Mahsita D Sari, Islam Menenangkan Jiwa

Tak ibarat kebanyakan mualaf yang menghadapi banyak hambatan ketika menentukan Islam, Mahsita D Sari berjalan mulus.

Wanita kelahiran Jakarta, 16 November 1981, bersyukur mendapatkan akomodasi ketika menyatakan sebagai seorang Muslimah.

”Alhamdulillah tak ada hambatan yang berarti,” ungkap perempuan yang bekerja di Manufacturing Engineer Section Leader di ResMed LTD, Sydney, Australia melalui surat elektrnoik kepada Republika.

Master Engineering Science dari University of New South Wales ini mengaku justru mamanya yang sangat berperan ia menjadi seorang Muslimah.

”Yang paling banyak mendukung dalam mempelajari Islam ialah mama. Kami mencar ilmu Islam di waktu yang sama dan secara tidak sadar kami saling memacu satu sama lain,” paparnya.

Sita, begitu ia bersahabat disapa, dibesarkan di sekolah Kristen mulai TK hingga SMP. Demikian juga dengan kakak-kakak dan adik-adiknya, waktu itu ibunya seorang Kristiani.

Sewaktu kecil, Sita sering diajak orang tuanya ke panti asuhan Kristen. ”Kami dididik orang renta kalau ingin pakaian baru, maka pakaian usang harus diberikan kepada panti asuhan. Istilahnya beli satu baju gres berarti memberi satu baju lama,” kenangnya.

Begitu akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, Sita mengaku tergugah mencari tahu ihwal Islam. Karena itu, ia berminat masuk Sekolah Menengan Atas Negeri alasannya ada pelajaran agama Islam.

”Inilah awal dorongan untuk memeluk Islam. Waktu itu saya ada pilihan untuk melanjutkan ke sekolah Kristen atau di sekolah Negeri. Hati saya gundah gulana setiap kali saya ke Sekolah Menengan Atas Katolik,” ungkapnya.

Akhirnya ia memutuskan masuk SMU Negeri walaupun diakuinya ada rasa takut alasannya harus mencar ilmu agama Islam. ”Agama yang tidak saya kenal walaupun di waktu kecil pernah mencar ilmu mengaji sebentar,” paparnya polos.

Rasanya ketika itu, kata dia, pelajaran IPA tidak semenakutkan mencar ilmu agama Islam. ”Saya sempat stress alasannya waktu Penataran ada kegiatan Shalat Zhuhur yang dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an sementara saya tidak sanggup membaca Al-Qur’an.”

Jalan keluarnya, bersama sang mama, ia mencari Alqur’an dan terjemah. ”Alhamdulillah di sebuah toko buku Islam di Jakarta ada yang menjual Alqur’an dengan bahasa Arab dan latin. Hati agak damai walau saya belum tahu bagaimana menavigasi isi Al-Qur’an,” ujarnya.

Sebagai upaya supaya nilai pelajaran Agama tidak merah dan sanggup naik kelas, Sita mulai mencar ilmu mengaji di rumah. Melalui besan dari kakaknya mama, keluarga Sita mendapatkan guru mengaji. ”Alhamdulillah, bersamaan dengan Sita mencar ilmu Islam di sekolah, kami sekeluarga juga mulai terbuka terhadap agama Islam,” jelasnya.

Awal mencar ilmu Islam di Sekolah Menengan Atas penuh suka duka. Pertama kali ulangan agama stressnya luar biasa. Tulisan Arab ia hafalkan, mencar ilmu semalam suntuk dan besoknya curi-curi mencar ilmu di kelas sedangkan teman-teman dari Al Azhar tenang-tenang saja.

Waktu mendapatkan hasil ulangan lebih was-was lagi dan kecewa berat alasannya guru Agama memberinya nilai abjad V terbalik sementara teman-teman kebanyakan paling tidak menerima abjad V yang masih ada artinya dibanding V terbalik… Beberapa bulan gres saya tahu kalau V terbalik itu ialah angka delapan dalam bahasa Arab.

Tidak usang kemudian sang mama memberitahu Sita dan keluarga akan pergi umrah. ”Saya pun mencari tahu apa itu umrah? Apa yang harus dilakukan, apa maknanya. Berbagai buku saya baca mulai dari bacaan shalat hingga tata cara umrah.”

Semuanya mengenai ibadah. ”Fokus saya ketika itu, saya harus tahu ihwal agama Islam supaya saya sanggup naik kelas dan tahu umrah itu apa. Hal ini ternyata membuka tidak hanya wawasan, juga hati saya. Kedekatan saya kepada Allah swt semakin terasa di waktu umrah,” ungkapnya penuh syukur.

Kenikmatan apa yang di rasakan sehabis menjadi Muslimah?
Menurut Sita, Islam itu begitu pribadi, menenangkan jiwa dan kedekatan kepada Allah swt terasa lebih mudah. ”Sesuatu yang tidak saya rasakan sebelumnya,” ungkapnya penuh syukur.

Dalam kesulitan membaca Al Qur’an, kata dia, Allah swt Subhanahu Wa Ta’ala meringankan dan mendekatkan hati untuk membacanya dan terus berusaha. Saat hati gundah dan pikiran kusut, berdzikr menenangkan hati dan pikiran.

”Saat galau harus bagaimana dan diri pasrah seringkali balasan itu hadir ketika membuka Al Qur’an. Halaman yang terbuka mengandung ayat balasan dari kasus yang ada,” ujar Sita yang pernah aktif di The Dawn Quranic Institute dan Daar Aisha College, Sydney secara part time.

Sita membenarkan nasihat sang mama. “when you are close to Allah swt problems will revolve around you and it won’t affect you” (Ketika kau dekat dengan Allah swt Subhanahu Wa Ta’ala, problem yang berputar di sekitarmu, tidak akan memengaruhimu).

Sita mengaku tahu ihwal Islam melalui tetangga yang juga guru ngaji di waktu kecil. Waktu itu pengetahuannya terbatas pada soal Ramadaan dan shalat taraweh di Komplek.

Pengalaman Umrah dan Haji
”Saya mulai mengenal dan mencar ilmu apa itu Islam tahun 1997 ketika SMA. Umrah ialah titik balik dari hidup saya. Saat umrah ada seorang ibu absurd yang mengajarkan tata cara shalat kepada Mama dan Sita di Masjid Nabawi waktu kami sedang menunggu waktu Shalat di Raudhah,” ungkapnya.

”Ibu tersebut mengantar kami ke Raudhah dan menuntun kami ke makam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ibu itu juga memperlihatkan lokasi rumah Rasulullah SAW dan Fatimah Al Zahra. Perjalanan umrah itu menjadi perjalanan spiritual yang sangat berkesan,” paparnya haru.

Enam bulan kemudian, kata Sita, ia dan sekeluarga pergi haji. ”Subhanallah, dalam ibadah yang sibuk dan memerlukan banyak energi, banyak akomodasi yang kami rasakan,” ujarnya.

Menjelang kepulangan ke Tanah Air, sang abang bertanya apakah ia akan tetap menggunakan hijab. ”Jawaban saya ketika itu saya ingin pakai tapi saya masih ingin bermain basket dan segala kegiatan lain,” kata Sita.

”Kakak saya bilang dalam Al Qur’an Allah swt Subhanahu Wa Ta’ala berfirman menggunakan hijab itu wajib. Pipi saya panas ibarat ditampar, saya gres tahu menggunakan hijab itu wajib. Sepulang haji, saya memutuskan menggunakan hijab. Waktu itu saya kelas 2 SMA,” ungkapnya.
Pengalaman di Australia
Sita yang aktif dalam banyak sekali kegiatan Islam di Australia ibarat menjadi mentor Islamic Youth Camp di Canberra tahun 2012 kemudian serta kegiatan Islam lainnya, mengaku bahagia tinggal di Australia.
Di Sydney misalnya, kata Sita, sanggup menentukan untuk hidup di lokasi yang banyak komunitas Muslimnya dan sepanjang mata memandang secara umum dikuasai ialah kaum Muslimin atau di lokasi-lokasi lain. Walau demikian, sambung Sita, ber-Islam di Australia sanggup dibilang memerlukan kepercayaan diri untuk tampil berbeda.

”Pertama datang di Australia saya tinggal dengan Paman yang tinggal di tempat Northern Beaches di Sydney yang Muslimnya masih sangat sedikit.”

Menuju tempat kuliah, ia memerlukan perjalanan 1,5 jam dengan transport umum dari rumah. Sepanjang perjalanan selalu bertemu orang Australia, gres bertemu warga Asia kalau sudah di tempat kota (Sydney City).

Sita mengaku tak jarang mendapatkan pertanyaan, ”Mengapa kau menutup kepala kamu? Apa kau tidak kepanasan, ini kan sedang trend panas? Kamu Islam liberal atau radikal?” ungkapnya getir.

Semua itu memuncak, sehabis insiden jatuhnya Twin Tower – September 11, tak usang ia menetap di Sydney. Ujiannya, sambung Sita, tak hanya sekadar ditanya mengenai hijab atau Islam tapi juga ujian kesabaran.

”Kebencian terhadap Islam memuncak ketika itu alasannya kebencian itu didasari oleh ketidaktahuan. Beberapa kali saya dimaki alasannya saya seorang Muslimah dan mereka tidak terima “saya” atau “kaum muslimin” menghancurkan the twin towers dan menjadikan banyak nyawa melayang.”

Sekali waktu di jalan, Sita disemprot dan dimaki orang-orang yang sedang naik kendaraan beroda empat padahal mereka tak mengenal Sita. Tetapi melalui semua ini, ia dan kawan-kawannya dalam the Islamic Society di University of New South Wales dan di pengajian Keluarga Pelajar Islam Indonesia (KPII) justru semakin dekat dengan satu sama lain dan semakin teguh kepercayaan Islamnya.

”Persaudaraan kami menjadi lebih erat dan kami jadi mencari tahu lebih lagi ihwal Islam terutama bagaimana cara terbaik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ihwal Islam dan berdakwah.”

Sita mengungkapkan, dua sahabat terdekatnya menggunakan jilbab waktu di Sydney. Di perusahaannya, awalnya hanya Sita yang menggunakan hijab. ”Alhamdulillah dalam dua tahun terakhir sudah ada dua Muslimah lain yang mengenakan hijab dan diterima bekerja di perusahaan saya. Semua itu ada hikmahnya. Alhamdulillah,” ungkapnya semringah.

Di Sydney selain bekerja, Sita mengajar belum dewasa di salah satu TPA, bantu-bantu di kepengurusan Masjid Al Hijrah dan kini mencar ilmu tajwid dan hafalan Al Qur’an.

Sita bersyukur, banyak masjid yang menyelenggarakan kegiatan agama ibarat ceramah Sabtu malam atau pun ceramah Jum’at. Ada juga TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang di Australia dikenal sebagai Saturday School. ”Juga ada organisasi kemasyarakatan dan institusi pendidikan yang menyelenggarakan mencar ilmu agama baik secara gratis ataupun membayar.”

Ia mengakui, suasana ber-Islam di Australia sangat terasa terutama di bulan Ramadhaan. ”Masjid-masjid menyelenggarakan i’tikaf terutama di 10 hari terakhir. Banyak mitra yang mengambil cuti di 10 hari terakhir supaya sanggup memaksimalkan ibadah.”

Masjid Al Hijrah, Tempat Sita aktif membantu, biasanya mengundang ustadz dari Indonesia mengisi kegiatan sepanjang bulan Ramadhaan. ”Masjid lainnya, ada juga yang mengundang sheikh dari negara lain.”

Jum’at, Sabtu dan Ahad malam di bulan Ramadhan, kata Sita, biasanya penuh dengan iftar (buka puasa) di masjid atau iftar fund-raising untuk banyak sekali kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Pernah juga ada iklan billboard ihwal Islam beberapa waktu lalu.

Aktivitas Sita dalam kegiatan TPA di Sydney memperlihatkan pengalaman menarik baginya. Siswanya mulai usia 2.5 tahun, yang awalnya tidak tahu apa-apa ihwal agama dan mencar ilmu sambil main-main atau lari-lari alasannya usianya memang usia bermain, berubah menjadi ingin mencar ilmu dan selalu menunggu-nunggu waktu shalat.

”Pernah ketika perubahan waktu shalat, belum dewasa yang biasanya shalat dulu gres makan siang jadwalnya diganti menjadi makan siang dulu kemudian shalat. Saat disajikan makan siang beberapa dari mereka impulsif bilang “kita kan belum shalat. Makannya sehabis shalat saja.”

Yang menarik, sambung Sita, semangat mencar ilmu para siswanya akhrinya menarik orang tuanya untuk lebih serius mencar ilmu agama.

”Saat belum dewasa belajar, ibu-ibu yang menunggu pun mengaji. Anak dan ibu kadang berlomba untuk sanggup membaca Al Qur’an. Sungguh suatu keberkahan sanggup menyaksikan dan terlibat dalam perubahan baik ini,” ungkapnya penuh syukur.

Sita menuturkan, dari banyak sekali observasi menyebutkan, dakwah terbaik ialah melalui amal perbuatan. Kawan-kawannya non-Muslim menyampaikan sikap umat Muslim membentuk persepsi mereka akan Islam.

Selain aktif membina di TPA, Sita dan teman-teman Muslim di Australia juga sering berdakwah melalui kegiatan sosial ibarat Feed the Homeless (Memberi makan para tunawisma, Clean-Up Australia Day dan kegiatan lainnya.[Republika]

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Salma Cook: Sosok Rasulullah Membuatku Berpikir


                Selma Cook rutin menghadiri kebaktian gereja setiap pekannya. Meski rutin, ia justru menghindari masuk sekolah agama. Tapi itu, tidak mengurangi kepercayaannya terhadap Allah swt.
"Aku lebih percaya kepada Tuhan ketimbang Yesus. Yang saya yakini, Yesus tak lebih menyerupai Nabi," kata dia menyerupai dilansir onislam.net, Senin (24/2).

                Itu sebabnya, pendalaman agama Selma lebih banyak bagaimana ia berkomunikasi dengan Tuhan. Ia mengasihi Yesus, tapi dalam pikirannya, doa secara pribadi kepada Tuhan membuatnya merasa nyaman.

                Mulai usia 14 tahun, Selma memutuskan tidak lagi pergi ke gereja. Ia merasa tidak sanggup mendapatkan fatwa gereja. "Apa yang saya dengar tidak membawaku lebih baik," kata dia.

                Suatu hari, Selma bertemu seorang imigran asal Lebanon, dia seorang Muslim. Bersama Nadia, nama imigran tersebut, Selma banyak berdiskusi wacana Islam. Sebelumnya, Selma memang banyak mendengar wacana Islam dikala ia berada di dingklik kuliah.

"Aku biasa mengunjunginya. Banyak hal yang saya tanyakan soal Islam kepada Nadia." kata dia.

                Satu pertanyaan dikemukannya, apakah benar Muhammad ialah Nabi penutup.  Selma mengaku, ia belum pernah mendengar wacana itu sebelumnya. "Jawaban Nadia membuatku berpikir. Selama bertahun-tahun saya membaca buku wacana beliau," kata dia.

                Masa itulah, momentum Salma untuk memeluk Islam. Banyak tantangan yang dihadapinya dikala itu. Termasuk, bagaimana mempraktekan Islam dengan benar. Ia menyadari pemahamannya wacana Islam masih dangkal.

                Ia mulai mendalami Islam dikala berada di Sydney, Australia. Banyak hal yang ia pelajari, termasuk bagaimana tata cara berpakaian seorang Muslim. Bagaimana tata cara shalat dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

"Sampai kini saya terus berguru menjadi Muslim yang sempurna, Insya Allah swt." kata dia

Sumber: Republika

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Balasan Mengerikan Bagi Pencela Sahabat Nabi


Pelajaran Mengerikan bagi para pencela Sahabat Nabi -shallallahu alaihi wasallam-

Izzuddin Yusuf Al-Mushili mengisahkan:
Dulu kami punya teman, namanya: Asy-Syams Ibnul Hasyisyi, ia biasa MENCELA Sahabat Abu Bakar dan Umar -radliallahu anhuma- dan ia hiperbola dalam hal itu…

Maka kukatakan kepadanya: “Ya Syams, sungguh jelek jikalau kau mencela mereka, apalagi kau sudah tua! Apa urusanmu dengan mereka, mereka sudah tiada semenjak 700 tahun, dan Allah swt berfirman (yang artinya): ‘Itulah umat yang telah lalu’!”.

Tapi tanggapan dia: “Demi Allah swt, demi Allah swt.. Abu Bakar, Umar, dan Utsman benar-benar di Neraka”.

Biografi Al-Hafizh Adz-Dzahabi

  


Nasab al-Hafizh adz-Dzahabi
Beliau ialah: al-Imam al-Hafizh, mahir sejarah Islam, Syamsuddin, Abu Abdillah, Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaimaz bin Abdullah at-Turkmani al-Fariqi asy-Syafi’i ad-Dimasyqi, yang populer dengan adz-Dzahabi.

Abu Hafsh, Mujahid Dari Bumi Syam




Kehidupan Abu Hafsh
Menurut penuturan beberapa orang terdekatnya, semenjak kecil Abu Hafsh (Umar Lathuf) ini sudah mempunyai adat yang mulia. Kesehariannya hampir tidak disibukkan dengan hal-hal melalaikan, tidak sebagaimana sobat sebayanya yang senang bermain.

Software Winshalat (Belajar Shalat)


               Terdapat Simulasi shalat wajib dari software ini ialah : Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib, ‘Isya
serta simulasi Dzikir setelah shalat wajib sesuai dengan setting yang dilakukan.

               Simulasi shalat yang dibentuk menurut buku Shifat Shalat Nabi karya seorang ulama Timur Tengah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Al Matsurat Ver 1.02

 
 
 
 
 
Alhamdulillah ikhwah fillah, sedikit menyebarkan aplikasi  berupa Tuntunan Doa-doa dan Dzikir Rasulullah SAW, yg dirangkum oleh Imam Hasan al Bana dikenal dengan Al Matsurat. Mudah-mudahan kita sanggup melazimkannya untuk berdzikir pagi dan petang di tengah-tengah kesibukan pekerjaan.


Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Tangisan Rasulullah Menggoncangkan Arasy



Dikisahkan, sebetulnya di waktu Rasulullah s.a.w. sedang asyik bertawaf di Ka’bah,
Beliau mendengar seseorang di hadapannya bertawaf, sambil berzikir: “Ya Karim! Ya
Karim!”

Alqamah Menjelang Ajalnya


Sahabat Anas ra berkata: di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang perjaka yang berjulukan Alqamah. Pemuda ini ulet beribadah, baik shalat, puasa maupun sedekah. Tiba-tiba dia sakit cukup berat, maka istrinya menyuruh orang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk memberitahu bahwa suaminya sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Bilal, Ali, Salman dan Ammar radhiyallahu ‘anhum supaya tiba ke kawasan Alqamah, melihat sebagaimana keadaannya.

Ketika hingga dirumah Alqamah, mereka masuk dan eksklusif menuntun Alqamah membaca Laa Ilaaha Illallah tetapi Alqamah tidak mampu  mengucapkan itu, mulutnya seakan terkunci. Ketika para sobat merasa bahwa Alqamah pasti akan menemui ajalnya, maka para sobat meminta sayyidina Bilal untuk melaporkan hal ini kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“apakah dia masih mempunyai ayah dan ibu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Ayahnya sudah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi sudah terlampau tua?” Jawab sayyidina Bilal.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta sayyidina Bilal untuk menemui ibu Alqamah untuk memberikan salam dan pesan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi “Jika kamu sanggup berjalan, pergilah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kalau tidak dapat, maka Rasulullah yang akan ke sini.”

Ketika pesan itu disampaikan kepada ibunya Alqamah, wanita itu berkata: “Sayalah yang lebih layak mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu wanita itu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mengucapkan salam, dia duduk di depan dia shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ceritakan kepadaku hal yang sebenarnya. Jika engkau berdusta kepadaku, pasti akan turun wahyu yang memberitakan kedustaan itu. Bagaimana keadaan Alqamah?”

“Ia rajin mengerjakan shalat, puasa, dan berinfak sebanyak-banyaknya. Sehingga tidak terhitung lagi berapa banyaknya.”

“Lalu bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“ia lebih mengutamakan istrinya daripada aku, ia berdasarkan kepada istrinya dan menentangku.” Jawab ibu Alqamah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Murka ibunya itulah yang mengunci pengecap Alqamah untuk mengucap laa ilaha illallah.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sayyidina Bilal untuk mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya untuk aben Alqamah.

“Ya Rasulallah, putraku, buah hatiku, akankah kamu bakar dengan api di depanku? Bagaimana hatiku sanggup menerimanya?” Kata ibu Alqamah.

“Hai ibu Alqamah, siksa Allah swt lebih berat dan lebih kekal. Oleh alasannya yakni itu, kalau engkau menghendaki supaya Allah swt mengampuni anakmu, maka ikhlaskanlah dia! Demi Allah swt yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, tidak akan mempunyai kegunaan shalat, puasa, dan sedekahnya selama engkau masih marah kepadanya,”kata Rasulullah kepadanya.

Lalu ibu Alqamah mengangkat tangan.

“Ya Rasullallah, saya persaksikan kepada Allah swt dan engkau ya Rasulallah dan siapa yang hadir di kawasan ini, bahwa saya telah ridha kepada Alqamah,” katanya.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sobat Bilal untuk mengetahui keadaan Alqamah, apakah sudah mengucapkan laa ilaahai illallah atau belum. Karena khawatir ucapan ibunya Alqamah tidak dari hati tetapi dimulut belaka.

Seketika sayyidina Bilal berada di pintu rumah Alqamah, dia mendengar Alqamah mengucapkan laa ilaaha illallah. Lalu sayyidina Bilal berkata: “ Hai sekalian manusia, sesungguhnya marah ibu Alqamah itulah yang menutup lidahnya untuk mengucapkan syahadat, dan sekarang lidahnya telah bebas.”

Maka meninggallah Alqamah pada hari itu.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya Alqamah segera dimandikan dan dikafani, kemudian dishalati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesudah dikubur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di tepi kubur sambil berkata yang artinya:
“Wahai sobat Muhajirin dan Anshar, siapa yang mengutamakan istri daripada ibunya maka dia terkena kutukan (la’nat) Allah swt, malaikat, dan insan semuanya. Bahkan Allah swt tidak mendapatkan darinya ibadah baik yang fardhu maupun yang sunnat. Kecuali kalau bertaubat benar-benar kepada Allah swt, berbuat baik kepada ibunya, dan minta keridhaannya. Sebab ridha Allah swt tergantung  pada ridha Ibu, dan marah Allah swt juga terletak pada marah ibu.”

Semoga menjadi renungan untuk kita semua untuk mematuhi orangtua,,,
Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ini Tidak Mungkin! Muhammad Niscaya Memakai Mikroskop


                DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM yakni Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal alasannya yakni literaturnya perihal mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.
                Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling terkenal dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga dipakai oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

                Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan tumpuan al-Qur’an perihal ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, kemudian sang Profesor melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, alasannya yakni apa yang terkandung di dalam ayat tersebut yakni fakta ilmiah yang gres diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad niscaya memakai mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut kemudian berkata, “Prof, bukankah dikala itu Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya aku tau. Saya hanya bercanda, mustahil Muhammad yang mengarang ayat mirip ini,” jawab sang profesor.

***
                “Kemudian Kami mengakibatkan air mani (yang disimpan) dalam daerah yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), kemudian sesuatu yang menempel itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah swt Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

                Jika di cermati lebih dalam, bersama-sama ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.

                Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih sempurna ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang menempel dan menggelantung di kulit.

                Embrio itu mirip menghisap darah dari dinding Uterus, alasannya yakni memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis mirip lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya yakni dari sari kuliner yang terdapat dalam darah sang ibu.

                Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jikalau di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar mirip lintah. Dan hal itu tidak mungkin jikalau Muhammad sudah mempunyai pengetahuan yang begitu dahsyat perihal bentuk janin yang mirip lintah kemudian menulisnya dalam sebuah buku.

                Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu yakni pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah swt SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.

                Ayat tersebutlah yang menciptakan sang profesor hasilnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya alasannya yakni Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bab yang selama ini menciptakan sang profesor gusar. Ia merasa bahan yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.
Sumber : www.islampos.com

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Penganiayaan Di Burma, Bukan Oleh Umat Budha, Melainkan Sebab Pola-Pikir Darwinis


Pergumulan antara kaum beriman dan yang tak beriman terus berlangsung di sepanjang sejarah. Semua kontradiksi dan perbedaan ideologi di dunia berlandaskan pada perang intelektual dan perang ideologi di antara kedua kutub ini.

Azab Yang Dilihat Penggali Kubur


 

 Terdapat seorang cowok yang kerjanya yaitu menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, cowok tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan impian untuk bertaubat kepada Allah swt s.w.t.

Dia berkata, “Sepanjang saya menggali kubur untuk mencuri kain kafan, saya telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran saya merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.” Yang pertama, saya lihat mayit yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila saya menggali semula kuburnya pada waktu malam, saya lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya cowok itu.

Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah swt s.w.t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah swt s.w.t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab andal ibadah tersebut.

Sambung cowok itu lagi, “Golongan yang kedua, saya lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari saat saya menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

Jawab andal ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika tepat solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang saya lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan menyerupai biasa sahaja. Pabila saya menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.”

Jawab andal ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas andal ibadah itu lagi.

Golongan keempat, ku lihat mayit yang jasadnya bertukar menjadi kerikil lingkaran yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

Jawab andal ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan insan yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah swt s.w.t. sama sekali tidak redha kepada insan yang menderhakai ibu bapanya.”

Ku lihat ada pula mayit yang kukunya amat panjang, sampai membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung cowok itu.

Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” terang andal ibadah tersebut.

Wahai guru, golongan yang keenam yang saya lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam saat saya menggali semula kubur itu, ku lihat mayit tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab andal ibadah tadi.

Wahai guru, golongan yang terakhir yang saya lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya cowok itu lagi.

Jawab andal ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan insan yang berilmu. Dan mereka berinfak pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah swt s.w.t. baik sewaktu hayatnya mahupun setelah matinya.” Ingatlah, bahwasanya daripada Allah swt s.w.t kita tiba dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

Setelah anda membaca cerita ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rakan-rakan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah swt Taala di Akhirat kelak.
Amin...
 sumber: http://zilzaal.blogspot.com

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ummu Fadhl (Istri Al-'Abbas Paman Nabi)

Nama ia yaitu Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau yaitu Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl) dan juga dengan namanya mereka kenal. Ibu dari Lubabah r.ha yaitu Khaulah binti `Auf al-Qurasyiyah. Ummu Fadhl yaitu salah satu dari empat perempuan yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah SAW. Keempat perempuan tersebut yaitu Maimunah, Ummu Fadhl, Asma` dan Salma.

Adapun Maimunah yaitu Ummul Mukminin r.ha saudara kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma` dan Salma yaitu kedua saudari dari jalan ayahnya alasannya keduanya yaitu putri dari `Umais.

Ummu Fadhl r.ha yaitu istri dari Abbas, paman Rasulullah SAW., dan ibu dari enam orang yang mulia, pintar dan belum ada seorang wanitapun yang melahirkan pria semisal mereka. Mereka yaitu Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma`bad, Qatsam dan Abdurrahman. Tentang Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,
Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka
Yang saya lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl
Putra dari dua orang renta yang mulia
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul


Ummu Fadhl r.ha masuk Islam sebelum hijrah, ia yaitu perempuan pertama yang masuk Islam sesudah Khadijah (Ummul Mukminin r.ha) sebagaimana yang dituturkan oleh putra ia Abdullah bin Abbas, "Aku dan Ibuku yaitu termasuk orang-orang yang tertindas dari perempuan dan anak-anak."

Ummu Fadhl termasuk perempuan yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah SAW., terkadang mengunjungi ia dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhl yaitu seorang perempuan yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si musuh Allah swt dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, "Abu Rafi` budak Rasulullah saw berkata, ‘Aku pernah menjadi budak Abbas, saat Islam tiba maka Abbas masuk Islam disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya.

Abu Lahab tidak sanggup menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.

Tatkala tiba kabar wacana peristiwa alam yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah swt telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab, maka sebaliknya kami mencicipi adanya kekuatan dan `izzah pada diri kami. Aku yaitu seorang pria yang lemah, saya bekerja menciptakan gelas yang saya pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah swt suatu saat saya duduk sedangkan di dekatku ada Ummu fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang hingga kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, "Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah tiba dari Badar. Abu Lahab berkata, "Datanglah kemari sungguh saya menanti beritamu.

Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, "Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan insan (dalam perang Badar).?" Abu Sufyan berkata, "Demi Allah swt tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah swt sekalipun demikian tatkala saya menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok pria yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah swt mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.”

Abu Rafi` berkata, "Aku mengangkat watu yang berada di tanganku, kemudian berkata, ‘Demi Allah swt itu yaitu malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul saya dengan pukulan yang keras, maka saya telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan saya dan memukuliku sedangkan saya yaitu pria yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl mengambil sebuah tiang dari watu kemudian ia pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl berkata, ‘Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.’

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah swt ia tidak hidup sesudah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah swt menimpakan kepadanya penyakit infeksi yang menjadikan kematiannya.”

Begitulah perlakuan seorang perempuan mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah swt sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya lantaran ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat Ummu Fadhl r.ha sebagai teladan bagi para perempuan yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa`d menyebutkan di dalam ath-Thabaqat al-Kubra bahwa Ummu Fadhl suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah SAW, ia berkata, "Wahai Rasulullah saya bermimpi seakan-akan sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku." Rasulullah SAW., bersabda:,
"Mimpimu bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak pria yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”

Ummu Fadhl keluar dengan membawa kegembiraan lantaran gosip tersebut, dan tidak berselang usang Fatimah melahirkan Hasan bin Ali RA., yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl.

Ummu fadhl berkata, "Suata saat saya mendatangi Rasulullah SAW., dengan membawa bayi tersebut maka Rasulullah SAW., segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah SAW., kemudian ia bersabda, "Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini lantaran dia telah mengencingiku."

Ummu Fadhl berkata, "Maka saya ambil bayi tersebut dan saya cubit sehingga dia menangis, saya berkata, "Engkau telah menyusahkan Rasulullah lantaran engkau telah mengencinginya." Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah SAW., bersabda, "Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku dikarenakan telah menciptakan anakku menangis." Kemudian Rasulullah SAW., meminta air kemudian ia percikkan ke daerah yang terkena air kencing kemudian bersabd,
"Jika bayi pria maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi perempuan maka cucilah.”

Di dalam riwayat lain, Ummu Fadhl berkata, "Lepaslah sarung anda dan pakailah baju yang lain supaya saya sanggup mencucinya." Namun nabi bersabda,
"Yang dicuci hanyalah air kencing bayi perempuan dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi laki-laki.”

Di antara kejadian yang mengesankan Lubabah binti al-Haris r.ha yaitu tatkala banyak orang bertanya kepada ia saat hari Arafah apakah Rasulullah SAW., shaum ataukah tidak.? Maka dengan kebijakannya, ia menghilangkan persoalan yang menimpa kaum muslimin dengan cara ia memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah SAW., tatkala ia berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah SAW., dengan dilihat oleh semua orang ia mendapatkan segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Di sisi yang lain Ummu Fadhl r.ha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah SAW., dan ia meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari ia yaitu sang putra ia Abdulllah bin Abbas RA., Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik dan yang lain-lain.

Kemudian wafatlah Ummu Fadhl r.ha pada masa khalifah Ustman bin Affan r.a sesudah meninggalkan kepada kita teladan yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas, kyai umat ini dan Turjumanul Qur`an (yang andal dalam hal tafsir al-Qur`an), Begitu pula telah menunjukkan teladan terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang bisa menjatuhkan musuh Allah swt yang paling keras permusuhannya.

(Sumber: Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly, et.ali., h.228-233, penerbit at-Tibyan)

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Khaulah Binti Tsa’Labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)


Beliau yaitu Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai perempuan yang fasih dan pandai.

'Abdullah Bin Hudzafah As-Sahmiy -Radhiallaahu 'Anhu-


‘Abdullah Ibn Hudzafah yaitu salah seorang panglima yang memimpin penaklukan negeri Syam. Ia diberi kiprah untuk menyerbu penduduk (kekaisaran) kota Palestina al-Hushainah yang terletak dipesisir pantai Laut Tengah.

Ummu Haram Binti Malhan (Wanita Yang Syahid Di Laut)


Beliau yaitu Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghannam bin Adi bin Nazar al-Anshariyah an-Najjariyyah al-Madaniyyah.

Beliau yaitu saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Beliau yaitu istri dari sahabat yang agung yang berjulukan Ubadah bin ash-Shamit. Kedua saudaranya yaitu Sulaim dan Haram;

Asma` Binti 'Umais


Beliau yaitu Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-Haris bin Ka`ab Bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Ubdillah. Beliau yaitu termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah menerima pengakuan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: "Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma" .

Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah al-Arqam. Beliau yaitu istri jagoan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib, sahabat yang mempunyai dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau.

Ummu Sulaim Binti Malhan (Wanita Dengan Mahar Paling Mulia)


Beliau berjulukan Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau ialah seorang perempuan yang mempunyai sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya dongeng yang baik ditujukan kepada ia dan setiap lisan memuji atasnya.

Asma` Binti Yazid Bin Sakan (Ahli Pidato Kaum Wanita)


Beliau ialah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.

Beliau ialah spesialis hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, mempunyai kecerdasan, dien yang cantik dan hebat argumen, sehingga dia menjuliki sebagai “juru bicara wanita”.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` ialah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya.

Maimunah Binti Al-Harits Radhiallaahu 'Anha


Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas. Beliau ialah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.

Beliau termasuk pemuka kaum perempuan yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya dan kemuliaannya. Pada mulanya dia menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam sebagaimana beliau. Namun dia banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummul Fadhl sehingga mendengar sebagian kajian-kajian Islam perihal nasib dari kaum muslimin yang berhijrah. Sampai kabar perihal Badar dan Uhud yang mana hal itu menimbulkan bekas yang mendalam dalam dirinya.

Tatkala tersiar isu kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan dikala itu Maimunah berada didalam rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut bahagia dan sangat bergembira. Namun manakala dia pulang ke rumah suaminya ternyata dia mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita alasannya kemenangan kaum muslimin. Maka hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan perceraian. Maka dia keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.

Ketika telah tiba waktu yang telah di menetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan masuk Mekkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya. Pada hari itu kaum muslimin masuk Mekkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya dengan hening tanpa ada rasa takut. Benarlah kesepakatan yang haq dan terdengarlah bunyi orang-orang mukmin membahana,”Labbaikallâhumma Labbaika Labbaika Lâ Syarîka Laka Labbaik…”. Mereka mendatangi Mekkah dalam keadaan tertunda sehabis beberapa waktu bumi Mekkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka bubuk tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju bukit-bukit dan gunung-gunung alasannya mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan para sahabatnya kembali ke Mekkah dengan terang-terangan, kekuatan dan penuh wibawa. Yang tersisa hanyalah para pria dan perempuan yang menyembunyikan keimanan mereka sedangkan mereka mengimani bahwa pinjaman sudah dekat.

Maimunah ialah salah seorang yang menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan bunyi yang keras penuh keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan akan tetapi dia ingin semoga sanggup masuk Islam secara tepat dengan penuh Izzah (kewibawaan) yang tulus semoga terdengar oleh semua orang perihal keinginannya untuk masuk Islam. Dan diantara harapannya ialah kelak akan bernaung di bawah atap Nubuwwah sehingga dia sanggup minum pada mata air semoga memenuhi perilakunya yang haus akan aqidah yang istimewa tersebut, yang alhasil merubah kehidupan dia menjadi seorang pemuka bagi generasi yang akan datang. Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu fadhl dengan suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu sedikitpun Abbas perihal hal itu bahkan dia bersegera menemui Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi menerimanya dengan mahar 400 dirham. Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah ialah seorang perempuan yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat dari Allah swt Tabaraka Ta’ala (artinya) :

“….Dan perempuan mukmin yang menyerahkan diri kepada Nabi kalau Nabi mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin….”( al-Ahzab: 50)

Ketika sudah berlalu tiga hari sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan: ”Telah habis waktumu maka keluarlah dari kami”. Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ramah:

“Bagaimana berdasarkan kalian kalau kalian bairkan kami dan saya marayakan pernikahanku ditengah-tengah kalian dan kami suguhkan kuliner untuk kalian???!”

Maka mereka manjawab dengan kasar: ”Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri kami!”.

Sungguh ada rasa keheranan yang disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam di Mekkah, yang mana kedatangan dia meninggalkan kesan yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti Harits, dia tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu dia daftarkan dirinya menjadi istri Rasul Shallallâhu ‘alaihi wa sallam sehingga membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengadakan walimatul ‘Urs dirinya dengan Maimunah di Mekkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Mekkah. Tatkala hingga disuatu daerah yang disebut ”Sarfan” yang beranjak 10 mil dari Mekkah maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah radhiallaahu 'anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.

Mujahid berkata:”Dahulu namanya ialah Bazah namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Maimunah. Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang suci sebagaimana cita-citanya yang mulai, yakni menjadi Ummul Mukminin yang utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, mendengar dan ta’at, setia serta ikhlas. Setelah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga 50 tahunan. Semuanya dia jalani dengan baik dan takwa serta setia kepada suaminya penghulu anak Adam dan seluruh insan yakni Muhammad bin Abdullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hingga, alasannya kesetiaannya kepada suaminya, dia berpesan semoga dikuburkan di daerah dimana dilaksanakan Walimatul ‘urs dengan Rasulullah.

‘Atha’ berkata:”Setelah dia wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata:”Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka kalian janganlah menggoncang-goncangkan atau menggoyang-goyangkan”. Beliau juga berkata:”Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya alasannya dia ialah ibumu”.

Berkata ‘Aisyah sehabis wafatnya Maimunah: ”Demi Allah swt! telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat sekehendaknya. Adapun, demi Allah swt! dia ialah yang paling takwa diantara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim”.

Keselamatan semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan efek yang besar dalam merubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju dienullah menyerupai Khalid dan Amru bin ‘Ash radhiallaahu 'anhu dan semoga Allah swt meridhai para sobat seluruhnya.[alsofwah]
Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Juwairiyah Binti Al-Harits Radhiallaahu 'Anha


Beliau ialah Juwairiyah Binti al-Harits Bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyyah.

Beliau ialah secantik-cantik seorang wanita. Beliau termasuk perempuan yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada dikala perang Muraisi’.

Hasil Undian Juwairiyyah ialah bab untuk Tsabit Bin Qais bin syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyyah berumur 20 tahun. Dan alhasil dia selamat dari kehinaan sebagai tawanan/rampasan perang dan kerendahannya.

Zainab Binti Jahsy Radhiallaahu 'Anha


Dia yaitu Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya'mar. Ibu ia berjulukan Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam . Pada mulanya nama ia yaitu Barra', namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, ia diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam melamarnya untuk budak ia yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, "Aku rela Zaid menjadi suamimu". Maka Zainab berkata: "Wahai Rasulullah akan tetapi saya tidak berkenan bila dia menjadi suamiku, saya yaitu perempuan terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka saya tidak mau melaksanakannya.

Ummu Habibah, Ramlah Binti Bubuk Sufyan

Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untuk mengkaji perjalanan hidup sayyidah yang agung ini, supaya mereka menyadari betapa jauhnya perbandingan antara mereka dengan generasi awal yang keluar dari madrasah nubuwwah, sehingga mereka mengetahui betapa efek kepercayaan itu sangat menakjubkan pada jiwa mereka yang menyambut panggilan Allah swt dan Rasul-Nya. Hingga mereka menjadi lentera yang menebarkan petunjuk dan cahaya. Dan di antara lentera tersebut yaitu Ummul Mukminin, Ramlah binti Abu Sufyan seorang pemuka Quraisy dan pimpinan orang-orang musyrik hingga Fathu Makkah. Akan tetapi Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dia untuk kafir ketika itu. Dan Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya supaya putrinya tetap dalam keadaan kafir. Justru dia memperlihatkan kuatnya pendirian dan mantapnya kemauan. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan beban yang berat karena memperjuangkan aqidahnya.

Pada mulanya dia menikah dengan Ubaidullah bin jahsy yang Islam menyerupai beliau. Tatkala kekejaman orang-orang kafir atas kaum muslimin mencapai puncaknya, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Dan disanalah dia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah dan dengan nama anaknya inilah dia dijuluki (Ummu Habibah).

Ummu Habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban karena memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman bahkan terjadi petaka yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita:

"Aku melihat didalam mimpi, suamiku Ubaidullah bin Jahsy dengan bentuk yang sangat jelek dan menakutkan. Maka saya terperanjat dan terbangun, kemudian saya memohon kepada Allah swt dari hal itu. Ternyata tatkala pagi, suamiku telah memeluk agama Nasrani. Maka saya ceritakan mimpiku kepadanya namun dia tidak menggubrisnya".

Si murtad yang celaka ini mencoba dengan segala kemampuannya untuk membawa istrinya keluar dari diennya namun Ummu Habibah menolaknya dan dia telah mencicipi lezatnya iman. Bahkan dia justru mengajak suaminya supaya tetap didalam Islam namun dia malah menolak dan membuang jauh permintaan tersebut dan dia semakin asyik dengan khamr. Hal itu berlangsung hingga dia mati.

Hari-hari berlalu di bumi hijrah sementara dirinya berada dalam dua ujian; pertama, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Kedua, ujian karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Akan tetapi dia dengan keimanan yang lapang dada yang telah Allah swt karuniakan kepadanya, bisa menghadapi ujian berat tersebut.Beliau wujudkan firman Allah swt (artinya):

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah swt pasti Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memperlihatkan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah swt pasti Allah swt akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah swt melakukan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah swt telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".(ath-Thalaq:2-3).

Allah swt berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru dia: "Wahai Ummul Mukminin….!". Maka dia terperanjat dan terbangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.

Setalah simpulan masa 'iddahnya, tiba-tiba ada seorang jariyah dari Najasyi yang memberitahukan kepada dia bahwa dirinya telah dipinang oleh pimpinan semua insan seutama-utama shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada beliau. Alangkah bahagianya dia mendengar kabar besar hati tersebut hingga dia berkata: "Semoga Allah swt memperlihatkan kabar besar hati untukmu". Kemudian dia menanggalkan aksesori dan gelang kakinya untuk diberikan kepada Jariyah (budak wanita) yang membawa kabar tersebut saking senangnya. Kemudian dia meminta Khalid bin Sa'ad bin al-'Ash untuk menjadi wakil baginya supaya mendapatkan lamaran Najasyi yang mewakili Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk menikahkan dia dengan Ummu Habibah sehabis Rasulullah mendapatkan kabar perihal keadaan dia dan ujian yang dia hadapi dalam menapaki jalan diennya. Sedangkan tiada seorangpun yang menolong dan membantu dirinya. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Selanjutnya Raja Najasyi berkata:

"Segala puji bagi Allah swt Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah swt dan saya bersaksi bahwa Muhammad yaitu utusan Allah swt yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam 'alaihissalaam .

Amma ba'du, Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah mengirim surat untukku untuk melamarkan Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan Ummu Habibah telah mendapatkan lamaran Rasulullah, adapun maharnya yaitu 400 dinar". Kemudian dia letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.

Kemudian Khalid bin Sa'id berkata:"Segala puji bagi Allah swt, saya memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, saya bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah swt dan bahwa Muhammad yaitu hamba dan utusan-Nya, yang Allah swt mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.

Amma ba'du, saya terima lamaran Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan saya nikahkan dia dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah swt memberkahi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan dinar tersebut kepada Khalid bin Sa'id kemudian dia terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: "Kami persilahkan anda untuk duduk karena bergotong-royong sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan".

Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dengan karena apa saya harus bergembira,karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja'far?"

Sedangkan Ummu Habibah bersama rombongan yang datang. Maka bertemulah Rasululah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengannya pada tahun keenam atau ketujuh hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun dikala menduduki sebagai bintang berseri diantara istri-istri dia dan jadilah dia Ummul Mukminin.

Ummu Habibah menempatkan urusan dien pada kawasan yang pertama, dia utamakan aqidahnya daripada famili. Beliau telah mengumandangkan bahwa loyalitas dia yaitu untuk Allah swt dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya. Hal itu dibuktikan perilaku dia terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya tersebut masuk ke rumah dia sedangkan dia ketika itu telah menjadi istri Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam di Madinah. Sang ayah tiba untuk meminta proteksi kepada dia supaya menjadi mediator antara dirinya dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah, maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: "Wahai putriku saya tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau malarang saya duduk diatasnya?". Beliau menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: "Ini yaitu tikar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam sedangkan engkau yaitu orang musyrik yang najis, saya tidak ingin engkau duduk diatas tikar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam". Abu Sufyan berkata:"Demi Allah swt engkau akan menemui hal jelek sepeningalku nanti". Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri: "bahkan semoga Allah swt memberi hidayah kepadaku dan juga kepada anda wahai ayah, pimpinan Quraisy, apa yang menghalangi anda masuk Islam? sedangkan engkau menyembah watu yang tidak sanggup melihat maupun mendengar!!". Maka Abu Sufyan pergi dengan murka dan membawa kegagalan.

Sungguh dia berhak menyandang segala kebesaran dan keagungan sebagai Ummul Mukminin, Ummu Habibah radhiallaahu 'anhuma. Seandainya para perempuan itu menyerupai dia pasti hasilnyapun menyerupai yang terjadi pada beliau.

Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A'la, Ummu Habibah melazimi rumahnya. Beliau tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat dan dia tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafat yang di tunggu-tunggu tatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat sehabis memperlihatkan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat atasnya, tinggi dan mulya jauh dari efek jahiliyah dan tidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya, semoga Allah swt meridhainya.[alsofwah]

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ummu Salamah Radhiallaahu 'Anha



Beliau yaitu Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya yaitu putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan populer dengan kedermawanannya.

Ayahnya dijuluki sebagai "Zaad ar-Rakbi " yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian sebab apabila dia melaksanakan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak sahabat dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya.

Mengembalikan Jatidiri Parpol Islam


Hasil hitung cepat (quick count) pileg 2014 dari banyak sekali forum menawarkan hasil yang mirip. Dari hasil rataan quick count dari enam forum (LSI, Cyrus Network-CSIS, Indikator, Kompas, RRI, Populi Center), total bunyi parpol Islam dan yang berbasis massa Islam hanya 31,64% (yaitu PKB 9,18%, PKS 6,76%, PAN 7,52%, PPP 6,67% dan PBB 1,5%).

Membaca Dan Menyentuh Al Qur-An Ketika Berhadats

Al Qur-an yaitu penyejuk hati orang yang beriman, cahaya yang menerangi dadanya, penghilang kegelisahan dan kegundahan. Di dalamnya ada perangai-perangai iman, hukum-hukum yang adil dan kisah-kisah yang mengandung pelajaran berharga bagi orang-orang yang berakal. Sulit rasanya berpisah dengan Al Qur-an, meski hanya sekejap. Sempit dan hampa rasanya hidup tanpa Al Qur-an.

[A] - Keutamaan Membaca Al Qur-an

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang membaca sepuluh ayat dalam satu malam, dia tidak dianggap sebagai orang-orang yang lalai.” [HR. Al-Hakim, dia menilai hadits ini shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. At Targhib wat-Tarhib, no. 2089]

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy rahimahullah berkata:

“Siapa yang mempunyai mushaf (Al Qur-an) selayaknya membaca Al Qur-an setiap hari beberapa ayat yang ringan (tidak banyak) supaya Al Qur-an tidak menjadi sesuatu yang ditinggalkan.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 68]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga berkata:

“Termasuk sebesar-besar amalan yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah swt Ta’ala dari amalan-amalan Sunnah (Nafilah) yaitu memperbanyak membaca Al Qur-an, mendengarnya dengan tafakkur (perenungan), tadabbur (penghayatan) dan tafahhum (pemahaman).” [Jami’ Al ‘Ulum wal-Hikam]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Siapa menjaga shalat lima waktu, dia tidak dianggap sebagai orang-orang yang lalai dan siapa yang membaca 100 ayat dalam satu malam, dia dianggap sebagai qanitiin (ahli ibadah).”[HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim, dia menilai hadits ini shahih sesuai dengan syarat Imam Al Bukhari dan Muslim]

Hanya saja, jangan hanya berhenti hingga membaca Al Qur-an tanpa mempelajarinya dan mengamalkan pemikiran Al Qur-an, lantaran Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk ke jalan yang lurus, sehingga tidak cukup hanya membaca huruf-hurufnya.

Dari An Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيامَةِ بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كانُوا يَعْمَلُوْنَ بِهِ فِي الدُّنْيا تَقَدَّمَهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرانَ تَحاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Pada Hari Kiamat akan didatangkan Al Qur`an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan yaitu Surah Al Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” [HR. Muslim, no. 805]

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“… Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, bahwa siapa yang membaca Al Qur-an dan mengamalkan (isi)-nya kelak dikala tiba Hari Kiamat Surat Al Baqarah dan Ali ‘Imran berada di depannya. Keduanya membela orang yang membaca dan mengamalkan (isi)-nya di Hari Kiamat. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits ini mengaitkan: ‘membaca Al Qur-an’ dengan ‘mengamalkan (isi)-nya’.

Karena, orang-orang yang membaca Al Qur-an terbagi menjadi dua golongan, (yaitu):

(1) - Golongan yang tidak mengamalkan (isi) Al-Qur’an.

Dia tidak mengimani khabar-khabar Al Qur-an, tidak melaksanakan hukum-hukumnya, maka Al Qur-an menjadi musuh mereka.

(2) - Golongan lain, (yang) mengimani khabar-khabar Al Qur-an.

(Mereka) membenarkan dan mengamalkan hukum-hukumnya, maka Al Qur-an menjadi pembela yang membela mereka di Hari Kiamat.

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al Qur-an itu sanggup menjadi pembelamu, atau musuh bagimu.” [Syarh Riyadhish Shalihin, Juz 4, hal. 236]

Sungguh, Allah swt mencela orang-orang yang meninggalkan Al Qur-an. Allah swt Ta’ala berfirman:

(( وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا ))

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sebenarnya kaumku mengakibatkan Al Qur-an itu sesuatu yang tidak diacuhkan (ditinggalkan).” [QS. Al Furqan, 30]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Orang-orang musyrik (dahulu), jikalau dibacakan Al Qur-an, mereka memperbanyak suara-suara dan berbicara ihwal selainnya, hingga mereka tidak mendengar Al Qur-an. (Hal) ini termasuk meninggalkan Al Qur-an.

Tidak mempelajarinya, tidak menghafalnya juga termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mengimani Al Qur-an dan (tidak) membenarkannya, termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mentadabburinya dan (tidak) berusaha memahaminya, termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mengamalkan (isi) Al Qur-an, tidak melaksanakan perintah-perintahnya dan tidak meninggalkan larangan-larangannya termasuk meninggalkan Al Qur-an.

Berpaling dari Al Qur-an dan pindah kepada selain Al Qur-an, baik berupa sya’ir, perkataan, nyanyian, permainan yang melalaikan, percakapan, atau jalan (peraturan) yang diambil dari selain Al Qur-an, termasuk meninggalkan Al Qur-an.”

[B] - Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Membaca Al Qur-an, Ketika Berhadats Besar dan Sebab Terjadinya Perbedaan

Tidak ada yang mengingkari, bahwa seorang muslim yang membaca Al Qur-an dalam keadaan suci yaitu lebih utama. Ulama berbeda pendapat bagaimana, jikalau seorang yang sedang hadats besar membaca Al Qur-an.

‘Hadats’ yaitu sifat (bukan benda) dan tidak tampak yang melekat di tubuh seseorang dan menghalangi sahnya shalat dan ibadah lain yang disyaratkan bersuci padanya. Hadats ada dua, (yaitu): hadats kecil dan hadats besar. Hadats besar disebabkan ‘ihtilam (mimpi basah)’, korelasi suami istri, haid, maupun nifas.

Imam Ibnu Rusydi rahimahullah di dalam kitabnya ‘Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid’ berkata:

“Masalah yang ke tiga: Membaca Al Qur-an bagi orang yang junub (berhadats besar). Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama beropini dilarang melakukannya dan sebagian ulama beropini boleh. Sebab terjadinya perbedaan pendapat, yaitu adanya kemungkinan yang terlintas di hadits ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata:

‘Dahulu Nabi ‘alaihish shalatu wassalam tidak ada sesuatupun yang menghalanginya dari membaca Al Qur-an, kecuali janabah.’

Sisi perbedaannya, sebagian ulama berkata:

‘Perkataan ‘Ali bin Abi Thalib ini tidak terdapat konsekuensi apapun, lantaran ia hanyalah persangkaan perawi hadits. Dan darimana seseorang mengetahui, bahwa dia tidak membaca Al Qu-an lantaran janabah, kecuali jikalau memang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan hal itu?

Mayoritas ulama memandang, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tidak lah menyampaikan hal itu dari perkiraan, atau persangkaan, dia berkata menyerupai itu disertai keyakinan.

Sebagian ulama menyamakan perempuan haidh dalam hal perbedaan pendapat ini menyerupai orang junub.

Sebagian ulama membedakan antara keduanya, mereka membolehkan perempuan haidh membaca Al-Qur’an sedikit….”

Sehingga terperinci bagi kita, bahwa yang mengakibatkan ulama berbeda pendapat yaitu riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib yang kandungannya yaitu pemberitahuan, bahwa dikala junub (ber-hadats besar) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membaca Al Qur-an.

[C] - Keabsahan Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Karena yang menjadi lantaran perbedaan yaitu riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tersebut, maka yang pertama dilakukan yaitu meninjau keabsahan riwayat, sebelum mengambil kesimpulan hukum. Karena mengambil kesimpulan aturan dari suatu dalil sanggup dilakukan sehabis diketahui keabsahan dalil tersebut. Tentang keabsahan riwayat tersebut, ada ulama yang menilainya sebagai riwayat yang lemah dan ada yang menilainya kuat.

Dan riwayat ‘Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ini ada banyak redaksi, di antaranya,

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membacakan Al Qur-an kepada kami selama dia tidak junub.” [Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasaa-i]

Riwayat ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh At Tirmidzy. Dan sebagian ulama menganggapnya riwayat yang lemah.

Dan dalam redaksi yang lain ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang menghalanginya dari (membaca) Al Qur-an selain janabah.” [Riwayat At Tirmidzy, Abu Dawud, Ibnu Majah dan An Nasaa-i]

Riwayat ini dinilai lemah oleh para imam, diantaranya: Asy Syafi’i, Ahmad, Al Baihaqy dan Al Khaththaby begitu juga Syaikh Al Albany rahimahumullah.

[D] - Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Tidak Menunjukkan Haramnya Seorang yang Junub Membaca Al Qur-an

Seandainya kita menentukan pendapat yang menilai, bahwa riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yaitu riwayat yang kuat, inipun tidak menyampaikan haramnya seorang yang junub, maupun haidh membaca Al Qur-an. Karena apa yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu hanyalah khabar dari suatu perbuatan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak melarangnya secara tegas.

Imam Asy-Syaukany di dalam kitab ‘Nailul Authar’ berkata:

“Tidak ada di dalamnya sesuatu yang menyampaikan haramnya (seseorang yang junub membaca Al Qur-an), lantaran puncaknya hanyalah khabar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membaca Al Qur-an dikala junub. Dan yang menyerupai ini tidak sempurna dijadikan pegangan untuk (meyakini) makruh, maka bagaimana sanggup berdalil dengannya untuk mengharamkan?”

[E] – Hadits, Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Berdzikir di Setiap Kesempatan

Kita ketahui, bahwa membaca Al Qur-an termasuk dzikir, bahkan sebaik-baik dzikir. Dan salah satu nama Al Qur-an yaitu Adz Dzikr. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ber-dzikir di semua keadaan. Yaitu, keadaan selain dikala buang hajat (kecil maupun besar), atau jima’.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

“Rasulullah biasa menyebut nama Allah swt (dzikir) di semua keadaannya.” [HR. Muslim]

Inilah hadits yang dijadikan dalil ulama yang mengatakan, bahwa boleh seorang yang junub maupun perempuan haidh membaca Al Qur-an. Dan ini yaitu pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan yang populer dari pendapat Asy Syafi’i.

[F] - Menyentuh Mushaf

Ini juga dilema yang diperselisihkan para ulama ihwal boleh dan tidaknya. Dalil bagi mereka yang mengatakan, bahwa dilarang bagi perempuan haidh, maupun seorang yang junub menyentuh Al Qur-an yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak menyentuh Al Qur-an, kecuali orang suci.” [Majma’ Az Zawaid, Imam Al Haitsamy, Subulus Salam, Tahqiq Syaikh Al Albany]

Diantara ulama ada yang mengatakan, bahwa hadits ini tidak sanggup dijadikan dalil untuk mengharamkan menyentuh mushaf bagi perempuan haidh, maupun seorang yang junub. Karena kata (طاهر) ‘orang suci’ dalam Bahasa Arab meliputi beberapa makna:

1. Orang beriman yang suci dari hadats besar;
2. Orang beriman yang suci dari hadats kecil;
3. Orang beriman yang suci dari hadats besar maupun kecil;
4. Orang beriman yang di badannya tidak ada najis.

Karena masih banyak kemungkinan, maka belum sanggup dijadikan dalil untuk mengharamkan menyentuh mushaf bagi orang yang junub, maupun perempuan haidh. Orang beriman yang sedang berhadats besar juga dinamakan orang suci. Wanita beriman yang sedang haidh juga dinamakan orang suci .Yaitu, suci lantaran imannya, bukan orang kafir. Sehingga makna hadits adalah:

“Tidak menyentuh Al Qur-an, kecuali orang beriman.”

Maka yang dilarang menyentuh Al Qur’an yaitu orang kafir. Oleh lantaran itu, ada hadits shahih yang mengatakan, bahwa orang beriman itu tidak najis. Dan ini yaitu pendapat Dawud Azh Zhahiry, Ibnu Hazm dan dipilih Syaikh Al Albany dan Syaikh Mushthafa Al ‘Adawy.

Kesimpulannya, tidak mengapa seorang yang junub, maupun perempuan haidh membaca maupun menyentuh mushaf, lantaran keduanya yaitu orang beriman dan orang beriman itu tidak najis. Ditambah lagi tidak ada dalil yang tegas yang mengharamkan seorang yang junub, maupun perempuan haidh membaca, maupun menyentuh Al Qur-an.
Sumber : Buletin Al-Minhaj
| Wallahu a’lam bish shawab..
| Oleh: Fajri NS..
| Edisi: 43 | Tahun VIII
| Terbit: 3 Rajab 1435 H | 2 Mei 2014 M

Sumber https://blog-mza.blogspot.com
loading...