Inilah 3 Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadhan


Cybermoeslem.xyzADA tiga waktu terkabulnya doa di bulan Ramadhan. Raihlah keutamaan tersebut dengan terus memperbanyak doa. Lalu kapankah datangnya tiga waktu tersebut?

HUKUM JUM’ATAN KETIKA HARI RAYA JATUH PADA HARI JUM’AT


Cybermoeslem.xyzKetika Hari Raya Idul Adha atau Idul Fitri jatuh pada hari Jumat, apakah kewajiban shalat Jum’at menjadi gugur? Apakah cukup dengan shalat Ied saja tanpa melakukan shalat Jumat?

Belajar Ikhlas dari Amalan Ramadhan


Cybermoeslem.xyz Sekarang kita belajar ikhlas, pelajaran ini diambil dari amaliyah Ramadhan.

Yang dimaksud ikhlas adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.

Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan yang di dalamnya diajarkan keikhlasan.
Lihat saja dalam amalan puasa disebutkan,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 38; Muslim, no. 760, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Dalam amalan shalat malam atau shalat tarawih disebutkan,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, no. 37; Muslim no. 759, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu).

Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, 6: 36.

Juga ketika seseorang menghidupkan lailatul qadar dengan shalat malam disebutkan,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901, dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu).

Yang dimaksud ihtisaban dalam hadits di atas berarti beramal karena mengharap pahala dari Allah. Itulah yang dimaksud ikhlasYang diharap bukanlah pujian manusia. Yang diharap bukanlah semata-mata harapan dunia.

Bagaimana belajar untuk ikhlas dari puasa Ramadhan?


Pertama: Belajar tidak mengharap pujian manusia


Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al-Masih Ad-Dajjal. Lantas beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal?” “Iya”, para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al-Khudri. Beliau pun bersabda,

الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Syirik khofi (syirik yang samar) di manaseseorang shalat lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah, no. 4204. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Berbuat riya‘ (pamer amalan) benar-benar tidak akan dipedulikan oleh Allah Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman: Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (artinya: tidak menerima amalannya, pen) dan perbuatan syiriknya” (HR. Muslim, no. 2985)

Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Amalan seseorang yang berbuat riya’ (tidak ikhlas), itu adalah amalan batil yang tidak berpahala apa-apa, bahkan ia akan mendapatkan dosa” (Syarh Shahih Muslim, 18: 115).

Kedua: Berusaha menyembunyikan amalan shalih


Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِىَّ الْغَنِىَّ الْخَفِىَّ
Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (HR. Muslim, no. 2965)

Yang dimaksud dengan al-khafi dalam hadits adalah,

الْخَامِل الْمُنْقَطِع إِلَى الْعِبَادَة وَالِاشْتِغَال بِأُمُورِ نَفْسه

“Tidak terkenal (tidak masyhur), terasing untuk menyibukkan diri dalam ibadah dan mengurus dirinya sendiri.” (Syarh Shahih Muslim, 18:84)

Berarti termasuk di antara hamba yang dicintai oleh Allah adalah yang menyembunyikan amalan shalihnya.

Misalnya dalam hal sedekah diperintahkan untuk menyembunyikannya sebagaimana dalam ayat,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 271)

Juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan mengenai tujuh orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat,

وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ

Ada orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi di mana tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari, no. 660 dan Muslim, no. 1031).


Ketiga: Beramal bukan untuk orientasi dunia


Misalnya ada yang bersedekah cuma ingin dapat balasan di dunia, tidak ingin balasan akhirat sama sekali.

Begitu pula orang yang beramal hanya mengharap dunia semata, ia benar-benar merugi. Allah Ta’alaberfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syuraa: 20)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ، وَالدِّرْهَمِ ، وَالْقَطِيفَةِ ، وَالْخَمِيصَةِ ، إِنْ أُعْطِىَ رَضِىَ ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ

Celakalah hamba dinar, dirham, qathifah dan khamishah. Jika diberi, dia pun ridha. Namun jika tidak diberi, dia tidak ridha, dia akan celaka, dan akan kembali binasa.” (HR. Bukhari, no. 2886).  Qathifahdan khamishahadalah sejenis pakaian yang mewah.

Kenapa dinamakan hamba dinar, dirham, dan pakaian yang mewah? Karena mereka yang disebutkan dalam hadits tersebut beramal untuk menggapai harta-harta tadi, bukan untuk mengharap wajah Allah. Demikianlah sehingga mereka disebut hamba dinar, dirham dan seterusnya. Adapun orang yang beramal karena ingin mengharap wajah Allah semata, mereka itulah yang disebut hamba Allah (sejati).

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Artikel Buletin Jumat Rumaysho #22
Artikel Rumaysho.Com

Ramadhan: Jadikan Momentum Pendidikan Rabbany Kita


Cybermoeslem.xyzSHAUM merupakan aktivitas ibadah yang sudah ada sejak jaman dahulu, seperti yang dikatakan dalam surat Al Baqarah ayat 183, “kama kutiba ‘alalladzina min qablikum; seperti yang telah diwajibkan terhadap orang-orang sebelum kamu”.

Kesalahan Berbuka: Makan Besar dan Terlambat Shalat Maghrib Berjamaah


Cybermoeslem.xyzAl-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Kisah Akhir Hayat Majusi yang Hormati Orang Puasa


Cybermoeslem.xyz Siang itu, matahari Ramadhan cukup terik. Guyuran cahayanya berhasil membuat suhu udara kota semakin memanas. Sudah barang tentu kondisi ini semakin menambah lemah nan lesu kaum Muslimin yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Kenapa Harus Sombong?


Cybermoeslem.xyz - Kenapa Harus Sombong? Ini yang dialami oleh kita-kita tatkala sudah lama belajar agama. Merasa diri sudah lebih dari orang lain dan lebih paham dari yang lain. Padahal kekurangan kita teramat banyak. Maksiat kecil-kecilan bahkan yang besar masih dilakoni. Ilmu yang telah kita pelajari pun sedikit yang diamalkan.

Mari Intip Bagaimana Strategi Managemen Keuangan untuk UKM


Cybermoeslem.xyz Menjadi salah satu pelaku bisnis kecil atau UKM memang memberikan tantangan tersendiri bagi kita. Selain dari segi produk, pemasaran, hingga tantangan memanage SDM sampai dengan memanage keuangan. Benar memang sekecil apapun bisnis yang kita dirikan, mengatur keuangan harus dilakukan dengan baik.

Bacaan Lengkap, Doa untuk Orang yang Sudah Meninggal Dunia


Cybermoeslem.xyz - Kehidupan di dunia ini sangatlah singkat adanya, dalam sebuah literatur dikatakan bahwa kehidupan sejatinya hanyalah seperti perjalanan panjang.

TAMBAHAN GELAR “HAJI”, BID’AHKAH?


Cybermoeslem.xyzSyekh Albani menghukumi bidah panggilan Haji bagi orang yang sudah melakukan ibadah haji. Pernyataan ini jelas tidak menunjukkan sikap Salaf, karena di masa imam-imam dahulu panggilan Haji ini sudah diperbolehkan bagi yang sudah melakukan haji:

Generasi Milenial China Kekurangan Jam Tidur


Cybermoeslem.xyzGenerasi millenial di China tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup karena berbagai faktor sebagaimana hasil survei nasional yang dilakukan terhadap kalangan remaja pengguna internet.

Gambaran Menawan Bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan


Cybermoeslem.xyzDALAM buku “Lathâ`ifu al-Ma’ârif fîmâ limawâsim al-‘Âm min al-Wadzâ`if” (1999: 234), Ibnu Rajab al-Hanbali menukil gambaran menawan dari ulama terkait bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan. Di antaranya adalah apa yang diutarakan oleh Abu Bakar al-Warraq al-Balkhi rahimahullah, dan sebagian ulama lainnya.

Sinyal Dajjal di Era Digital


Cybermoeslem.xyzMENURUT Thomas L. Friedman dalam buku “The World Is Flat 3.0: A Brief History of the Twenty-first Century” (2005: 9-10), pada sekitar tahun 2000, dunia masuk pada era “Globalisasi 3.0”. Di antara tanda-tanda era ini adalah penggunaan teknologi digital, masing-masing individu dan kelompok kecil terkovergensi dengan internet

Dikejar Utang 6 Milyar


Cybermoeslem.xyzAda yang dikejar utang 6 Milyar? Karena sudah terlanjur dengan gaya hidup mewah? Coba renugkan nasihat dalam buletin berikut ini.

Ingat, Punya Utang itu “Gak Enak”


1- Berutang mengajarkan untuk mudah berbohong


Dari ‘Urwah dari ‘Aisyah rahdiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa di dalam shalat: ALLOOHUMMA INNII A’UUDZU BIKA MINAL MA’TSAMI WAL MAGHROM (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari perbuatan dosa dan lilitan utang).” Lalu ada yang bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari utang?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, ‘Jika orang yang berutang berucap, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari.’” (HR. Bukhari, no. 2397 dan Muslim, no. 589)

2- Pahala jihad tidak bisa membayar utang


Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’i bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dalam sebuah khotbah di depan khalayak ramai. Kemudian beliau menyebutkan pada mereka bahwa jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah) dan beriman kepada Allah adalah sebaik-baiknya amalan. Kemudian ada seorang lelaki yang berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda jika saya terbunuh dalam jihad, apakah semua kesalahan saya akan dihapuskan?” Beliau menjawab, “Benar, jika kamu terbunuh fi sabilillah dalam keadaan sabar, mengharapkan pahala Allah, sedang maju, dan tidak lari mundur ke belakang.” Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang engkau katakan tadi?” Orang itu berkata lagi, “Bagaimana pendapat Anda jika saya terbunuh dalam jihad, apakah semua kesalahan saya akan dihapuskan?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Benar, jika kamu terbunuh fi sabilillah dalam keadaan sabar, mengharapkan pahala Allah, sedang maju, dan tidak lari mundur ke belakang. Kecuali kalau engkau memiliki utang. Sesungguhnya Jibril mengatakan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim, no. 1885)

3- Pada hari kiamat, kebaikan orang yang berutang akan diambil untuk melunasi utangnya


Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (pada hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah, no. 2414. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

4- Masih bergantung sampai utangnya lunas


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi, no. 1079 dan Ibnu Majah, no. 2413. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.)

Awali dengan Taubat dari Utang Riba


Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Orang yang memakan (mengambil) riba akan bangkit dari kubur mereka pada hari kiamat seperti orang yang terkena ayan (epilepsi) saat berdiri. Ia bertindak serampangan karena kerasukan setan. Saat itu ia sangat sulit berdiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:278)

Ibnu ‘Abbas berkata, “Pemakan riba akan bangkit pada hari kiamat dalam keadaan gila dan mencekik dirinya sendiri.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 2:278)

Imam Asy-Syaukani membahas lebih luas, tercatat bahwa ancaman riba yang dimaksud di dalam ayat bukan hanya untuk pemakan riba. Yang disebut dalam ayat untuk pemakan riba hanya untuk menunjukkan jeleknya pelaku tersebut. Namun setiap orang yang bermuamalah dengan riba terkena ancaman ayat di atas, baik yang memakan riba (rentenir) maupun orang yang menyetor riba (yang meminjam uang, yaitu nasabah).
Imam Asy-Syaukani juga berpendapat bahwa keadaannya seperti orang gila yang kerasukan setan itu bukan hanya saat dibangkitkan dari kubur, namun berlaku untuk keadaannya di dunia. Orang yang mengumpulkan harta dengan menempuh jalan riba akan berdiri seperti orang majnun (orang gila) yaitu karena sifatnya yang rakus dan tamak. Gerakannya saat itu seperti orang gila. Seperti jika kita melihat ada orang yang tergesa-gesa saat berjalan maka kita sebut ia sebagai “orang gila”. (Lihat Fath Al-Qadir karya Asy-Syaukani, 1:499.)
Dalam ayat yang sama dilanjutkan,

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), ‘Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.’” (QS. Al-Baqarah: 275)

Lihatlah dalam ayat di atas, Allah membedakan antara riba dan jual beli, sedangkan mereka menyatakan jual beli dan riba itu sama karena sama-sama menarik keuntungan di dalamnya. Jual beli jelas dihalalkan karena ada keuntungan dan manfaat di dalamnya, baik yang bersifat umum maupun khusus. 

Adapun riba diharamkan karena di dalamnya ada kezaliman dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil; ini bukan seperti keuntungan yang ada dalam jual beli yang sifatnya mutualisme (saling menguntungkan antara penjual dan pembeli). (Lihat Al-Mukhtashar fi At-Tafsir, hlm. 47.)

Kelanjutan dari ayat yang sama,
فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabb-nya, lantas dia berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba) maka dia termasuk penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Terakhir, ingat ancaman perang dari Allah dan Rasul-Nya bagi yang masih senang dengan riba,

فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang berutang itu) berada dalam kesukaran maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 279-281)

Cara Melunasi Utang


1-  Buatlah daftar dari semua utang Anda.


Buat semua daftar utang Anda. Daftar utang harus diurutkan dari yang terbesar ke yang terkecil. Jangan lupa mencantumkan suku bunga yang berlaku untuk tiap utang.

2- Hitunglah semua pemasukan yang dimiliki.


3- Prioritaskan pembayaran dan tutup utang yang tidak perlu.


  • Bayar utang yang terkecil terlebih dahulu.
  • Lunasi sehingga tidak menjadi beban lanjutan bagi Anda. Sementara itu, Anda bayar secara minimal untuk utang yang lebih besar.

  • Jika utang kecil dapat diselesaikan maka lanjutkan ke utang yang lebih besar.
  • Anda juga dapat menyelesaikan utang dengan bunga yang tinggi terlebih dahulu, baru yang berbunga rendah.
  • Para ahli juga merekomendasikan untuk membayar minimal dua kali pembayaran minimal sehingga utang Anda insyaallah akan selesai kurang dari tiga tahun.

4- Tutup (kartu) kredit yang tidak terpakai.


Jika Anda telah menyelesaikan utang Anda, Anda harus mengambil langkah tegas dengan menutup kartu kredit yang tidak perlu. Selain menghemat pengeluaran iuran tahunan, menutup kartu kredit tentunya akan mengurangi godaan untuk belanja secara berlebihan.

5- Jual aset untuk melunasi utang.


Sebagian orang sebenarnya punya aset yang berharga dan itu bisa digunakan untuk melunasi utang riba ratusan juta. Namun saking berhasratnya untuk tetap memiliki harta melimpah, utang tersebut terus ditahan. Padahal jika tanah, rumah, atau kendaraan sebagai aset yang ia miiki dijual, maka semua utangnya akan lunas. Ingatlah, orang yang serius untuk melunasi utangnya akan ditolong oleh Allah. Sebaliknya, orang yang enggan lunasi padahal punya aset dan mampu melunasi, tentu akan jauh dari pertolongan Allah.

6- Tambah penghasilan selama tidak mengganggu kewajiban.


7- Hindari gali lubang tutup lubang.


Percayalah, menyelesaikan lubang dengan menggali lubang akan membuat kita makin pusing.

8- Jangan berutang lagi.


Kala utang Anda sunah lunas, lupakan untuk berutang lagi. Bayar setiap tagihan dengan tepat waktu.

Semoga Allah bukakan pintu kemudahan dan Allah angkat dari segala macam kesulitan.

Artikel Rumaysho.Com

Hati-hati, Jangan Shalat Dhuha pada Waktu-waktu Ini


Cybermoeslem.xyzSHALAT dhuha merupakan salah satu shalat sunnah yang bisa melengkapi shalat wajib. Dan waktu shalat ini juga merupakan waktu istimewa.

Adakah Syari’at Wudhu Atau Mandi Setelah Pulang Mengantarkan Jenazah Ke Pemakaman?


Cybermoeslem.xyz Assalamualaikum ustadz ana baru pulang mengantarkan jenazah ke pemakaman. Apakah disunnahkan untuk mandi atau wudhu saja?

Berbanggalah Menjadi Ibu Rumah Tangga


Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan karunia dan hidayah kepada hamba-hamba-Nya. Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam beserta keluarga, shahabat, dan umatnya

Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah



Aisyah adalah satu-satunya istri Rasulullah yang dinikahi dalam keadaan masih gadis. Ia merupakan istri ketiga Rasulullah. Sebelumnya, istri Rasulullah yang pertama, Khadijah wafat. Kemudian Rasulullah menikahi Saudah binti Zam’ah, seorang janda berusia 30an tahun, sebelum akhirnya mempersunting Aisyah.

Aisyah merupakan seorang putri dari pasangan Abu Bakar al-Siddiq dan Ummu Ruman. Jika nasabnya ditelurusi hingga ke atas, maka nasab Aisyah bertemu Rasulullah yaitu pada Murrah bin Ka’ab. Dalam struktur masyarakat Quraish, marga Ummahatul Mukminin ini adalah Bani Taim. 

Al-Husaini dalam buku Baitun Nubuwwah, Rumah Tangga Nabi Muhammad saw. menyebutkan bahwa wanita marga Bani Taim terkenal patuh, lemah lembut, dan dapat bergaul dengan baik. Sementara kaum lelakinya dikenal berpikir cerdas, dermawan, jujur, dan pemberani. 

Humaira (pipinya yang merona) merupakan julukan Aisyah. Ia adalah seorang perempuan yang memiliki perangai yang sangat baik, berkulit putih, berparas elok, bermata besar, berambut kriting, dan bertubuh langsing. Dan tentunya memiliki pipi yang merona dan kemerah-merahan.    

Ada banyak versi terkait dengan usia Aisyah ketika dinikahi Rasulullah. Ada yang menyebut bahwa usia Aisyah adalah 6 atau 7 tahun ketika dinikahi dan 10 tahun saat diajak Rasulullah untuk tinggal satu rumah. Pendapat lain –yang didasarkan pada riwayat Abdurrahman bin Abu Abi Zannad dan Ibnu Hajar al-Asqalani- menyebutkan bahwa usia Aisyah ketika berumah tangga adalah 19 atau 20 tahun.

Terlepas dari itu semua, Quraish Shihab dalam Membaca Sirah Nabi saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih menyatakan bahwa tidak ada kritikan atau cemoohan dari musuh-musuh Rasulullah tentang pernikahan Rasulullah dan Aisyah pada saat itu. Namun anehnya, kritikan dan cemoohan itu –dengan tujuan melecehkan dan mendiskreditkan Rasulullah- datang ratusan tahun setelah kejadian itu. Artinya, seseorang yang sudah sepuh menikah dengan ‘perempuan muda’ adalah sesuatu yang wajar dan lumrah terjadi pada zaman masyarakat waktu itu.

Rasulullah menikahi Aisyah tepat pada bulan Syawwal tahun ke-10 kenabian di Makkah atau sekitar tiga tahun setelah sang istri pertama, Khadijah binti Khuwailid, wafat. Mahar yang diberikan Rasulullah untuk Aisyah sebesar 12 uqiyyah atau 400 dirham.

Lalu, apa yang membuat Rasulullah mempersunting Aisyah? Padahal Rasulullah juga sudah menikahi Saudah binti Zam’ah. Di sisi lain, sahabat Muth’im bin Adiy juga pernah menanyakan kepada Abu Bakar akan mengawinkan Aisyah untuk anaknya, Jubair, sebelum utusan Rasulullah menanyakan hal yang sama.

Dalam sebuah riwayat, Aisyah pernah mengungkapkan bahwa alasan Rasulullah menikahinya adalah 'karena mimpi.' Suatu ketika, Rasulullah bermimpi didatangi malaikat membawa Aisyah dengan dibalut kain sutera. Malaikat tersebut mengatakan kepada Rasulullah bahwa perempuan yang dibalut kain sutera tersebut adalah istrinya. Mimpi Rasulullah ini berulang hingga tiga kali. 

“Jika mimpi ini dari Allah, tentu Dia akan mengabulkannya,” kata Rasulullah merespons ucapan malaikat itu. Dan benar saja, akhirnya Allah mengabulkannya. 

Sebelumnya, Abu Bakar keberatan ketika Khaulah, utusan Rasulullah, datang untuk melamar Aisyah karena Muth’im sudah datang terlebih dahulu. Namun, setelah mengetahui keburukan keluarga Muth’im, Abu Bakar tidak lagi menghendaki anak lelaki Muth’im untuk menikahi Aisyah. Walhasil, Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah untuk menikahi anaknya.

loading...