumah tangga.

7. Tak boleh jika suami tidak ridho

Ini adalah yang paling sering luput dari perhatian para muslimah. Terkadang seolah-olah izin dari pihak orang tua maupun suami menjadi hal yang terlupakan. Izin dari suami harus dipahami sebagai bentuk kasih sayang dan perhatian serta wujud dari tanggung-jawab seorang yang idealnya menjadi pelindung. Namun tidak harus juga diterapkan secara kaku yang mengesankan bahwa Islam mengekang kebebasan wanita.

Tentu saja tidak semua bentuk dan ragam pekerjaan yang terdapat pada masa kini telah ada pada masa Nabi saw. Namun para ulama pada akhirnya menyimpulkan bahwa perempuan dapat melakukan pekerjaan apa pun selama ia membutuhkannya atau pekerjaan itu membutuhkannya dan selama norma-norma agama dan susila tetap terpelihara.


“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka meryuruh (mengerjakan) yang ma’ruf mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya…” (At-Taubah: 71).

Kesimpulan yang dapat kita ambil secara logika banyak mudarat pun demikian secara agama. 

Maka dari itu kenapa saat istri bekerja rezeki pun tetap tak cukup. Mulai sekarang jadikan ini semua sebagai bahan perenungan.


wajibbaca.com

Mengeluarkan Zakat Fitri Lebih Awal


Waktu yang disyariatkan untuk mengeluarkan zakat fitri adalah satu atau dua hari sebelum hari ‘ied. Sebagaimana dalam hadits.

Kartu Ucapan Idul Fitri yang Kian Terpinggirkan


NEW DELHI - Perayaan Idul Fitri memiliki banyak bentuk dalam setiap masyarakat. Biasanya, pada akhir Ramadhan, pasar di negara mayoritas Muslim akan menjual perlengkapan perayaan Idul Fitri seperti gula, pakaian, gelang, mehendi dan sebagainya.

Shalat Id di Masjid atau di Lapang, Mana yang Lebih Utama?


PADA pagi hari Idul Fitri, umat Islam berbondong-bondong mendatangi tempat pelaksanaan shalat Id. Ada yang di masjjid, ada pula yang di tanah lapang. Kedua  tempat tersebut memang lazim digunakan untuk pelaksanaan shalat Id. Namun, adakah salah satu diantara keduanya yang lebih utama?
Para fuqoha telah sepakat bahwa semua tempat yang bersih dan bisa menampung jama’ah yang banyak jumlahnya bisa dipergunakan sebagai tempat untuk melaksanakan sholat Id. Baik itu di Masjid atau di tanah lapang. Namun mereka menyatakan pelaksanaan sholat Id  di tanah lapang adalah lebih utama, karena biasanya bisa menampung jumlah jamaah yang lebih banyak.
Dalilnya adalah sebuah hadits shahih riwayat dari Abi Sa’id Al-Khudri r.a. Dia mengatakan, “Biasa Rasulullah SAW keluar pada hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha ke mushalla dan pertama-tama yang dikerjakan shalat ‘id kemudian berdiri menghadap kepada orang-orang untuk menasehati mereka dan mengajarkan kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits shahih ini tegas menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat Id di mushalla. Namun, mushalla yang dimaksud di masa beliau adalah shakhra’, yaitu tanah yang luas di padang pasir, bukan masjid kecil seperti yang kita kenal di mas sekarang.
Meski beliau tinggal di Madinah, di samping masjid An-Nabawi, namun shalat Id tidak dilakukan di dalamnya. Sebaliknya, shalat itu dilakukan di padang pasir yang luas, sebagaimana yang biasa dilakukan pada saat shalat istisqa’ dan lainnya.
Berlandaskan hadits di atas, maka kebanyakan ulama menetapkan bahw shalat Id harus dilakukan di tanah lapang.
Namun sebagian ulama lainnya tidak menjadikan padang pasir sebagai syarat sahnya shalat Id. Bagi mereka, baik di masjid maupun di padang pasir, keduanya sah-sah saja untuk dijadikan tempat shalat Id..
Hanya saja fuqoha madzhab Syafi’i menyatakan bahwa keutamaan sholat ‘Id di tanah lapang hanya berlaku jika memang masjid yang biasa digunakan untuk melakukan shalat terlalu sempit. Sedangkan jika masjid tersebut luas, maka melaksanakan shalat di masjid adalah lebih utama sebagaimana yang biasa dilakukan di Masjidil Haram.
Alasan mereka karena masjid itu pasti lebih bersih dan lebih mulia dari pada tanah lapang.
Al-Imam An-Nawawi, salah satu ulama dari kalangan mazhab As-syafi’i menukil dalam kitabnya, Al-Majmu’ Syarahul Muhazzab, perkataan Imamnya: Sendainya masjid cukup luas dan shalat dilakukan di tanah lapang, tidak ada masalah. Sedangkan bila masjid itu sempit tapi tetap dilakukan shalat Id di dalamnya, maka dibenci.
Sebab bila masjid ditinggalkan dan shalat di padang pasir, tidak akan menimbulkan kemudharatan. Sebaliknya, bila masjid sempit tapi tetap saja dilakukan shalat Id di dalamnya, orang-orang akan berdesakan, bahkan bisa jadi sebagiannya akan tertinggal. (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah jilid 27 halaman 245). []
SUMBER: RUMAH FIQIH

Ini Amalan yang Bisa Kita Lakukan Ketika Idul Fitri


IDUL Fitri tinggal menghitung hari, banyak orang mempersiapkan untuk menyambut kedatangannya, nah apa sajakah amalan yang kita siapkan untuk menyambut kedatangan idul fitri, ini dia penjelasannya.
Idul Fitri adalah hari yang berulang setiap tahunnya sebagai pertanda berakhirnya puasa Ramadhan. Salah satu kewajiban yang ditunaikan menjelang Idul Fitri adalah zakat fitri. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin.
Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Hasan)
Penghujung Ramadhan ini ditutup pula dengan takbir sebagaimana Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185).
Takbir ini disunnahkan untuk dikumandangkan sejak berangkat dari rumah hingga pelaksanaan shalat Idul Fitri. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.” (Dikeluarkan dalam As Silsilah Ash Shahihah no. 171)
Saling mendoakan agar amalan kita di bulan Ramadhan diterima juga suatu hal yang dianjurkan saat hari raya. Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fitri atau Idul Adha), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amalmu).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan (Fathul Bari, 2: 446). []
SUMBER: MUSLIM.OR.ID

PENGERTIAN MATAN, SYARAH, HASYIYAH, DAN MAUDHU’I


Pada tahun 700-an, mayoritas fuqaha (ahli fiqih) menyusun kitab fiqihnya dengan bab yang lengkap mulai dari thaharah (bersesuci) sampai dengan jinayat (krimial).

Tips Bermakmum Di Belakang Imam Yang Sholatnya Lama


Di bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, biasanya kita dapati sebagian Imam di masjid-masjid tertentu mengerjakan shalat lebih panjang dan lama dari pada hari-hari biasanya. Kita dapati sebagian mereka memperpanjang bacaan surat setelah al-Fatihah. Selain itu, mereka juga memanjangkan bacaan pada saat rukuk, i’tidal, sujud dan duduk di antara dua sujud. Bisa jadi, mereka pun memanjangkan tasyahud akhir dengan membaca beberapa doa setelah tasyahud akhir sebelum salam.
Bagi sebagian makmum yang sudah hafal dan paham bacaan-bacaan pada posisi tersebut maka mereka akan menikmati shalat bersama Imam seperti itu. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika seorang dari kita belum mengetahui bacaan-bacaannya, maka bisa jadi ia akan diam, dan tidak menutup kemungkinan pikirannya akan lari ke mana-mana, dan seterusnya.
Oleh karena itu, pada tulisan singkat kali ini, akan disampaikan beberapa bacaan dan doa yang dapat dibaca oleh makmum ketika ia shalat di belakang imam yang berlama-lama dalam shalatnya. Dengan harapan, semoga ia bisa memanfaatkan banyak waktu dalam shalat dengan bacaan-bacaan dan doa-doa yang sesuai tuntunan. Juga, dapat menjadikan shalatnya lebih khusyuk dan lebih bernilai maksimal di sisi Allah subhanahu wa ta’ala.
Setelah memperhatikan dengan seksama, ada enam posisi penting yang perlu untuk dibahas secara singkat pada tulisan ini. Berikut penjelasannya. Semoga bermanfaat.

POSISI BERDIRI

Pada saat berdiri di belakang imam, tugas makmum adalah diam dan menyimak bacaan imam; baik imam membaca al-Fatihah maupun surat setelah al-Fatihah. Adapun masalah apakah makmum membaca al-Fatihah di belakang imam pada shalat jahr atau tidak, maka ada perbedaan pendapat di antara ulama, bukan sekarang penjelasan rincinya.
Sebaiknya ia memahami kandungan dan makna dari surat al-Fatihah yang setiap hari ia baca minimal 17 kali. Selanjutnya, hendaknya ia berusaha memahami surat-surat pendek yang biasa ia baca atau dengar di dalam shalat, dimulai dari juz 30 dan seterusnya. Termasuk juga, hendaknya ia memahami ayat-ayat atau surat-surat pilihan yang sering dibaca imam, seperti ayat kursi, 3 ayat terakhir dari surat al-Baqarah, ayat-ayat terakhir dari surat Ali Imrah ayat 190 hingga akhir, dan seterusnya.

POSISI RUKUK

Ketika rukuk, makmum dapat memperbanyak bacaan:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Maha Suci Tuhan-ku yang Maha Agung dan aku memuji-Nya. (Hadis sahih. Lihat: Shahih al-Jami, No. 4734)
Ia juga boleh membacanya tanpa kalimat “wa bihamdih.” Sebagaimana tertera pada hadis shahih riwayat Ahmad.
Hendaknya ia terus memperbanyak bacaan tersebut hingga imam bangkit dari rukuk. (Lihat: Shifat shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam karya al-Albani hal. 132)
Ia juga dapat berdoa dengan bacaan berikut:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Subhanakallahumma Rabbanaa wa bihamdika Allahummaghrfir lii (Maha suci Engkau, ya Allah! Tuhan kami, dan dengan memuji-Mu ya Allah ampunilah dosaku). (HR. al-Bukhari &Muslim)
Sebagian ulama -seperti Syaikh bin Baz di dalam risalah Shifat Shalat Nabishallallahu alaihi wa sallam– membolehkan menggabung doa pertama dan kedua dalam satu rukuk. Jadi, silakan terus membaca keduanya hingga imam bangkit dari rukuk.

POSISI ITIDAL

Dalam posisi itidal -yaitu berdiri tegak setelah bangkit dari rukuk-, setelah membaca doa bangkit dari rukuk berikut:
رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
Wahai Rabb kami, dan bagimu semata segala pujian. (HR. al-Bukhari), yang termudah bagi makmum adalah membaca dan memperbanyak bacaan di bawah ini:
لِرَبّـِيَ الْـحَمْدُ، لِرَبّـِيَ الْـحَمْدُ
Sesungguhnya milik Rabb-ku semata segala pujian, sungguh milik Rabb-ku semata segala pujian. (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i dengan sanad sahih. Lihat: Irwa’ al-Ghalil karya al-Albani rahimahullah, No. 335)
Atau, ia dapat menghafalkan bacaan agak panjang berikut ini:
مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ. أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ. اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ.
(Aku memuji-Mu dengan pujian) sepenuh langit dan bumi, sepenuh apa yang di antara keduanya dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu. Tuhan yang berhak disanjung dan dimuliakan, Dzat yang paling berhak dipuji oleh hamba dan kami seluruhnya adalah hamba-Mu semata. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, dan kekayaan tidak dapat memberikan manfaat bagi pemiliknya. (HR. Muslim)
Akan tetapi, bisa jadi makmum sudah selesai membaca bacaan di atas, namun imam belum juga berpindah posisi menuju sujud. Bila demikian, sebagai solusinya ia dapat membaca doa pertama dan terus ia ulangi hingga imam berpindah posisi menuju sujud.

POSISI SUJUD

Pada posisi sujud, setelah makmum menyelesaikan bacaan yang diwajibkan (seperti bacaan: Subhaana Robbiyal-A’laa wa bihamdih), ia dapat membaca doa apa saja yang berisi kebaikan dunia dan akhirat. Posisi sujud merupakan kesempatan emas untuk memperbanyak doa. Sebab posisi tersebut termasuk mustajab untuk berdoa.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ
Posisi terdekat seorang hamba kepada Rabb-nya adalah ketika sujud, maka itu perbanyaklah berdoa. (HR. Muslim)
Silakan ia memilih doa-doa baik sesuai hajatnya yang berasal dari al-Qur’an atau hadis Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Sebagaimana ia dapat juga berdoa degan kalimat-kalimat dari dirinya. Bahkan sebagian ulama membolehkan memanjatkan doa dengan bahasanya bila memang tidak bisa berdoa dengan bahasa Arab. Allahu a’lam.
Untuk mengetahui berbagai macam doa, sangat dianjurkan memiliki buku saku Hisnul Muslim yang berisi doa-doa yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah (bisa didownload terjemahannya di sini: https://www.sulhan.net/tips-bermakmum-di-belakang-imam-yang-shalatnya-lama).

POSISI DUDUK DI ANTARA DUA SUJUD

Adapun pada posisi duduk di antara dua sujud, makmum dapat membaca dan mengulang-ulangi doa berikut ini:
رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، اغْفِرْ لِيْ
Wahai Tuhan-ku, ampunilah aku, ampunilah aku. (Hadis hasan riwayat Ibnu Majah. Lihat: Shifat Shalah an-Nabikarya Syaikh al-Albani hal. 153)
Silakan ia mengulang-ulangi bacaan tersebut hingga imam kembali sujud. Ketika imam sujud, silakan lakukan apa yang disampaikan pada poin sebelumnya.

POSISI TASYAHUD AKHIR

Pada posisi tasyahud akhir sebelum salam, bila imam duduk lama, maka solusinya adalah dengan membaca doa-doa yang disunnahkan untuk dibaca. Silakan baca dua kitab berikut:
(1). Kitab Hisnul Muslim karya Dr. Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani pada Bab ke-24 (pada terjemahan berikut dari halaman 44 dst). Silakan download terjemahannya pada link berikut: Buku terjemah Hisnul Muslim: https://www.sulhan.net/tips-bermakmum-di-belakang-imam-yang-shalatnya-lama
(2). Kitab Shifat Shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam karya al-Albani pada halaman183-187 (berbahasa arab). Atau bisa mendownload kitab terjemahan Ashlu Sifat Shalat jilid ke-3 (dari halaman 244 dst) pada link berikut ini: terjemah buku Ashlu Shifat Sholat Nabi shalallahu alaihi wa sallam: https://eshaardhie.blogspot.com/2017/03/download-ebook-pdf-sifat-shalat-nabi-karya-syaikh-al-albani-edisi-lengkap-3-jilid.html?m=1
Silakan dipelajari dan dihafalkan doa-doa tersebut. Kesemuannya merupakan doa-doa yang baik dan indah. Semoga diberi taufik dan dimudahkan.
Demikian yang bisa kami sampaikan. Semoga tulisan singkat ini memberi manfaat bagi kita semua. Allahu ta’ala a’lam.

Dakwah Rahasia, Sembunyi-Sembunyi


Apa rahasianya dakwah nabi sampai dilakukan sembunyi-sembunyi di masa awal-awal Islam?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengawali dakwahnya dengan rahasia (sirriyyah). Sudah merupakan suatu hal yang lumrah dan alami apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan rahasia itu kepada orang yang paling dekat dengannya dari keluarganya dan teman-teman dekatnya. Selain itu, kepada orang yang diharapkan darinya kebaikan melalui pertimbangan dan cara memilih orang yang bisa dijadikan sebagai teman berkomunikasi, hingga muncullah orang-orang yang memenuhi panggilan tersebut.

Yang paling utama di antaranya adalah:

  • Khadijah binti Khuwailid radhiyallahu ‘anha Ummul Mukminin, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  • Waraqah bin Naufal, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jangan ada yang mencemooh Waraqah
bin Naufal, karena saya telah melihat sebuah surga atau dua buah surga untuknya.”

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah peristiwa itu, tidak lama kemudian Waraqah meninggal.” Karena apa yang dikatakannya adalah ungkapan keimanan terhadap apa yang dia dapatkan, dan sebuah keyakinan terhadap wahyu dan niat yang tulus untuk mengikuti kebenaran yang sebentar lagi tiba.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Pendeta Waraqah bin Naufal masuk Islam saat itu dan berjanji membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala dikeluarkan dari kampung halamannya.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Oleh karena itu, kami katakan bahwa yang paling pertama masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khadijah dan dari kalangan laki-laki adalah Waraqah bin Naufal.” Namun, karena dia meninggal dunia dengan sangat cepat setelah itu menyebabkan muncul perselisihan tentang keislamannya. Wallahu a’lam.

  • Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

  • Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia adalah orang yang paling pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak.

  • Zaid bin Haritsah pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka adalah generasi awal yang gesit melakukan dakwah dengan rahasia, sehingga melalui tangan Abu Bakar, banyak sekali dari kalangan sahabat telah masuk Islam, seperti ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, Az-Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu, mereka adalah di antara lima sahabat yang tergolong dalam sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira akan masuk surga.

Termasuk yang paling awal masuk Islam adalah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah, Abu Salamah, Al-Arqam bin Abi Al-Arqam, Utsman bin Mazh’un, dan kedua saudaranya ‘Abdullah dan Said bin Zaid, dan lain-lain.
Adapun yang pertama kali masuk Islam secara garis besar dan hampir saja merupakan ijmak adalah Khadijah radhiyallahu ‘anha.

Mereka  semua itu masuk Islam secara rahasia dan mereka berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan cara rahasia dan sembunyi-sembunyi untuk membacakan wahyu Al-Qur’an dan untuk memberikan pengarahan keagamaan.

Apakah Dakwah Saat Ini Harus Sirriyyah?

Syaikh Abu Bakar Al-Jazairi berkata, “Tidak ada dalil akurat yang bisa dijadikan pegangan oleh mereka yang melakukan dakwah rahasia di negara-negara kaum muslimin dewasa ini. Dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tiga tahun tidak bisa dijadikan sebagai pegangan dalam masalah itu, karena beliau dan sahabat-sahabatnya pada waktu itu tidak mampu untuk memperdengarkan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadar Rasulullah.

Mereka tidak diizinkan untuk melakukan shalat. Tetapi setelah barisan dakwah mereka kuat, maka akhirnya dakwah menjadi terang-terangan. Konsekuensinya, mereka berhadapan dengan siksaan dan intimidasi sebagaimana yang dikenal di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, asal dari dakwah ini adalah terang-terangan. Adapun cara rahasia hanya dipakai apabila berhadapan dengan darurat yang kondisinya bisa dipahami oleh orang cerdas. Dakwah sembunyi-sembunyi adalah bentuk pengecualian dan bukan dasar utama.”

Apa Hikmah Dakwah Secara Sirriyyah yang Dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

  • Agar warga Mekkah tidak menjadi kaget jika dakwah langsung terang-terangan.

  • Agar barisan dakwah mendapatkan kader-kader yang siap membela dakwah tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya terang-terangan.

  • Berdakwah itu sesuai dengan kemampuan.

  • Berdakwah itu tidak tergesa-gesa dalam memetik hasil.

  • Yang pertama kali masuk Islam dari dakwah sirriyyah adalah seorang wanita dan berikutnya menjadi pendukung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Khadijah radhiyallahu ‘anha.

  • Abu Bakar mendakwahi lima orang sehingga masuk Islam. Ini dilakukan dengan metode pertemuan, ziarah dan kunjungan, serta membangun komunikasi secara pribadi dalam menjelaskan kebenaran.

Dari sini berarti kita bisa mulai berdakwah dari rumah dan orang-orang dekat kita.


Sumber : rumaysho.com

Beginilah Seharusnya Seorang Muslim


TIDAK sedikit di antara banyak orang yang menghalkan segara cara dalam hidup. Demi uang, karir dan jabatan, orang rela menukar akidahnya.
Secara etimologis Islam   اْلإِسْلاَم   berasal dari  bahasa Arab
loading...