Alqamah Menjelang Ajalnya

Sahabat Anas ra berkata: di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang perjaka yang berjulukan Alqamah. Pemuda ini ulet beribadah, baik shalat, puasa maupun sedekah. Tiba-tiba dia sakit cukup berat, maka istrinya menyuruh orang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk memberitahu bahwa suaminya sakit keras dan dalam keadaan sakaratul maut.

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Bilal, Ali, Salman dan Ammar radhiyallahu ‘anhum supaya tiba ke kawasan Alqamah, melihat sebagaimana keadaannya.
Ketika hingga dirumah Alqamah, mereka masuk dan eksklusif menuntun Alqamah membaca Laa Ilaaha Illallah tetapi Alqamah tidak mampu  mengucapkan itu, mulutnya seakan terkunci. Ketika para sobat merasa bahwa Alqamah pasti akan menemui ajalnya, maka para sobat meminta sayyidina Bilal untuk melaporkan hal ini kepada baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“apakah dia masih mempunyai ayah dan ibu?” tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ayahnya sudah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi sudah terlampau tua?” Jawab sayyidina Bilal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta sayyidina Bilal untuk menemui ibu Alqamah untuk memberikan salam dan pesan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi “Jika kamu sanggup berjalan, pergilah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kalau tidak dapat, maka Rasulullah yang akan ke sini.”
Ketika pesan itu disampaikan kepada ibunya Alqamah, wanita itu berkata: “Sayalah yang lebih layak mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu wanita itu menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mengucapkan salam, dia duduk di depan dia shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ceritakan kepadaku hal yang sebenarnya. Jika engkau berdusta kepadaku, pasti akan turun wahyu yang memberitakan kedustaan itu. Bagaimana keadaan Alqamah?”
“Ia rajin mengerjakan shalat, puasa, dan berinfak sebanyak-banyaknya. Sehingga tidak terhitung lagi berapa banyaknya.”
“Lalu bagaimana hubunganmu dengannya?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“ia lebih mengutamakan istrinya daripada aku, ia berdasarkan kepada istrinya dan menentangku.” Jawab ibu Alqamah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Murka ibunya itulah yang mengunci pengecap Alqamah untuk mengucap laa ilaha illallah.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sayyidina Bilal untuk mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya untuk aben Alqamah.
“Ya Rasulallah, putraku, buah hatiku, akankah kamu bakar dengan api di depanku? Bagaimana hatiku sanggup menerimanya?” Kata ibu Alqamah.
“Hai ibu Alqamah, siksa Allah swt lebih berat dan lebih kekal. Oleh alasannya yakni itu, kalau engkau menghendaki supaya Allah swt mengampuni anakmu, maka ikhlaskanlah dia! Demi Allah swt yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, tidak akan mempunyai kegunaan shalat, puasa, dan sedekahnya selama engkau masih marah kepadanya,”kata Rasulullah kepadanya.
Lalu ibu Alqamah mengangkat tangan.
“Ya Rasullallah, saya persaksikan kepada Allah swt dan engkau ya Rasulallah dan siapa yang hadir di kawasan ini, bahwa saya telah ridha kepada Alqamah,” katanya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus sobat Bilal untuk mengetahui keadaan Alqamah, apakah sudah mengucapkan laa ilaahai illallah atau belum. Karena khawatir ucapan ibunya Alqamah tidak dari hati tetapi dimulut belaka.
Seketika sayyidina Bilal berada di pintu rumah Alqamah, dia mendengar Alqamah mengucapkan laa ilaaha illallah. Lalu sayyidina Bilal berkata: “ Hai sekalian manusia, sesungguhnya marah ibu Alqamah itulah yang menutup lidahnya untuk mengucapkan syahadat, dan sekarang lidahnya telah bebas.”
Maka meninggallah Alqamah pada hari itu.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya Alqamah segera dimandikan dan dikafani, kemudian dishalati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesudah dikubur, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di tepi kubur sambil berkata yang artinya:
“Wahai sobat Muhajirin dan Anshar, siapa yang mengutamakan istri daripada ibunya maka dia terkena kutukan (la’nat) Allah swt, malaikat, dan insan semuanya. Bahkan Allah swt tidak mendapatkan darinya ibadah baik yang fardhu maupun yang sunnat. Kecuali kalau bertaubat benar-benar kepada Allah swt, berbuat baik kepada ibunya, dan minta keridhaannya. Sebab ridha Allah swt tergantung  pada ridha Ibu, dan marah Allah swt juga terletak pada marah ibu.”

Semoga menjadi renungan untuk kita semua untuk mematuhi orangtua,,,

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ini Tidak Mungkin! Muhammad Niscaya Memakai Mikroskop


                DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM yakni Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal alasannya yakni literaturnya perihal mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.
                Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling terkenal dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga dipakai oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.

                Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan tumpuan al-Qur’an perihal ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, kemudian sang Profesor melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, alasannya yakni apa yang terkandung di dalam ayat tersebut yakni fakta ilmiah yang gres diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad niscaya memakai mikroskop!”

Para Mahasiswa tersebut kemudian berkata, “Prof, bukankah dikala itu Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya aku tau. Saya hanya bercanda, mustahil Muhammad yang mengarang ayat mirip ini,” jawab sang profesor.

***
                “Kemudian Kami mengakibatkan air mani (yang disimpan) dalam daerah yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), kemudian sesuatu yang menempel itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah swt Pencipta yang paling baik” [QS. Al Mu'minuun: 13-14]

                Jika di cermati lebih dalam, bersama-sama ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.

                Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih sempurna ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang menempel dan menggelantung di kulit.

                Embrio itu mirip menghisap darah dari dinding Uterus, alasannya yakni memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis mirip lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya yakni dari sari kuliner yang terdapat dalam darah sang ibu.

                Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jikalau di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar mirip lintah. Dan hal itu tidak mungkin jikalau Muhammad sudah mempunyai pengetahuan yang begitu dahsyat perihal bentuk janin yang mirip lintah kemudian menulisnya dalam sebuah buku.

                Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu yakni pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah swt SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.

                Ayat tersebutlah yang menciptakan sang profesor hasilnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya alasannya yakni Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bab yang selama ini menciptakan sang profesor gusar. Ia merasa bahan yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.
Sumber : www.islampos.com

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Penganiayaan Di Burma, Bukan Oleh Umat Budha, Melainkan Sebab Pola-Pikir Darwinis

Pergumulan antara kaum beriman dan yang tak beriman terus berlangsung di sepanjang sejarah. Semua kontradiksi dan perbedaan ideologi di dunia berlandaskan pada perang intelektual dan perang ideologi di antara kedua kutub ini. Mereka yang mendukung agama sejati dan menyerukan, “Allah swt itu Esa”, dan berikhtiar menerapkan nilai-nilai etika dengan keyakinan yang lurus, selalu dihadapkan dengan kekuatan yang menentangnya. Jika terjadi kekerasan dan kebrutalan, biasanya berasal dari para penentangnya. Meskipun demikian, ada satu detil yang sangat penting yang mesti dipaparkan di sini.
Menggambarkan kaum beriman sebagai pendukung kekerasan merupakan cara yang licik
Dua kekuatan yang saling berlawanan ini kadang tampil dengan kamuflase agama. Tentu saja ini penipuan. Tak satupun keyakinan beragama menyetujui tindakan yang kejam dan brutal. Jika seseorang berbagi kekejaman, membenci segala sesuatu atau melaksanakan tindak teroris dan pembunuhan, terang sekali bahwa ia tak beragama. Meskipun ia seorang Muslim, Nasrani ataupun Yahudi pada KTP-nya, tak berarti bahwa ia beragama. Karenanya, setiap tragedi penindasan, kekacauan ataupun terror harus dinilai dari sudut pandang ini. Kekuatan licik tertentu selalu berusaha menyandangkan setiap konflik, penderitaan dan tindakan terror sebagai hasil perbuatan umat beriman. Secara khusus, mereka memakai media dan aneka macam publikasi untuk berbagi scenario untuk menyulut konflik diantara umat Muslim dan Kristen, diantara kaum Shi’ah dan Sunni, atau diantara Yahudi dengan Muslim. Tujuannya yakni untuk mencegah bersatunya umat-umat yang percaya kepada Allah swt. Kekuatan-kekuatan ini sadar benar bahwa persatuan umat-umat yang beriman akan menjadi kekuatan utama yang melawan ideologi-ideologi palsu, serta tak sanggup dikalahkan. Karena bahaya inilah mereka membangun kebencian-antar-umat sebagai taktik untuk menghilangkan persatuan diantara umat beriman.
Sementara umat beriman saling bertengkar, pendukung pedoman Darwinis, komunis dan Marxis sebetulnya satu sama lain, tumbuh semakin besar lengan berkuasa dan menerima lingkungan yang ideal untuk berbagi ideologi-ideologi jahat mereka. Kekuatan jahat ini memakai cara di atas di beberapa negara Arab, Timur Tengah dan tempat-tempat lain semacam Birma.
 Ideologi Darwinis merupakan lantaran dari penindasan-penindasan di dunia
Di beberapa Negara di potongan dunia, umat Muslim merupakan penduduk minoritas. Jutaan Muslim minoritas hidup dalam tekanan di Birma, Filipina, Kamboja, dan Thailand. Konflik yang terjadi umumnya dipicu oleh perselisihan atau perbedaan pendapat di antara umat beriman.
Konflik di Syria digambarkan sebagai kontradiksi antara kaum Shi’ah dan Sunni, dan pemberitaan selalu mencerminkan inspirasi ini. Namun ini yakni suatu penipuan. Sebenarnya ada pergumulan yang terjadi antara mereka yang-takut-kepada-Tuhan dengan kaum Darwinis dan Komunis. Peristiwa yang terjadi di Syria merupakan pemberontakan terhadap ideology sosialis komunis yang terjadi semenjak masa Hafez Assad, dan tak pernah pupus.
Dengan cara yang sama, penganiyayaan sadis yang terjadi di Birma semenjak 1990-an digambarkan sebagai penyerangan umat Budha terhadap umat Muslim. Namun sebenarnya, para penyerangnya yakni junta yang mendukung ideologi Darwinis, meskipun berpenampilan sebagai umat Budha. (Budhisme masa sekarang merupakan agama pagan, namun mungkin dalam bentuk yang terkorupsi dari keyakinan sejatinya. Tak ada aksi atau bentuk penindasan bagaimanapun yang dibolehkan dalam agama Budha terkini pun.) Mustahil suatu tindak kejahatan dianggap sebagai dedikasi untuk agama. Jika mereka melakukannya atas nama agama, maka mereka sedang melaksanakan penipuan, atau tidak tahu perihal agama, atau malah mereka ini yang tertipu. Tak ada satu agama pun yang membolehkan penindasan, pembunuhan, terror ataupun genosida. Tak ada umat beragama boleh menindas orang lain, sebagai teroris sekalipun, atau menghilangkan hak orang lain. Agama menganjurkan cinta, kasih-sayang dan solidaritas. Penganjur agama sejati selalu membawa cinta kepada dunia.
Namun ideologi Darwinis dan ideologi-ideologi lainnya ibarat Marxisme, Leninisme, komunisme dan fasisme, menindas orang lain, melaksanakan terror terhadap masyarakat, melaksanakan aksi-aksi teroris, terlibat genosida, melaksanakan pembunuhan masal serta membunuh perempuan dan anak-anak, bau tanah maupun muda. Jika ada teror ataupun perselisihan di suatu tempat, maka keberadaan ideologi semacam ini di wilayah tersebut akan segera kelihatan. Ideologi komunis yang mendukung dialektika masyarakat dengan mengadopsi ideologi Darwinis, yang mendukung dialektika alam, menjadi prasyarat terjadinya konflik. Dengan tidak rasional mereka beropini bahwa tak akan  kemajuan bila tak ada konflik. Ideologi jahat inilah yang meracuni masyarakat dengan rasa benci.
Mari bersatu untuk mengakhiri penindasan yang berasal dari tindakan curang oleh Darwinisme
Jika kita ingin mengakhiri perselisihan di dunia ini, prasarat satu-satunya yakni peniadaan ilmiah Darwinisme, inspirasi intelektual dari ideologi-ideologi jahat ini. Dan cara untuk menghapus Darwinisme secara intelektual yakni dengan mendiskusikan serta mengemukakan bukti-bukti ilmiah yang mengungkapkan ketidakberlakuan teori evolusi dimanapun, kapanpun. Aktivitas ibarat penyebaran buku, penyelenggaraan pameran, penulisan artikel, pembuatan situs web, penyelenggaraan konferensi serta program-program radio dan televisi merupakan hal yang sangat penting untuk penyebaran informasi ini. Memang, pengaruh positif dari acara semacam ini telah menyebar dengan sangat cepat, dan orang sudah mulai mendapatkan kenyataan bahwa evolusi merupakan penipuan ilmiah terburuk di sepanjang sejarah.
Sebagai pengingat akhir, dunia Islam secara keseluruhan memiliki tanggungjawab untuk menjamin bahwa semua umat insan sanggup hidup dengan kondusif dan damai. Dunia Islam memiliki kewajiban untuk bersatu dan menyelamatkan mereka yang hidup kesakitan dan menderita di Turkestan Timur, Birma, Pathani, Irak, Afganistan, Palestina dan di banyak daerah lainnya, dan menghasilkan solusi yang permanen. Dunia Turki-Islami yang bersatu dan bertindak sebagai saudara dalam semangat solidaritas tidak akan menghadapi duduk kasus semacam itu. Bisa dijamin bahwa bukan hanya Muslim yang sanggup hidup dengan aman, sejahtera, tenang serta bahagia, melainkan juga bagi umat Kristen, Yahudi, Budha bahkan bagi mereka yang tak beragama ataupun ateis.[Harunyahya]

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Azab Yang Dilihat Penggali Kubur


 

 Terdapat seorang cowok yang kerjanya yaitu menggali kubur dan mencuri kain kafan untuk dijual. Pada suatu hari, cowok tersebut berjumpa dengan seorang alim/ahli ibadah untuk menyatakan kekesalannya dan impian untuk bertaubat kepada Allah swt s.w.t.

Dia berkata, “Sepanjang saya menggali kubur untuk mencuri kain kafan, saya telah melihat 7 perkara ganjil yang menimpa mayat-mayat tersebut. Lantaran saya merasa sangat insaf atas perbuatanku yang sangat keji itu dan ingin sekali bertaubat.” Yang pertama, saya lihat mayit yang pada siang harinya menghadap kiblat. Tetapi apabila saya menggali semula kuburnya pada waktu malam, saya lihat wajahnya telahpun membelakangkan kiblat. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?” tanya cowok itu.

Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang telah mensyirikkan Allah swt s.w.t. sewaktu hidupnya. Lantaran Allah swt s.w.t. menghinakan mereka dengan memalingkan wajah mereka dari mengadap kiblat, bagi membezakan mereka daripada golongan muslim yang lain,” jawab andal ibadah tersebut.

Sambung cowok itu lagi, “Golongan yang kedua, saya lihat wajah mereka sangat elok semasa mereka dimasukkan ke dalam liang lahad. Tatkala malam hari saat saya menggali kubur mereka, ku lihat wajah mereka telahpun bertukar menjadi ****. Mengapa begitu halnya, wahai tuan guru?”

Jawab andal ibadah tersebut, “Wahai anak muda, mereka itulah golongan yang meremehkan dan meninggalkan solat sewaktu hidupnya. Sesungguhnya solat merupakan amalan yang pertama sekali dihisab. Jika tepat solat, maka sempurnalah amalan-amalan kita yang lain,”

Pemuda itu menyambung lagi, “Wahai tuan guru, golongan yang ketiga yang saya lihat, pada waktu siang mayatnya kelihatan menyerupai biasa sahaja. Pabila saya menggali kuburnya pada waktu malam, ku lihat perutnya terlalu gelembung, keluar pula ulat yang terlalu banyak daripada perutnya itu.”

Jawab andal ibadah tersebut “Mereka itulah golongan yang gemar memakan harta yang haram, wahai anak muda,” balas andal ibadah itu lagi.

Golongan keempat, ku lihat mayit yang jasadnya bertukar menjadi kerikil lingkaran yang hitam warnanya. Mengapa terjadi begitu, wahai tuan guru?”

Jawab andal ibadah itu, “Wahai pemuda, itulah golongan insan yang derhaka kepada kedua ibu bapanya sewaktu hayatnya. Sesungguhnya Allah swt s.w.t. sama sekali tidak redha kepada insan yang menderhakai ibu bapanya.”

Ku lihat ada pula mayit yang kukunya amat panjang, sampai membelit-belit seluruh tubuhnya dan keluar segala isi dari tubuh badannya,” sambung cowok itu.

Anak muda, mereka itulah golongan yang gemar memutuskan silaturrahim. Semasa hidupnya mereka suka memulakan pertengkaran dan tidak bertegur sapa lebih daripada 3 hari. Bukankah Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, bahawa sesiapa yang tidak bertegur sapa melebihi 3 hari bukanlah termasuk dalam golongan umat baginda,” terang andal ibadah tersebut.

Wahai guru, golongan yang keenam yang saya lihat, sewaktu siangnya lahadnya kering kontang. Tatkala malam saat saya menggali semula kubur itu, ku lihat mayit tersebut terapung dan lahadnya dipenuhi air hitam yang amat busuk baunya,”

Wahai pemuda, itulah golongan yang memakan harta riba sewaktu hayatnya,” jawab andal ibadah tadi.

Wahai guru, golongan yang terakhir yang saya lihat, mayatnya sentiasa tersenyum dan berseri-seri pula wajahnya. Mengapa demikian halnya wahai tuan guru?” tanya cowok itu lagi.

Jawab andal ibadah tersebut, “Wahai pemuda, mereka itulah golongan insan yang berilmu. Dan mereka berinfak pula dengan ilmunya sewaktu hayat mereka. Inilah golongan yang beroleh keredhaan dan kemuliaan di sisi Allah swt s.w.t. baik sewaktu hayatnya mahupun setelah matinya.” Ingatlah, bahwasanya daripada Allah swt s.w.t kita tiba dan kepadaNya jualah kita akan kembali. Kita akan di pertanggungjawabkan atas setiap amal yang kita lakukan, hatta walaupun amalan sebesar zarah.

Setelah anda membaca cerita ini. Sampaikan atau hantarkan kepada sahabat dan rakan-rakan anda. Mudah-mudahan amalan baik yang sedikit ini diambil kira oleh Allah swt Taala di Akhirat kelak.
Amin...
 sumber: http://zilzaal.blogspot.com

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ummu Fadhl (Istri Al-'Abbas Paman Nabi)

Nama ia yaitu Lubabah binti al-Haris bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Beliau yaitu Lubabah al-Kubra, ia dikenal dengan kuniyahnya (Ummu Fadhl) dan juga dengan namanya mereka kenal. Ibu dari Lubabah r.ha yaitu Khaulah binti `Auf al-Qurasyiyah. Ummu Fadhl yaitu salah satu dari empat perempuan yang dinyatakan keimanannya oleh Rasulullah SAW. Keempat perempuan tersebut yaitu Maimunah, Ummu Fadhl, Asma` dan Salma.

Adapun Maimunah yaitu Ummul Mukminin r.ha saudara kandung dari Ummu Fadhl. Sedangkan Asma` dan Salma yaitu kedua saudari dari jalan ayahnya alasannya keduanya yaitu putri dari `Umais.

Ummu Fadhl r.ha yaitu istri dari Abbas, paman Rasulullah SAW., dan ibu dari enam orang yang mulia, pintar dan belum ada seorang wanitapun yang melahirkan pria semisal mereka. Mereka yaitu Fadhl, Abdullah al-Faqih, Ubaidullah al-Faqih, Ma`bad, Qatsam dan Abdurrahman. Tentang Ummu Fadhl ini Abdullah bin Yazid berkata,
Tiada seorangpun yang melahirkan orang-orang yang terkemuka
Yang saya lihat sebagaimana enam putra Ummu Fadhl
Putra dari dua orang renta yang mulia
Pamannya Nabiyul Musthafa yang mulia
Penutup para Rasul dan sebaik-baik rasul


Ummu Fadhl r.ha masuk Islam sebelum hijrah, ia yaitu perempuan pertama yang masuk Islam sesudah Khadijah (Ummul Mukminin r.ha) sebagaimana yang dituturkan oleh putra ia Abdullah bin Abbas, "Aku dan Ibuku yaitu termasuk orang-orang yang tertindas dari perempuan dan anak-anak."

Ummu Fadhl termasuk perempuan yang berkedudukan tinggi dan mulia di kalangan para wanita. Rasulullah SAW., terkadang mengunjungi ia dan terkadang tidur siang di rumahnya.

Ummu Fadhl yaitu seorang perempuan yang pemberani dan beriman, yang memerangi Abu Lahab si musuh Allah swt dan membunuhnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ikrimah berkata, "Abu Rafi` budak Rasulullah saw berkata, ‘Aku pernah menjadi budak Abbas, saat Islam tiba maka Abbas masuk Islam disusul oleh Ummu Fadhl, namun Abbas masih disegani terhadap kaumnya.

Abu Lahab tidak sanggup menyertai perang Badar dan mewakilkannya kepada Ash bin Hisyam bin Mughirah, begitulah kebiasaan mereka manakala tidak mengikuti suatu peperangan maka ia mewakilkan kepada orang lain.

Tatkala tiba kabar wacana peristiwa alam yang menimpa orang-orang Quraisy pada perang Badar yang mana Allah swt telah menghinakan dan merendahkan Abu Lahab, maka sebaliknya kami mencicipi adanya kekuatan dan `izzah pada diri kami. Aku yaitu seorang pria yang lemah, saya bekerja menciptakan gelas yang saya pahat di bebatuan sekitar zam-zam, demi Allah swt suatu saat saya duduk sedangkan di dekatku ada Ummu fadhl yang sedang duduk, sebelumnya kami berjalan, namun tidak ada kebaikan yang hingga kepada kami, tiba-tiba datanglah Abu Lahab dengan berlari kemudian duduk, tatkala dia duduk tiba-tiba orang-orang berkata, "Ini dia Abu Sufyan bin Harits telah tiba dari Badar. Abu Lahab berkata, "Datanglah kemari sungguh saya menanti beritamu.

Kemudian duduklah Abu Jahal dan orang-orang berdiri mengerumuni sekitarnya. Berkatalah Abu Lahab, "Wahai putra saudaraku beritakanlah bagaimana keadaan insan (dalam perang Badar).?" Abu Sufyan berkata, "Demi Allah swt tatkala kami menjumpai mereka, tiba-tiba mereka tidak henti-hentinya menyerang pasukan kami, mereka memerangi kami sesuka mereka dan mereka menawan kami sesuka hati mereka. Demi Allah swt sekalipun demikian tatkala saya menghimpun pasukan, kami melihat ada sekelompok pria yang berkuda hitam putih berada di tengah-tengah manusia, demi Allah swt mereka tidak menginjakkan kakinya di tanah.”

Abu Rafi` berkata, "Aku mengangkat watu yang berada di tanganku, kemudian berkata, ‘Demi Allah swt itu yaitu malaikat. Tiba-tiba Abu Lahab mengepalkan tangannya dan memukul saya dengan pukulan yang keras, maka saya telah membuatnya marah, kemudian dia menarikku dan membantingku ke tanah, selanjutnya dia dudukkan saya dan memukuliku sedangkan saya yaitu pria yang lemah. Tiba-tiba berdirilah Ummu Fadhl mengambil sebuah tiang dari watu kemudian ia pukulkan dengan keras mengenai kepala Abu Lahab sehingga melukainya dengan parah. Ummu Fadhl berkata, ‘Saya telah melemahkannya sehingga jatuhlah kredibilitasnya.’

Kemudian bangunlah Abu Lahab dalam keadaan terhina, Demi Allah swt ia tidak hidup sesudah itu melainkan hanya tujuh malam hingga Allah swt menimpakan kepadanya penyakit infeksi yang menjadikan kematiannya.”

Begitulah perlakuan seorang perempuan mukminah yang pemberani terhadap musuh Allah swt sehingga menjadi gugurlah kesombongannya dan merosotlah kehormatannya lantaran ternoda. Alangkah bangganya sejarah Islam yang telah mencatat Ummu Fadhl r.ha sebagai teladan bagi para perempuan yang dibina oleh Islam.

Ibnu Sa`d menyebutkan di dalam ath-Thabaqat al-Kubra bahwa Ummu Fadhl suatu hari bermimpi dengan suatu mimpi yang menakjubkan, sehingga ia bersegera untuk mengadukannya kepada Rasulullah SAW, ia berkata, "Wahai Rasulullah saya bermimpi seakan-akan sebagian dari anggota tubuhmu berada di rumahku." Rasulullah SAW., bersabda:,
"Mimpimu bagus, kelak Fatimah melahirkan seorang anak pria yang nanti akan engkau susui dengan susu yang engkau berikan buat anakmu (Qatsam).”

Ummu Fadhl keluar dengan membawa kegembiraan lantaran gosip tersebut, dan tidak berselang usang Fatimah melahirkan Hasan bin Ali RA., yang kemudian diasuh oleh Ummu Fadhl.

Ummu fadhl berkata, "Suata saat saya mendatangi Rasulullah SAW., dengan membawa bayi tersebut maka Rasulullah SAW., segera menggendong dan mencium bayi tersebut, namun tiba-tiba bayi tersebut mengencingi Rasulullah SAW., kemudian ia bersabda, "Wahai Ummu Fadhl peganglah anak ini lantaran dia telah mengencingiku."

Ummu Fadhl berkata, "Maka saya ambil bayi tersebut dan saya cubit sehingga dia menangis, saya berkata, "Engkau telah menyusahkan Rasulullah lantaran engkau telah mengencinginya." Tatkala melihat bayi tersebut menangis Rasulullah SAW., bersabda, "Wahai Ummu Fadhl justru engkau yang menyusahkanku dikarenakan telah menciptakan anakku menangis." Kemudian Rasulullah SAW., meminta air kemudian ia percikkan ke daerah yang terkena air kencing kemudian bersabd,
"Jika bayi pria maka percikilah dengan air, akan tetapi apabila bayi perempuan maka cucilah.”

Di dalam riwayat lain, Ummu Fadhl berkata, "Lepaslah sarung anda dan pakailah baju yang lain supaya saya sanggup mencucinya." Namun nabi bersabda,
"Yang dicuci hanyalah air kencing bayi perempuan dan cukuplah diperciki dengan air apabila terkena air kencing bayi laki-laki.”

Di antara kejadian yang mengesankan Lubabah binti al-Haris r.ha yaitu tatkala banyak orang bertanya kepada ia saat hari Arafah apakah Rasulullah SAW., shaum ataukah tidak.? Maka dengan kebijakannya, ia menghilangkan persoalan yang menimpa kaum muslimin dengan cara ia memanggil salah seorang anaknya kemudian menyuruhnya untuk mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah SAW., tatkala ia berada di Arafah, kemudian tatkala dia menemukan Rasulullah SAW., dengan dilihat oleh semua orang ia mendapatkan segelas susu tersebut kemudian meminumnya.

Di sisi yang lain Ummu Fadhl r.ha mempelajari Hadits asy-Syarif dari Rasulullah SAW., dan ia meriwayatkan sebanyak tiga puluh hadits. Adapun yang meriwayatkan dari ia yaitu sang putra ia Abdulllah bin Abbas RA., Tamam yakni budaknya, Anas bin Malik dan yang lain-lain.

Kemudian wafatlah Ummu Fadhl r.ha pada masa khalifah Ustman bin Affan r.a sesudah meninggalkan kepada kita teladan yang baik yang patut ditiru sebagai ibu yang shalihah yang melahirkan tokoh semisal Abdullah bin Abbas, kyai umat ini dan Turjumanul Qur`an (yang andal dalam hal tafsir al-Qur`an), Begitu pula telah menunjukkan teladan terbaik bagi kita dalam hal kepahlawanan yang memancar dari akidah yang benar yang muncul darinya keberanian yang bisa menjatuhkan musuh Allah swt yang paling keras permusuhannya.

(Sumber: Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdi al-Istanbuly, et.ali., h.228-233, penerbit at-Tibyan)

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Khaulah Binti Tsa’Labah (Wanita Yang Aduannya Didengar Allah Dari Langit Ketujuh)


Beliau yaitu Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai perempuan yang fasih dan pandai.

'Abdullah Bin Hudzafah As-Sahmiy -Radhiallaahu 'Anhu-


‘Abdullah Ibn Hudzafah yaitu salah seorang panglima yang memimpin penaklukan negeri Syam. Ia diberi kiprah untuk menyerbu penduduk (kekaisaran) kota Palestina al-Hushainah yang terletak dipesisir pantai Laut Tengah.

Ummu Haram Binti Malhan (Wanita Yang Syahid Di Laut)


Beliau yaitu Ummu Haram binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghannam bin Adi bin Nazar al-Anshariyah an-Najjariyyah al-Madaniyyah.

Beliau yaitu saudari Ummu Sulaiman, bibi dari Anas bin Malik pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, Beliau yaitu istri dari sahabat yang agung yang berjulukan Ubadah bin ash-Shamit. Kedua saudaranya yaitu Sulaim dan Haram;

Asma` Binti 'Umais


Beliau yaitu Asma’ binti Ma`d bin Tamim bin Al-Haris bin Ka`ab Bin Malik bin Quhafah, dipanggil dengan nama Ummu Ubdillah. Beliau yaitu termasuk salah satu di antara empat akhwat mukminah yang telah menerima pengakuan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya: "Ada empat akhwat mukminat yaitu Maimunah, Ummu Fadl, Salma dan Asma" .

Beliau masuk Islam sebelum kaum muslimin memasuki rumah al-Arqam. Beliau yaitu istri jagoan di antara sahabat yaitu Ja`far bin Abi Thalib, sahabat yang mempunyai dua sayap sebagaimana gelar yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam berikan terhadap beliau.

Ummu Sulaim Binti Malhan (Wanita Dengan Mahar Paling Mulia)


Beliau berjulukan Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah.

Beliau ialah seorang perempuan yang mempunyai sifat keibuan dan cantik, dirinya dihiasi pula dengan ketabahan, kebijaksanan, lurus pemikirannya, dan dihiasi pula dengan kecerdasan berfikir dan kefasihan serta berakhlak mulia, sehingga nantinya dongeng yang baik ditujukan kepada ia dan setiap lisan memuji atasnya.

Asma` Binti Yazid Bin Sakan (Ahli Pidato Kaum Wanita)


Beliau ialah Asma` binti Yazid bin Sakan bin Rafi` bin Imri`il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris al-Anshariyysh, al-Ausiyyah al-Asyhaliyah.

Beliau ialah spesialis hadis yang mulia, seorang mujahidah yang agung, mempunyai kecerdasan, dien yang cantik dan hebat argumen, sehingga dia menjuliki sebagai “juru bicara wanita”.

Diantara keistimewaan yang dimiliki oleh Asma` ialah kepekaan inderanya dan kejelian perasaannya serta kehalusan hatinya.

Maimunah Binti Al-Harits Radhiallaahu 'Anha


Dialah Maimunah binti al-Harits bin Huzn bin al-Hazm bin Ruwaibah bin Abdullah bin Hilal bin Amir bin Sha’sha’ah al-Hilaliyah. Saudari dari Ummul Fadhl istri Abbas. Beliau ialah bibi dari Khalid bin Walid dan juga bibi dari Ibnu Abbas.

Beliau termasuk pemuka kaum perempuan yang masyhur dengan keutamaannya, nasabnya dan kemuliaannya. Pada mulanya dia menikah dengan Mas’ud bin Amru ats-Tsaqafi sebelum masuk Islam sebagaimana beliau. Namun dia banyak mondar-mandir ke rumah saudaranya Ummul Fadhl sehingga mendengar sebagian kajian-kajian Islam perihal nasib dari kaum muslimin yang berhijrah. Sampai kabar perihal Badar dan Uhud yang mana hal itu menimbulkan bekas yang mendalam dalam dirinya.

Tatkala tersiar isu kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar, kebetulan dikala itu Maimunah berada didalam rumah saudara kandungnya yaitu Ummu Fadhl, maka dia juga turut bahagia dan sangat bergembira. Namun manakala dia pulang ke rumah suaminya ternyata dia mendapatkannya dalam keadaan sedih dan berduka cita alasannya kemenangan kaum muslimin. Maka hal itu memicu mereka pada pertengkaran yang mengakibatkan perceraian. Maka dia keluar dan menetap di rumah al-‘Abbas.

Ketika telah tiba waktu yang telah di menetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah yang mana Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diperbolehkan masuk Mekkah dan tinggal di dalamnya selama tiga hari untuk menunaikan haji dan orang-orang Quraisy harus membiarkannya. Pada hari itu kaum muslimin masuk Mekkah dengan rasa aman, mereka mencukur rambut kepalanya dengan hening tanpa ada rasa takut. Benarlah kesepakatan yang haq dan terdengarlah bunyi orang-orang mukmin membahana,”Labbaikallâhumma Labbaika Labbaika Lâ Syarîka Laka Labbaik…”. Mereka mendatangi Mekkah dalam keadaan tertunda sehabis beberapa waktu bumi Mekkah berada dalam kekuasaan orang-orang musyrik. Maka bubuk tanah mengepul di bawah kaki orang-orang musyrik yang dengan segera menuju bukit-bukit dan gunung-gunung alasannya mereka tidak kuasa melihat Muhammad dan para sahabatnya kembali ke Mekkah dengan terang-terangan, kekuatan dan penuh wibawa. Yang tersisa hanyalah para pria dan perempuan yang menyembunyikan keimanan mereka sedangkan mereka mengimani bahwa pinjaman sudah dekat.

Maimunah ialah salah seorang yang menyembunyikan keimanannya tersebut. Beliau mendengarkan bunyi yang keras penuh keagungan dan kebesaran. Beliau tidak berhenti sebatas menyembunyikan keimanan akan tetapi dia ingin semoga sanggup masuk Islam secara tepat dengan penuh Izzah (kewibawaan) yang tulus semoga terdengar oleh semua orang perihal keinginannya untuk masuk Islam. Dan diantara harapannya ialah kelak akan bernaung di bawah atap Nubuwwah sehingga dia sanggup minum pada mata air semoga memenuhi perilakunya yang haus akan aqidah yang istimewa tersebut, yang alhasil merubah kehidupan dia menjadi seorang pemuka bagi generasi yang akan datang. Dia bersegera menuju saudara kandungnya yakni Ummu fadhl dengan suaminya ‘Abbas dan diserahkanlah urusan tersebut kepadanya. Tidak ragu sedikitpun Abbas perihal hal itu bahkan dia bersegera menemui Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan menyampaikan Maimunah untuk Nabi. Akhirnya Nabi menerimanya dengan mahar 400 dirham. Dalam riwayat lain, bahwa Maimunah ialah seorang perempuan yang menghibahkan dirinya kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam maka turunlah ayat dari Allah swt Tabaraka Ta’ala (artinya) :

“….Dan perempuan mukmin yang menyerahkan diri kepada Nabi kalau Nabi mengawininya sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin….”( al-Ahzab: 50)

Ketika sudah berlalu tiga hari sebagaimana yang telah ditetapkan dalam perjanjian Hudaibiyah, orang-orang Quraisy mengutus seseorang kepada Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka mengatakan: ”Telah habis waktumu maka keluarlah dari kami”. Maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan ramah:

“Bagaimana berdasarkan kalian kalau kalian bairkan kami dan saya marayakan pernikahanku ditengah-tengah kalian dan kami suguhkan kuliner untuk kalian???!”

Maka mereka manjawab dengan kasar: ”Kami tidak butuh makananmu maka keluarlah dari negeri kami!”.

Sungguh ada rasa keheranan yang disembunyikan pada diri kaum musyrikin selama tinggalnya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam di Mekkah, yang mana kedatangan dia meninggalkan kesan yang mendalam pada banyak jiwa. Sebagai bukti dialah Maimunah binti Harits, dia tidak cukup hanya menyatakan keislamannya bahkan lebih dari itu dia daftarkan dirinya menjadi istri Rasul Shallallâhu ‘alaihi wa sallam sehingga membangkitkan kemarahan mereka. Untuk berjaga-jaga, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak mengadakan walimatul ‘Urs dirinya dengan Maimunah di Mekkah. Beliau mengizinkan kaum muslimin berjalan menuju Mekkah. Tatkala hingga disuatu daerah yang disebut ”Sarfan” yang beranjak 10 mil dari Mekkah maka Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam memulai malam pertamanya bersama Maimunah radhiallaahu 'anha. Hal itu terjadi pada bulan Syawal tahun 7 Hijriyah.

Mujahid berkata:”Dahulu namanya ialah Bazah namun Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menggantinya dengan Maimunah. Maka sampailah Maimunah ke Madinah dan menetap di rumah nabawi yang suci sebagaimana cita-citanya yang mulai, yakni menjadi Ummul Mukminin yang utama, menunaikan kewajiban sebagai seorang istri dengan sebaik-baiknya, mendengar dan ta’at, setia serta ikhlas. Setelah Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A’la, Maimunah hidup selama bertahun-tahun hingga 50 tahunan. Semuanya dia jalani dengan baik dan takwa serta setia kepada suaminya penghulu anak Adam dan seluruh insan yakni Muhammad bin Abdullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Hingga, alasannya kesetiaannya kepada suaminya, dia berpesan semoga dikuburkan di daerah dimana dilaksanakan Walimatul ‘urs dengan Rasulullah.

‘Atha’ berkata:”Setelah dia wafat, saya keluar bersama Ibnu Abbas. Beliau berkata:”Apabila kalian mengangkat jenazahnya, maka kalian janganlah menggoncang-goncangkan atau menggoyang-goyangkan”. Beliau juga berkata:”Lemah lembutlah kalian dalam memperlakukannya alasannya dia ialah ibumu”.

Berkata ‘Aisyah sehabis wafatnya Maimunah: ”Demi Allah swt! telah pergi Maimunah, mereka dibiarkan berbuat sekehendaknya. Adapun, demi Allah swt! dia ialah yang paling takwa diantara kami dan yang paling banyak bersilaturrahim”.

Keselamatan semoga tercurahkan kepada Maimunah yang mana dengan langkahnya yang penuh keberanian tatkala masuk Islam secara terang-terangan membuahkan efek yang besar dalam merubah pandangan hidup orang-orang musyrik dari jahiliyah menuju dienullah menyerupai Khalid dan Amru bin ‘Ash radhiallaahu 'anhu dan semoga Allah swt meridhai para sobat seluruhnya.[alsofwah]
Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Juwairiyah Binti Al-Harits Radhiallaahu 'Anha


Beliau ialah Juwairiyah Binti al-Harits Bin Abi Dhirar bin al-Habib al-Khuza’iyah al-Mushthaliqiyyah.

Beliau ialah secantik-cantik seorang wanita. Beliau termasuk perempuan yang ditawan tatkala kaum muslimin mengalahkan Bani Mushthaliq pada dikala perang Muraisi’.

Hasil Undian Juwairiyyah ialah bab untuk Tsabit Bin Qais bin syamas atau anak pamannya, tatkala itu Juwairiyyah berumur 20 tahun. Dan alhasil dia selamat dari kehinaan sebagai tawanan/rampasan perang dan kerendahannya.

Zainab Binti Jahsy Radhiallaahu 'Anha


Dia yaitu Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya'mar. Ibu ia berjulukan Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam . Pada mulanya nama ia yaitu Barra', namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, ia diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wa sallam melamarnya untuk budak ia yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, "Aku rela Zaid menjadi suamimu". Maka Zainab berkata: "Wahai Rasulullah akan tetapi saya tidak berkenan bila dia menjadi suamiku, saya yaitu perempuan terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka saya tidak mau melaksanakannya.

Ummu Habibah, Ramlah Binti Bubuk Sufyan

Alangkah perlunya kaum muslimin hari ini untuk mengkaji perjalanan hidup sayyidah yang agung ini, supaya mereka menyadari betapa jauhnya perbandingan antara mereka dengan generasi awal yang keluar dari madrasah nubuwwah, sehingga mereka mengetahui betapa efek kepercayaan itu sangat menakjubkan pada jiwa mereka yang menyambut panggilan Allah swt dan Rasul-Nya. Hingga mereka menjadi lentera yang menebarkan petunjuk dan cahaya. Dan di antara lentera tersebut yaitu Ummul Mukminin, Ramlah binti Abu Sufyan seorang pemuka Quraisy dan pimpinan orang-orang musyrik hingga Fathu Makkah. Akan tetapi Ramlah binti Abu Sufyan tetap beriman sekalipun ayahnya memaksa dia untuk kafir ketika itu. Dan Abu Sufyan tak kuasa memaksakan kehendaknya supaya putrinya tetap dalam keadaan kafir. Justru dia memperlihatkan kuatnya pendirian dan mantapnya kemauan. Beliau rela menanggung beban yang melelahkan dan beban yang berat karena memperjuangkan aqidahnya.

Pada mulanya dia menikah dengan Ubaidullah bin jahsy yang Islam menyerupai beliau. Tatkala kekejaman orang-orang kafir atas kaum muslimin mencapai puncaknya, Ramlah berhijrah menuju Habsyah bersama suaminya. Dan disanalah dia melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Habibah dan dengan nama anaknya inilah dia dijuluki (Ummu Habibah).

Ummu Habibah senantiasa bersabar dalam memikul beban karena memperjuangkan diennya dalam keterasingan dan hanya seorang diri, jauh dari keluarga dan kampung halaman bahkan terjadi petaka yang tidak dia sangka sebelumnya. Beliau bercerita:

"Aku melihat didalam mimpi, suamiku Ubaidullah bin Jahsy dengan bentuk yang sangat jelek dan menakutkan. Maka saya terperanjat dan terbangun, kemudian saya memohon kepada Allah swt dari hal itu. Ternyata tatkala pagi, suamiku telah memeluk agama Nasrani. Maka saya ceritakan mimpiku kepadanya namun dia tidak menggubrisnya".

Si murtad yang celaka ini mencoba dengan segala kemampuannya untuk membawa istrinya keluar dari diennya namun Ummu Habibah menolaknya dan dia telah mencicipi lezatnya iman. Bahkan dia justru mengajak suaminya supaya tetap didalam Islam namun dia malah menolak dan membuang jauh permintaan tersebut dan dia semakin asyik dengan khamr. Hal itu berlangsung hingga dia mati.

Hari-hari berlalu di bumi hijrah sementara dirinya berada dalam dua ujian; pertama, jauh dari sanak saudara dan kampung halaman. Kedua, ujian karena menjadi seorang janda tanpa seorang pendamping. Akan tetapi dia dengan keimanan yang lapang dada yang telah Allah swt karuniakan kepadanya, bisa menghadapi ujian berat tersebut.Beliau wujudkan firman Allah swt (artinya):

"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah swt pasti Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memperlihatkan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Dan berangsiapa yang telah bertawakkal kepada Allah swt pasti Allah swt akan mencukupkan (keperluan)nya.Sesungguhnya Allah swt melakukan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah swt telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".(ath-Thalaq:2-3).

Allah swt berkehendak untuk membulatkan tekadnya, maka dia melihat dalam mimpinya ada yang menyeru dia: "Wahai Ummul Mukminin….!". Maka dia terperanjat dan terbangun karena mimpi tersebut. Beliau menakwilkan mimpi tersebut bahwa Rasulullah kelak akan menikahinya.

Setalah simpulan masa 'iddahnya, tiba-tiba ada seorang jariyah dari Najasyi yang memberitahukan kepada dia bahwa dirinya telah dipinang oleh pimpinan semua insan seutama-utama shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada beliau. Alangkah bahagianya dia mendengar kabar besar hati tersebut hingga dia berkata: "Semoga Allah swt memperlihatkan kabar besar hati untukmu". Kemudian dia menanggalkan aksesori dan gelang kakinya untuk diberikan kepada Jariyah (budak wanita) yang membawa kabar tersebut saking senangnya. Kemudian dia meminta Khalid bin Sa'ad bin al-'Ash untuk menjadi wakil baginya supaya mendapatkan lamaran Najasyi yang mewakili Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk menikahkan dia dengan Ummu Habibah sehabis Rasulullah mendapatkan kabar perihal keadaan dia dan ujian yang dia hadapi dalam menapaki jalan diennya. Sedangkan tiada seorangpun yang menolong dan membantu dirinya. Pada suatu sore, Raja Najasyi mengumpulkan kaum muslimin yang berada di Habasyah, maka datanglah mereka dengan dipimpin oleh Ja'far bin Abi Thalib, putra paman Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Selanjutnya Raja Najasyi berkata:

"Segala puji bagi Allah swt Raja Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan Kemanan, Yang Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah swt dan saya bersaksi bahwa Muhammad yaitu utusan Allah swt yang telah dikabarkan oleh Nabi Isa bin Maryam 'alaihissalaam .

Amma ba'du, Sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam telah mengirim surat untukku untuk melamarkan Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan Ummu Habibah telah mendapatkan lamaran Rasulullah, adapun maharnya yaitu 400 dinar". Kemudian dia letakkan uang tersebut didepan kaum muslimin.

Kemudian Khalid bin Sa'id berkata:"Segala puji bagi Allah swt, saya memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, saya bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah swt dan bahwa Muhammad yaitu hamba dan utusan-Nya, yang Allah swt mengutusnya dengan membawa hidayah dan dein yang haq untuk memenangkan dien-Nya walaupun orang-orang musyrik benci.

Amma ba'du, saya terima lamaran Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dan saya nikahkan dia dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan, semoga Allah swt memberkahi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam. Selanjutnya Najasyi menyerahkan dinar tersebut kepada Khalid bin Sa'id kemudian dia terima. Najasyi mengajak para sahabat untuk mangadakan walimah dengan mengatakan: "Kami persilahkan anda untuk duduk karena bergotong-royong sunnah para Nabi apabila menikah hendaklah makan-makan untuk merayakan pernikahan".

Setelah kemenangan Khaibar, sampailah rombongan Muhajirin dari Habasyah, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dengan karena apa saya harus bergembira,karena kemenangan Khaibar atau karena datangnya Ja'far?"

Sedangkan Ummu Habibah bersama rombongan yang datang. Maka bertemulah Rasululah Shallallaahu 'alaihi wa sallam dengannya pada tahun keenam atau ketujuh hijriyah. Kala itu Ummu Habibah berumur 40 tahun dikala menduduki sebagai bintang berseri diantara istri-istri dia dan jadilah dia Ummul Mukminin.

Ummu Habibah menempatkan urusan dien pada kawasan yang pertama, dia utamakan aqidahnya daripada famili. Beliau telah mengumandangkan bahwa loyalitas dia yaitu untuk Allah swt dan Rasul-Nya bukan untuk seorangpun selaiin keduanya. Hal itu dibuktikan perilaku dia terhadap ayahnya, Abu Sufyan, tatkala suatu ketika ayahnya tersebut masuk ke rumah dia sedangkan dia ketika itu telah menjadi istri Rasul Shallallaahu 'alaihi wa sallam di Madinah. Sang ayah tiba untuk meminta proteksi kepada dia supaya menjadi mediator antara dirinya dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyah yang telah dikhianati sendiri oleh orang-orang musyrik. Abu Sufyan ingin duduk diatas tikar Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam, namun tiba-tiba dilipat oleh Ummu Habibah, maka Abu Sufyan bertanya dengan penuh keheranan: "Wahai putriku saya tidak tahu mengapa engkau melarangku duduk di tikar itu, apakah engkau malarang saya duduk diatasnya?". Beliau menjawab dengan keberanian dan ketenangan tanpa ada rasa takut terhadap kekuasaan dan kemarahan ayahnya: "Ini yaitu tikar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam sedangkan engkau yaitu orang musyrik yang najis, saya tidak ingin engkau duduk diatas tikar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam". Abu Sufyan berkata:"Demi Allah swt engkau akan menemui hal jelek sepeningalku nanti". Namun Ummu Habibah menjawab dengan penuh wibawa dan percaya diri: "bahkan semoga Allah swt memberi hidayah kepadaku dan juga kepada anda wahai ayah, pimpinan Quraisy, apa yang menghalangi anda masuk Islam? sedangkan engkau menyembah watu yang tidak sanggup melihat maupun mendengar!!". Maka Abu Sufyan pergi dengan murka dan membawa kegagalan.

Sungguh dia berhak menyandang segala kebesaran dan keagungan sebagai Ummul Mukminin, Ummu Habibah radhiallaahu 'anhuma. Seandainya para perempuan itu menyerupai dia pasti hasilnyapun menyerupai yang terjadi pada beliau.

Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menghadap ar-Rafiiqul A'la, Ummu Habibah melazimi rumahnya. Beliau tidak keluar rumahnya kecuali untuk shalat dan dia tidak meninggalkan Madinah kecuali untuk haji hingga sampailah waktu wafat yang di tunggu-tunggu tatkala berumur tujuh puluhan tahun. Beliau wafat sehabis memperlihatkan keteladanan yang paling tinggi dalam menjaga kewibawaan diennya dan bersemangat atasnya, tinggi dan mulya jauh dari efek jahiliyah dan tidak menghiraukan nasab manakala bertentangan dengan aqidahnya, semoga Allah swt meridhainya.[alsofwah]

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Ummu Salamah Radhiallaahu 'Anha

Beliau yaitu Hindun binti Abi Umayyah bin Mughirah al-Makhzumiyah al-Qursyiyah. Bapaknya yaitu putra dari salah seorang Quraisy yang diperhitungkan (disegani) dan populer dengan kedermawanannya.

Ayahnya dijuluki sebagai "Zaad ar-Rakbi " yakni seorang pengembara yang berbekal. Dijuluki demikian sebab apabila dia melaksanakan safar (perjalanan) tidak pernah lupa mengajak sahabat dan juga membawa bekal bahkan ia mencukupi bekal milik temannya. Adapun ibu ia berjulukan 'Atikah binti Amir bin Rabi'ah al-Kinaniyah dari Bani Farras yang terhormat.

Disamping ia mempunyai nasab yang terhormat ini ia juga seorang perempuan yang berparas cantik, berkedudukan dan seorang perempuan yang cerdas.Pada mulanya dinikahi oleh Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad al-Makhzumi, seorang shahabat yang agung dengan mengikuti dua kali hijrah. Baginya Ummu Salamah yaitu sebaik-baik istri baik dari segi kesetiaan, kata'atan dan dalam menunaikan hak-hak suaminya. Dia telah menawarkan pelayanan kepada suaminya di dalam rumah dengan pelayanan yang menggembirakan. Beliau senantiasa mendampingi suaminya dan gotong royong memikul beban ujian dan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy. Kemudian ia hijrah bersama suaminya ke Habasyah untuk menyelamatkan diennya dengan meninggalkan harta, keluarga, kampung halaman dan membuang rasa ketundukan kepada orang-orang zhalim dan para thagut. Di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang berjulukan Salamah.

Bersamaan dengan disobeknya naskah pemboikotan (terhadap kaum muslimin dan kaumnya Abu Thalib) dan sehabis masuk Islamnya Hamzah bin Abdul Muthallib dan Umar bin Khaththab radhiallaahu 'anhuma , kembalilah sepasang suami-isteri ini ke Mekkah bersama shahabat-shahabat yang lainnya.

Kemudian manakala Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam mengizinkan bagi para shahabatnya untuk hijrah ke Madinah sehabis insiden Bai'atul Aqabah al-Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah. Kisah hijrahnya mereka ke Madinah sungguh mengesankan, maka marilah kita mendengar penuturan Ummu Salamah yang menceritakan dengan lisannya wacana perjalanan mereka tatkala menempuh jalan hijrah. Berkata Ummu Salamah:

"Tatkala Abu Salamah tetap bersikeras untuk berhijrah ke Madinah, dia menuntun untanya kemudian menaikkan saya ke atas punggung unta dan membawa anakku Salamah. Selanjutnya kami keluar dengan menuggang unta, tatkala orang-orang dari Bani Mughirah melihat kami segera mereka mencegatnya dan berkata: 'Jika dirimu saja yang berangkat maka kami tidak kuasa untuk mencegahnya namun bagaimana dengan saudara kami (Ummu Salamah yang berasal dari Bani Mughirah) ini?'. Kemudian mereka merenggut tali kendali unta dari tangannya dan mencegahku untuk pergi bersamanya. Ketika Bani Abdul Asad dari kaum Abi Salamah melihat hal itu, mereka murka dan saling memperebutkan Salamah hingga berhasil mengambilnya dari paman-pamannya, mereka mengatakan:'Tidak! demi Allah swt kami tidak akan membiarkan anak pria kami bersamanya kalau kalian memisahkan istri dari keluarga pria kami'. Mereka memperebutkan anakku, Salamah kemudian melepaskan tangannya, kemudian anakku dibawa pergi bergabung dengan kaum bapaknya, sedangkan saya tertahan oleh Bani Mughirah.

Maka berangkatlah suamiku seorang diri hingga hingga ke Madinah untuk menyelamatkan dien dan nyawanya. Selama beberapa waktu lamanya, saya mencicipi hatiku hancur dalam keadaan sendiri dikarenakan telah dipisahkan dari suami dan anakku. Sejak hari itu, setiap hari saya pergi keluar ke pinggir sebuah sungai, kemudian saya duduk disuatu daerah yang menjadi saksi akan kesedihanku. Terkenang olehku saat-saat dimana saya berpisah dengan suami dan anakku sehingga menimbulkan saya menangis hingga menjelang malam. Kebiasaan tersebut saya lakukan kurang lebih selama satu tahun hingga ada seorang pria dari kaum pamanku yang melewatiku. Tatkala melihat kondisiku, ia menjadi iba kemudian berkata kepada orang-orang dari kaumku: 'Apakah kalian tidak membiarkan perempuan yang miskin ini untuk keluar? Sungguh kalian telah memisahkannya dengan suami dan anaknya'. Hal itu dikatakan secara berulangkali sehingga menjadi lunaklah hati mereka, kemudian mereka berkata kepadaku: 'Susullah suamimu kalau kau ingin'. Kala itu anakku juga dikembalikan oleh Bani Abdul Asad kepadaku. Selanjutnya saya mengambil untaku dan meletakkan anakku dipangkuannya. Aku keluar untuk menyusul suamiku di Madinah dan tak ada seorangpun yang bersamaku dari makhluk Allah swt.

Manakala saya hingga di at-Tan'im saya bertemu dengan Utsman bin Thalhah. Dia bertanya kepadaku:'Hendak kemana anda wahai putri Zaad ar-Rakbi?'. 'Aku hendak menyusul suamiku di Madinah", jawabku. Utsman berkata: 'apakah ada seseorang yang menemanimu?. Aku menjawab: 'Tidak! demi Allah swt! melainkan hanya Allah swt kemudian anakku ini'. Dia menyahut: 'Demi Allah swt engkau dihentikan ditinggalkan sendirian'. Selanjutnya dia memegang tali kekang untaku dan menuntunnya untuk menyertaiku. Demi Allah swt tiada saya kenal seorang pria Arab yang lebih baik dan lebih mulia dari Ustman bin Thalhah. Apabila kami singgah di suatu tempat, dia mempersilahkan saya berhenti dan kemudian dia menjauh dariku menuju sebuah pohon dan dia berbaring dibawahnya. Apabila kami hendak melanjutkan perjalanan, dia mendekati untaku untuk mempersiapkan dan memasang pelananya kemudian menjauh dariku seraya berkata: 'Naiklah!'. Apabila saya sudah naik ke atas unta dia mendatangiku dan menuntun untaku kembali. Demikian seterusnya yang dia lakukan hingga kami hingga di Madinah. Tatkala dia melihat desa Bani Umar bin Auf di Quba' yang merupakan daerah dimana suamiku, Abu Salamah berada di daerah hijrahnya. Dia berkata:'Sesungguhnya suamimu berada di desa ini, maka masuklah ke desa ini dengan barokah Allah swt'. Sementara Ustman bin Thalhah pribadi kembali ke Makka".

Begitulah, Ummu Salamah yaitu perempuan pertama yang memasuki Madinah dengan sekedup unta sebagaimana ia juga pernah mengikuti rombongan pertama yang hijrah ke Habasyah. Selama di Madinah ia sibuk mendidik anaknya - inilah kiprah pokok bagi perempuan - dan mempersiapkan sesuatu sebagai bekal suaminya untuk berjihad dan mengibarkan bendera Islam. Abu Salamah mengikuti perang Badar dan perang Uhud. Pada Perang Uhud inilah ia terkena luka yang parah. Beliau terkena panah pada begian lengan dan tinggal untuk mengobati lukanya hingga merasa sudah sembuh.

Selang dua bulan sehabis perang Uhud, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menerima laporan bahwa Bani Asad merencanakan hendak menyerang kaum muslimin. Kemudian ia memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju "Qathn", yakni sebuah gunung yang berpuncak tinggi disertai pasukan sebanyak 150 orang. Di antara mereka yaitu 'Ubaidullah bin al-Jarrah dan Sa'ad bin Abi Waqqash.

Abu Salamah melaksanakan perintah Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam untuk menghadapi musuh dengan antusias. Beliau menggerakkan pasukannya pada gelapnya subuh ketika musuh lengah. Maka usailah peperangan dengan kemenangan kaum muslimin sehingga mereka kembali dalam keadaan selamat dan membawa ghanimah. Disamping itu, mereka sanggup mengembalikan sesuatu yang hilang yakni kewibawaan kaum muslimin tatkala perang Uhud.

Pada pengiriman pasukan inilah luka yang diderita oleh Abu Salamah pada hari Uhud kembali kambuh sehingga mengharuskan ia terbaring ditempat tidur. Di saat-saat dia mengobati lukanya, ia berkata kepada istrinya: "Wahai Ummu Salamah, saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Tiada seorang muslimpun yang ditimpa petaka kemudian dia mengucapkan kalimat istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raji'un), dilanjutkan dengan berdo'a:'Ya Allah swt berilah saya pahala dalam petaka ini dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya' melainkan Allah swt akan menggantikan yang lebih baik darinya".

Pada suatu pagi Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tiba untuk menengoknya dan ia terus menunggunya hingga Abu Salamah berpisah dengan dunia. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memejamkan kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia, ia mengarahkan pandangannya ke langit seraya berdo'a:

"Ya Allah swt ampunilah Abu Salamah, tinggikanlah derajatnya dalam golongan Al-Muqarrabin dan gantikanlah dia dengan kesudahan yang baik pada masa yang telah lampau dan ampunilah kami dan dia Ya Rabbal'Alamin".

Ummu Salamah menghadapi ujian tersebut dengan hati yang dipenuhi dengan keimanan dan jiwa yang diisi dengan kesabaran ia pasrah dengan ketetapan Allah swt dan qadar-Nya.Beliau ingat do'a Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Abu Salamah yakni:

"Ya Allah swt berilah saya pahala dalam petaka ini…"

Sebenarnya ada rasa tidak lezat pada jiwanya manakala dia membaca do'a: "Wakhluflii khairan minha" (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) sebab hatinya bertanya-tanya: 'Lantas siapakah gerangan yang lebih baik daripada Abu Salamah?'. Akan tetapi ia tetap menyempurnakan do'anya supaya bernilai ibadah kepada Allah swt.

Ketika telah habis masa iddahnya, ada beberapa shahabat-shahabat utama yang bermaksud untuk melamar beliau. Inilah kebiasaan kaum muslimin dalam menghormati saudaranya, yakni mereka manjaga istrinya apabila mereka terbunuh di medan jihad. Akan tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam turut memikirkan nasib perempuan yang mulia ini; seorang perempuan mukminah, jujur, setia dan sabar. Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Pada suatu hari, pada ketika Ummu Salamah sedang menyamak kulit, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam tiba dan meminta izin kepada Ummu Salamah untuk menemuinya. Ummu Salamah mengizinkan beliau. Beliau ambilkan sebuah bantal yang terbuat dari kulit dan diisi dengan ijuk sebagai daerah duduk bagi Nabi. Maka Nabi pun duduk dan melamar Ummu Salamah. Tatkala Rasulullah simpulan berbicara, Ummu Salamah hampir-hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Tiba-tiba ia ingat hadits yang diriwayatkan oleh Abu Salamah, yakni; "Wakhlufli khairan minha" (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya), maka hatinya berbisik:'Dia lebih baik daripada Abu salamah'. Hanya saja ketulusan dan keimanannya mengakibatkan ia ragu, ia hendak mengungkapkan kekurangan yang ada pada dirinya kepada Rasulullah. Dia berkata:"Marhaban ya Rasulullah, bagaimana mungkin saya tidak mengharapkan anda ya Rasulullah…hanya saja saya yaitu seorang perempuan yang pencemburu, maka saya takut kalau engkau melihat sesuatu yang tidak anda senangi dariku maka Allah swt akan mengadzabku, lagi pula saya yaitu seorang perempuan yang telah lanjut usia dan saya mempunyai tanggungan keluarga. Maka Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda:"Adapun alasanmu bahwa engkau yaitu perempuan yang telah lanjut usia, maka sebetulnya saya lebih bau tanah darimu dan tiadalah malu manakala dikatakan dia telah menikah dengan orang yang lebih bau tanah darinya. Mengenai alasanmu bahwa engkau mempunyai tanggungan belum dewasa yatim, maka semua itu menjadi tanggungan Allah swt dan Rasul-Nya. Adapun alasanmu bahwa engkau yaitu perempuan pencemburu, maka saya akan berdo'a kepada Allah swt supaya menghilangkan sifat itu dari dirimu. Maka ia pasrah dengan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam . Dia berkata:"Sungguh Allah swt telah menggantikan bagiku seorang suami yang lebih baik dari Abu Salamah, yakni Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam.

Maka jadilah Ummu Salamah sebagai Ummul mukminin. Beliau hidup dalam rumah tangga nubuwwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang ia harapkan. Beliau menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama para ummahatul mukminin.

Ummu Salamah yaitu seorang perempuan yang cerdas dan matang dalam memahami perkara dengan pemahaman yang baik dan sanggup mengambil keputusan dengan sempurna pula. Hal itu ditunjukkan pada insiden Hudaibiyah manakala Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan para shahabatnya untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu, para shahabat tidak mengerjakannya sebab sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan hasil perjanjian Hudaibiyah yang banyak merugikan kaum muslimin. Berulangkali Nabi Shallallaahu 'alaihi wa sallam memerintahkan mereka akan tetapi tetap saja tak seorangpun mau mengerjakannya. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam masuk menemui Ummu Salamah dalam keadaan sedih dan kecewa. Beliau ceritakan kepada Ummu Salamah perihal kaum muslimin yang tidak mau mengerjakan perintah beliau. Maka Ummu Salamah berkata:"Wahai Rasulullah apakah anda menginginkan hal itu?. Jika demikian, maka silahkan anda keluar dan jangan berkata sepatah katapun dengan mereka sehingga anda menyembelih unta anda, kemudian panggillah tukang cukur anda untuk mencukur rambut anda (tahallul).

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam mendapatkan proposal Ummu Salamah. Maka ia berdiri dan keluar tidak berkata sepatah katapun hingga ia menyembelih untanya. Kemudian ia panggil tukang cukur ia dan dicukurlah rambut beliau. Manakala para shahabat melihat apa yang dikejakan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam, maka mereka berdiri dan menyembelih kurban mereka, kemudian sebagian mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian. Hingga hampir-hampir sebagian membunuh sebagian yang lain sebab kecewa. Setelah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam menghadap Ar-Rafiiqul A'la, maka Ummul Mukminin, Ummu Salamah senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi. Beliau selalu andil dengan kecerdasannya dalam setiap perkara untuk menjaga lurusnya umat dan mencegah mereka dari penyimpangan, terlebih lagi terhadap para penguasa dari para Khalifah maupun para pejabat. Beliau singkirkan segala kejahatan dan kezhaliman terhadap kaum muslimin, ia terangkan kalimat yang haq dan tidak takut terhadap celaan dari orang yang suka mencela dalam rangka melaksanakan perintah Allah swt. Tatkala tiba bulan Dzulqa'dah tahun 59 sehabis hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta sedangkan umur ia sudah mencapai 84 tahun. Beliau wafat sehabis menawarkan rujukan kepada perempuan dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.[alsofwah]

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Mengembalikan Jatidiri Parpol Islam


Hasil hitung cepat (quick count) pileg 2014 dari banyak sekali forum menawarkan hasil yang mirip. Dari hasil rataan quick count dari enam forum (LSI, Cyrus Network-CSIS, Indikator, Kompas, RRI, Populi Center), total bunyi parpol Islam dan yang berbasis massa Islam hanya 31,64% (yaitu PKB 9,18%, PKS 6,76%, PAN 7,52%, PPP 6,67% dan PBB 1,5%).

Membaca Dan Menyentuh Al Qur-An Ketika Berhadats

Al Qur-an yaitu penyejuk hati orang yang beriman, cahaya yang menerangi dadanya, penghilang kegelisahan dan kegundahan. Di dalamnya ada perangai-perangai iman, hukum-hukum yang adil dan kisah-kisah yang mengandung pelajaran berharga bagi orang-orang yang berakal. Sulit rasanya berpisah dengan Al Qur-an, meski hanya sekejap. Sempit dan hampa rasanya hidup tanpa Al Qur-an.

[A] - Keutamaan Membaca Al Qur-an

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa yang membaca sepuluh ayat dalam satu malam, dia tidak dianggap sebagai orang-orang yang lalai.” [HR. Al-Hakim, dia menilai hadits ini shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim. At Targhib wat-Tarhib, no. 2089]

Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisy rahimahullah berkata:

“Siapa yang mempunyai mushaf (Al Qur-an) selayaknya membaca Al Qur-an setiap hari beberapa ayat yang ringan (tidak banyak) supaya Al Qur-an tidak menjadi sesuatu yang ditinggalkan.” [Mukhtashar Minhajul Qashidin, hal. 68]

Imam Ibnu Rajab rahimahullah juga berkata:

“Termasuk sebesar-besar amalan yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah swt Ta’ala dari amalan-amalan Sunnah (Nafilah) yaitu memperbanyak membaca Al Qur-an, mendengarnya dengan tafakkur (perenungan), tadabbur (penghayatan) dan tafahhum (pemahaman).” [Jami’ Al ‘Ulum wal-Hikam]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Siapa menjaga shalat lima waktu, dia tidak dianggap sebagai orang-orang yang lalai dan siapa yang membaca 100 ayat dalam satu malam, dia dianggap sebagai qanitiin (ahli ibadah).”[HR. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim, dia menilai hadits ini shahih sesuai dengan syarat Imam Al Bukhari dan Muslim]

Hanya saja, jangan hanya berhenti hingga membaca Al Qur-an tanpa mempelajarinya dan mengamalkan pemikiran Al Qur-an, lantaran Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk ke jalan yang lurus, sehingga tidak cukup hanya membaca huruf-hurufnya.

Dari An Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

يُؤْتَى يَوْمَ الْقِيامَةِ بِالْقُرْآنِ وَأَهْلِهِ الَّذِيْنَ كانُوا يَعْمَلُوْنَ بِهِ فِي الدُّنْيا تَقَدَّمَهُ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ وَآلِ عِمْرانَ تَحاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

“Pada Hari Kiamat akan didatangkan Al Qur`an bersama mereka yang mengamalkannya di dunia. Yang terdepan yaitu Surah Al Baqarah dan Ali Imran, keduanya akan membela mereka yang mengamalkannya.” [HR. Muslim, no. 805]

Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“… Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan, bahwa siapa yang membaca Al Qur-an dan mengamalkan (isi)-nya kelak dikala tiba Hari Kiamat Surat Al Baqarah dan Ali ‘Imran berada di depannya. Keduanya membela orang yang membaca dan mengamalkan (isi)-nya di Hari Kiamat. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits ini mengaitkan: ‘membaca Al Qur-an’ dengan ‘mengamalkan (isi)-nya’.

Karena, orang-orang yang membaca Al Qur-an terbagi menjadi dua golongan, (yaitu):

(1) - Golongan yang tidak mengamalkan (isi) Al-Qur’an.

Dia tidak mengimani khabar-khabar Al Qur-an, tidak melaksanakan hukum-hukumnya, maka Al Qur-an menjadi musuh mereka.

(2) - Golongan lain, (yang) mengimani khabar-khabar Al Qur-an.

(Mereka) membenarkan dan mengamalkan hukum-hukumnya, maka Al Qur-an menjadi pembela yang membela mereka di Hari Kiamat.

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالقُرْاَنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

“Al Qur-an itu sanggup menjadi pembelamu, atau musuh bagimu.” [Syarh Riyadhish Shalihin, Juz 4, hal. 236]

Sungguh, Allah swt mencela orang-orang yang meninggalkan Al Qur-an. Allah swt Ta’ala berfirman:

(( وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا ))

Berkatalah Rasul, “Ya Tuhanku, sebenarnya kaumku mengakibatkan Al Qur-an itu sesuatu yang tidak diacuhkan (ditinggalkan).” [QS. Al Furqan, 30]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Orang-orang musyrik (dahulu), jikalau dibacakan Al Qur-an, mereka memperbanyak suara-suara dan berbicara ihwal selainnya, hingga mereka tidak mendengar Al Qur-an. (Hal) ini termasuk meninggalkan Al Qur-an.

Tidak mempelajarinya, tidak menghafalnya juga termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mengimani Al Qur-an dan (tidak) membenarkannya, termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mentadabburinya dan (tidak) berusaha memahaminya, termasuk meninggalkan Al Qur-an. Tidak mengamalkan (isi) Al Qur-an, tidak melaksanakan perintah-perintahnya dan tidak meninggalkan larangan-larangannya termasuk meninggalkan Al Qur-an.

Berpaling dari Al Qur-an dan pindah kepada selain Al Qur-an, baik berupa sya’ir, perkataan, nyanyian, permainan yang melalaikan, percakapan, atau jalan (peraturan) yang diambil dari selain Al Qur-an, termasuk meninggalkan Al Qur-an.”

[B] - Perbedaan Pendapat Ulama Tentang Membaca Al Qur-an, Ketika Berhadats Besar dan Sebab Terjadinya Perbedaan

Tidak ada yang mengingkari, bahwa seorang muslim yang membaca Al Qur-an dalam keadaan suci yaitu lebih utama. Ulama berbeda pendapat bagaimana, jikalau seorang yang sedang hadats besar membaca Al Qur-an.

‘Hadats’ yaitu sifat (bukan benda) dan tidak tampak yang melekat di tubuh seseorang dan menghalangi sahnya shalat dan ibadah lain yang disyaratkan bersuci padanya. Hadats ada dua, (yaitu): hadats kecil dan hadats besar. Hadats besar disebabkan ‘ihtilam (mimpi basah)’, korelasi suami istri, haid, maupun nifas.

Imam Ibnu Rusydi rahimahullah di dalam kitabnya ‘Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid’ berkata:

“Masalah yang ke tiga: Membaca Al Qur-an bagi orang yang junub (berhadats besar). Ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama beropini dilarang melakukannya dan sebagian ulama beropini boleh. Sebab terjadinya perbedaan pendapat, yaitu adanya kemungkinan yang terlintas di hadits ‘Ali bin Abi Thalib, dia berkata:

‘Dahulu Nabi ‘alaihish shalatu wassalam tidak ada sesuatupun yang menghalanginya dari membaca Al Qur-an, kecuali janabah.’

Sisi perbedaannya, sebagian ulama berkata:

‘Perkataan ‘Ali bin Abi Thalib ini tidak terdapat konsekuensi apapun, lantaran ia hanyalah persangkaan perawi hadits. Dan darimana seseorang mengetahui, bahwa dia tidak membaca Al Qu-an lantaran janabah, kecuali jikalau memang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan hal itu?

Mayoritas ulama memandang, bahwa ‘Ali radhiyallahu ‘anhu tidak lah menyampaikan hal itu dari perkiraan, atau persangkaan, dia berkata menyerupai itu disertai keyakinan.

Sebagian ulama menyamakan perempuan haidh dalam hal perbedaan pendapat ini menyerupai orang junub.

Sebagian ulama membedakan antara keduanya, mereka membolehkan perempuan haidh membaca Al-Qur’an sedikit….”

Sehingga terperinci bagi kita, bahwa yang mengakibatkan ulama berbeda pendapat yaitu riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib yang kandungannya yaitu pemberitahuan, bahwa dikala junub (ber-hadats besar) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membaca Al Qur-an.

[C] - Keabsahan Hadits ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

Karena yang menjadi lantaran perbedaan yaitu riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu tersebut, maka yang pertama dilakukan yaitu meninjau keabsahan riwayat, sebelum mengambil kesimpulan hukum. Karena mengambil kesimpulan aturan dari suatu dalil sanggup dilakukan sehabis diketahui keabsahan dalil tersebut. Tentang keabsahan riwayat tersebut, ada ulama yang menilainya sebagai riwayat yang lemah dan ada yang menilainya kuat.

Dan riwayat ‘Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu ini ada banyak redaksi, di antaranya,

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa membacakan Al Qur-an kepada kami selama dia tidak junub.” [Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasaa-i]

Riwayat ini dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan dinilai hasan oleh At Tirmidzy. Dan sebagian ulama menganggapnya riwayat yang lemah.

Dan dalam redaksi yang lain ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada yang menghalanginya dari (membaca) Al Qur-an selain janabah.” [Riwayat At Tirmidzy, Abu Dawud, Ibnu Majah dan An Nasaa-i]

Riwayat ini dinilai lemah oleh para imam, diantaranya: Asy Syafi’i, Ahmad, Al Baihaqy dan Al Khaththaby begitu juga Syaikh Al Albany rahimahumullah.

[D] - Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu Tidak Menunjukkan Haramnya Seorang yang Junub Membaca Al Qur-an

Seandainya kita menentukan pendapat yang menilai, bahwa riwayat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yaitu riwayat yang kuat, inipun tidak menyampaikan haramnya seorang yang junub, maupun haidh membaca Al Qur-an. Karena apa yang dikatakan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu hanyalah khabar dari suatu perbuatan. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak melarangnya secara tegas.

Imam Asy-Syaukany di dalam kitab ‘Nailul Authar’ berkata:

“Tidak ada di dalamnya sesuatu yang menyampaikan haramnya (seseorang yang junub membaca Al Qur-an), lantaran puncaknya hanyalah khabar, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membaca Al Qur-an dikala junub. Dan yang menyerupai ini tidak sempurna dijadikan pegangan untuk (meyakini) makruh, maka bagaimana sanggup berdalil dengannya untuk mengharamkan?”

[E] – Hadits, Bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam Berdzikir di Setiap Kesempatan

Kita ketahui, bahwa membaca Al Qur-an termasuk dzikir, bahkan sebaik-baik dzikir. Dan salah satu nama Al Qur-an yaitu Adz Dzikr. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ber-dzikir di semua keadaan. Yaitu, keadaan selain dikala buang hajat (kecil maupun besar), atau jima’.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dia berkata:

“Rasulullah biasa menyebut nama Allah swt (dzikir) di semua keadaannya.” [HR. Muslim]

Inilah hadits yang dijadikan dalil ulama yang mengatakan, bahwa boleh seorang yang junub maupun perempuan haidh membaca Al Qur-an. Dan ini yaitu pendapat Abu Hanifah, Ahmad dan yang populer dari pendapat Asy Syafi’i.

[F] - Menyentuh Mushaf

Ini juga dilema yang diperselisihkan para ulama ihwal boleh dan tidaknya. Dalil bagi mereka yang mengatakan, bahwa dilarang bagi perempuan haidh, maupun seorang yang junub menyentuh Al Qur-an yaitu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Tidak menyentuh Al Qur-an, kecuali orang suci.” [Majma’ Az Zawaid, Imam Al Haitsamy, Subulus Salam, Tahqiq Syaikh Al Albany]

Diantara ulama ada yang mengatakan, bahwa hadits ini tidak sanggup dijadikan dalil untuk mengharamkan menyentuh mushaf bagi perempuan haidh, maupun seorang yang junub. Karena kata (طاهر) ‘orang suci’ dalam Bahasa Arab meliputi beberapa makna:

1. Orang beriman yang suci dari hadats besar;
2. Orang beriman yang suci dari hadats kecil;
3. Orang beriman yang suci dari hadats besar maupun kecil;
4. Orang beriman yang di badannya tidak ada najis.

Karena masih banyak kemungkinan, maka belum sanggup dijadikan dalil untuk mengharamkan menyentuh mushaf bagi orang yang junub, maupun perempuan haidh. Orang beriman yang sedang berhadats besar juga dinamakan orang suci. Wanita beriman yang sedang haidh juga dinamakan orang suci .Yaitu, suci lantaran imannya, bukan orang kafir. Sehingga makna hadits adalah:

“Tidak menyentuh Al Qur-an, kecuali orang beriman.”

Maka yang dilarang menyentuh Al Qur’an yaitu orang kafir. Oleh lantaran itu, ada hadits shahih yang mengatakan, bahwa orang beriman itu tidak najis. Dan ini yaitu pendapat Dawud Azh Zhahiry, Ibnu Hazm dan dipilih Syaikh Al Albany dan Syaikh Mushthafa Al ‘Adawy.

Kesimpulannya, tidak mengapa seorang yang junub, maupun perempuan haidh membaca maupun menyentuh mushaf, lantaran keduanya yaitu orang beriman dan orang beriman itu tidak najis. Ditambah lagi tidak ada dalil yang tegas yang mengharamkan seorang yang junub, maupun perempuan haidh membaca, maupun menyentuh Al Qur-an.
Sumber : Buletin Al-Minhaj
| Wallahu a’lam bish shawab..
| Oleh: Fajri NS..
| Edisi: 43 | Tahun VIII
| Terbit: 3 Rajab 1435 H | 2 Mei 2014 M

Sumber https://blog-mza.blogspot.com

Pemilu Untuk Perubahan, Menyerupai Menggantang Asap

Dalam catatan sejarah, setidaknya negeri ini sudah sebelas kali menggelar Pemilu. Pada masa Orde Lama digelar sekali Pemilu, yakni tahun 1955 diikuti 172 parpol dan didominasi empat parpol yaitu: PNI, Masyumi, Nahdlatul Ulama, dan PKI.
Selama Orde Baru digelar enam kali pemilu yaitu tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Pemilu tahun 1971, pada ada awal pemerintahan Soeharto, diikuti oleh 10 parpol. Pemilu selanjutnya, hanya diikuti tiga parpol sebagai hasil peleburan banyak sekali parpol yang ada sebelumnya, yakni PPP, PDI dan Golongan Karya.
Orde Baru jatuh oleh gerakan reformasi dan dimulailah Orde Reformasi. Sejak masuk Orde Reformasi hingga kini telah digelar empat kali Pemilu yakni tahun 1999 yang diikuti oleh 48 partai politik, tahun 2004 diikuti oleh 24 partai politik, tahun 2009 diikuti oleh 38 partai politik dan tahun 2014 yang gres kemudian diikuti oleh 12 partai politik nasional dan 3 partai politik lokal Aceh.
Sepanjang kurun waktu tersebut, Indonesia mempunyai 6 orang presiden, yakni Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarno Poetri dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Dan pada pemilu bulan Juli mendatang akan dipilih presiden ke tujuh.
Menggantang Asap
Setelah melalui sebelas kali Pemilu dan enam orang Presiden berganti, nyatanya harapan tinggal harapan, perbaikan dan perubahan yang dijanjikan tak kunjung datang. Belasan kali Pemilu sudah dilaksanakan, kesejahteraan masyarakat masih sebatas angan-angan. Wakil rakyat tiba silih berganti, setiap kali itu pula rakyat hanya dijadikan komoditi. Berkali-kali kepemimpinan dirotasi, sebanyak itu pula rakyat menelan kekecewaan dan merugi.
Parlemen dan penguasa hasil Pemilu selama ini menciptakan harapan dan harapan umat terasa makin jauh dari kenyataan. Dari Parlemen dan Penguasa pilihan rakyat itu lahir banyak peraturan perundangan yang justru merugikan rakyat. Melalui mereka juga kepentingan abnormal masuk. Merekalah pelaku korupsi yang paling ganas di negeri ini. Mereka pula yang telah menjual aset berharga milik negara dan rakyat. Bukankah mereka yang menjual Indosat dan BUMN-BUMN lainnya, menjual murah bank-bank yang diselamatkan dengan ratusan triliun uang rakyat, dan lainnya. Bukankah mereka yang mengatakan kontrak kepada Freeport, Newmont dan swasta abnormal lainnya untuk menjarah tambang yang sejatinya yaitu milik rakyat. Bukankah penguasa pilihan rakyat hasil pemilu jugalah yang menyerahkan blok kaya minyak kepada Exxon Mobil, bok kaya migas kepada Total, serta menyerahkan dan memperpanjang kontrak BP untuk mengeruk gas Tangguh. Benar, mereka semua yaitu Parlemen dan Penguasa hasil Pemilu.
Parlemen dan penguasa hasil pemilu nyatanya telah menghasilkan banyak sekali UU yang merugikan rakyat dan membuka pintu bagi abnormal untuk menguasai kekayaan negeri ini. Sejak tahun 1967, dewan perwakilan rakyat dan Pemerintah telah mengeluarkan UU yang menjadi pintu masuk cengkeraman abnormal atas negeri ini. UU Penanaman Modal Asing (UUPMA) no. 1 tahun 1967 bahkan sengaja disahkan supaya PT Freeport dapat segera mengeksploitasi emas milik rakyat. dewan perwakilan rakyat hasil Pemilu paca reformasi pun menghasilkan UU yang makin menyempurnakan jalan penguasaan abnormal itu, menyerupai UU Penanaman Modal, UU Perbankan, UU Minerba, UU Migas, UU kelistirikan, UU Sumber Daya Air, dan UU lainnya.
Hasilnya, kini dominasi abnormal makin berpengaruh mencengkeram sektor-sektor strategis. Sekadar contoh, berdasarkan catatanKompas, Per Maret 2011, pihak abnormal telah menguasai 50,6 persen aset perbankan nasional. Dengan demikian sekitar Rp 1.551 triliun dari total aset perbankan Rp 3.065 triliun dikuasai asing. Pada tubuh usaha milik negara (BUMN), dari semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan abnormal sudah mencapai 60 persen. Lebih tragis lagi di sektor minyak dan gas. Porsi operator migas nasional hanya sekitar 25 persen, selebihnya 75 persen dikuasai pihak asing.

Bukan Jalan Perubahan Hakiki
Pemilu nyatanya tidak mengatakan perbaikan dan perubahan yang hakiki. Pemilu yang terjadi hanya mengatakan pergantian rezim, sementara sistemnya tetap tidak berubah. Sebab Pemilu di manapun memang didesain hanya untuk rotasi dan pergantian orang atau rezim, bukan untuk perubahan sistem dan ideologi.
Karenanya, meski sudah sebelas kali Pemilu digelar di negeri ini, sistem demokrasi yang mengatakan hak pembuatan aturan kepada insan tetap bercokol. Demokrasilah pintu lahirnya banyak sekali UU yang merugikan rakyat. Sistem ekonomi kapitalisme juga tetap bertahan dan bahkan makin kapitalistik.
Jika perubahan yang diimpikan yaitu perubahan rezim, perubahan orang, maka Pemilu dapat mengatakan itu. Namun, perubahan rezim tidak selalu membawa kebaikan bila tidak diikuti dengan perubahan sistem. Buktinya, menyerupai yang selama ini terjadi. Rezim demi rezim berganti tetapi kondisinya tak banyak berubah. Malah banyak orang menilai kondisi kini dalam banyak hal, contohnya korupsi, lebih buruk dari sebelumnya. Begitu parahnya praktik korupsi, hingga muncul anekdot, bila pada masa Orde Baru korupsi dilakukan di bawah meja, kini di atas meja, bahkan mejanya pun dikorup.
Sistem politik justru menjadi semakin mahal. Menurut Mahfud MD, mantan ketua MK, “Saat biaya politik semakin mahal, elit juga semakin buruk lantaran sistem yang dibangun mendorong ke arah korupsi. Malaikat masuk ke dalam sistem Indonesia pun dapat jadi iblis juga.” Sistem politik yang mahal itu menciptakan kekuatan uanglah yang dominan. Jadilah negara makin kental bercorak korporatokrasi. Persekongkolan penguasa-pengusaha pun makin menjadi-jadi.
Jelas dari apa yang terjadi, tidak ada perubahan fundamental yang terjadi meski pemilu sudah sebelas kali. Indonesia masih menganut sistem demokrasi sekular yang menihilkan tugas agama di ranah publik. Pemilu juga ternyata hanya menjadi alat untuk memperpanjang usia demokrasi sambil rakyat dikibuli lima tahun sekali.
Jadilah negeri ini menyerupai kini ini. Tak ada yang namanya kepentingan rakyat. Yang ada hanyalah kepentingan elite politik dan para kapitalis. Hal tersebut terjadi lantaran yang berubah dari negeri ini hanyalah sebagian orang dan rezim. Sistem politik masih demokrasi sekular, sementara sistem ekonomi masih kapitalistik. Fakta yang terjadi ketika ini hanyalah pergantian orang dari generasi ke generasi; hanya peralihan dari rezim yang satu ke rezim yang lain.
Sejarah panjang bangsa ini seharusnya menjadi pelajaran buat kita, bahwa tidak cukup sekadar mengganti orang. Berbagai duduk perkara tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengganti rezim. Sebelas kali Pemilu berlangsung, enam kali presiden berganti, tidak ada yang berubah dari negeri ini. Bahkan negeri ini makin terpuruk hampir di semua lini.
Semua itu akhir terus mempertahankan sistem sekuler demokrasi kapitalisme seraya berpaling dari sistem Ilahi yang dibawah oleh Nabi saw. Allah swt pun sudah mengingatkan hal itu jauh-jauh hari.
﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا﴾
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka bergotong-royong baginya penghidupan yang sempit”. (TQS Thaha [20]: 124)

Imam Ibn Katsir menjelaskan: “Allah swt SWT berfirman, ‘Dan siapa yang berpaling dari peringatanku’ yakni menyalahi perintah (ketetapan)-KU dan apa yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, berpaling darinya dan melupakannya serta mengambil yang lain sebagai petunjuknya ‘maka baginya kehidupan yang sempit’ yakni di dunia.”

Mewujudkan Perubahan Hakiki
Perubahan yang hakiki tidak cukup sekadar dengan perubahan orang, tetapi juga harus ada perubahan sistem secara fundamental dan menyeluruh. Bila kita menginginkan perubahan sistem, apalagi ideologi; kita tidak dapat berharap pada pemilu, alasannya pemilu tidak memperlihatkan hal itu. Lagi pula, dalam kenyataannya, perubahan rezim dan sistem, contohnya dari rezim Orde Lama ke Orde Baru, juga dari Orde Baru ke Orde Reformasi, begitu juga perubahan-perubahan besar di banyak sekali negara di dunia, termasuk apa yang terjadi di sejumlah negara Timur Tengah belakangan ini, tidaklah terjadi melalui pemilu termasuk Pilpres mendatang.
Semua keburukan yang terjadi ketika ini, mulai dari lahirnya peraturan perundangan yang buruk, pemimpin yang buruk, wakil rakyat yang korup dan sebagainya, pangkalnya yaitu demokrasi dan penerapan sistem sekular. Karena itu, selama dua hal itu ada, keburukan tidak akan hilang. Sebaik apapun orang yang dipilih dalam sistem itu, hasilnya akan tetap buruk, lantaran yang menciptakan buruk yaitu sistemnya itu sendiri. Jadi, kalau kita ingin benar-benar menghentikan keburukan, sistem demokrasi dan sistem sekular itu harus dibuang jauh-jauh dari negeri ini.
Perubahan hakiki, yakni perubahan sistem dan orang itu, harus kita perjuangkan. Sebab perubahan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Perubahan hakiki hanya dapat kita wujudkan melalui usaha dengan jalan dakwah, yang sesuaithariqah (metoda) dakwah Rasulullah saw. Jalan dan metode lain tidak akan menghantarkan pada tujuan, bahkan akan memalingkan dari jalan yang benar. Perjuangan itu harus dilakukan secara terorganisir dan berjamaah. Dalam hal ini, tugas partai politik sangat vital. Partai harus melaksanakan pengkaderan, pembentukan kesadaran umum perihal Islam di tengah masyarakat dan thalabun nushrah. Inilah jalan yang haq, yang dijamin akan menghasilkan kemenangan hakiki dan tegaknya al-haq, yaitu penerapan syariah secara kaffah dalam naungan Khilafah.
﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Dan bahwa ini yaitu jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kau mengikuti jalan-jalan (yang lain), lantaran jalan-jalan itu mencerai beraikan kau dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah swt supaya kau bertakwa.” (TQS al-An’am [6]: 153)

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. []

Komentar:
Pemilu Legislatif 2014 dinilai sebagai pemilu paling brutal sepanjang sejarah Indonesia. Pemilu legislatif tahun ini bukan memperjuangkan ideologi atau isu-isu yang bersifat program, juga bukan memperjuangkan elektoral, melainkan jadi arena pintar-pintaran mendistribusikan uang tanpa melanggar aturan pemilu. (Kompas, 22/4)
  1. Pemilu memang pecahan dari Demokrasi, sistem politik sarat biaya, masuk akal saja semua itu terus terjadi.
  2. Pemilu jadi sulap canggih demokrasi untuk kanalisasi kehendak rakyat yang ingin perubahan dan perbaikan, tapi karenanya dikelabuhi.
Sumber : Al-Islam edisi 703, 25 Jumaduts Tsaniyah 1435 H – 25 April 2014 M

Sumber https://blog-mza.blogspot.com
loading...