Mandi Wajib Karena Junub dan Haid Sekaligus, Bagaimana Caranya?


Seorang wanita yang mengalami junub, baik karena faktor mimpi basah ataupun hubungan suami istri, maka ia terkena kewajiban mandi wajib.
Jika setelah menunaikan mandi wajib tersebut ia mengalami haidh, maka ia terkena kewajiban mandi wajib kembali saat haidhnya berakhir. Hal ini telah menjadi kesepakatan para ulama fikih.

WANITA MENGALAMI DUA HADATS BESAR SEKALIGUS

Kasus yang menjadi lahan perbedaan pendapat para ulama fikih adalah jika seorang wanita mengalami junub, lalu sebelum ia melakukan mandi wajib, ia mengalami haidh.
Misalnya, seorang istri melakukan hubungan seksual dengan suaminya setelah shalat Isya’. Lalu ia tidur dengan niat hendak mandi wajib sebelum waktu shalat Shubuh. Setengah jam sebelum waktu waktu Shubuh, ia bangun untuk menunaikan mandi wajib. Namun ternyata saat itu ia mengalami haidh.
Dalam kondisi demikian itu, berapa kali ia harus mandi wajib? Apakah ia cukup melakukan satu kali mandi wajib untuk dua hadats besar, yaitu junuh dan haidh dan junubnya, pada saat selesai haidh? Ataukah ia harus melakukan dua kali mandi wajib?
Dalam hal ini, pendapat para ulama fikih ternyata beragam sesuai dengan keragaman kondisi atau niat wanita tersebut.
Jika wanita itu melakukan satu kali mandi dengan niat menghilangkan dua hadats besar sekaligus, yaitu junub dan haidh, maka di kalangan ulama fikih terdapat dua pendapat tentang keabsahan mandi tersebut. SAH SATU MANDI

WAJIB UNTUK DUA HADATS BESAR

Mayoritas ulama fikih dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat mandi dengan niat Seorang menghilangkan dua hadats besar tersebut adalah sah. Sehingga, wanita tersebut cukup melakukan satu kali mandi wajib saja. Dasar argumentasi mereka adalah:
Pertama, Qiyas dengan hubungan seksual. Pada umumnya, dalam hubungan seksual terjadi dua keadaan yang masingmasingnya mengharuskan mandi wajib. Dua keadaan tersebut adalah bertemunya kemaluan suami-istri dan keluarnya mani. Meski demikian, satu kali mandi wajib telah mewakili dua hal tersebut.
Kedua, Nabi SAW melakukan hubungan seksual dengan beberapa orang istrinya dalam satu malam. Beliau mencukupkan diri dengan satu kali mandi wajib untuk keseluruhan hubungan seksual tersebut.
Ketiga, Junub dan haidh merupakan dua sebab, masing-masingnya mengharuskan mandi wajib. Maka satu kali mandi wajib telah mencukupi keduanya. Hal itu sebagaimana jika seseorang mengalami hadats kecil (kentut atau kencing misalnya) dan terkena najis ringan (tahi cicak misalnya), maka satu kali wudhu sudah cukup untuk bersuci dan menghilangkan najis sekaligus. (Ibnu Hammam Al-Hanafi, Fathul Qadir, I/66, Malik, Al-Mudawwanah al-Kubra, I/134, Asy-Syafi’i, Al-Umm, II/95, Ibnu Mundzir, Al-Ausath, II/227-228, dan Ibnu Qudamah, Al-Mughni Syarh al-Khiraqi, I/292)

HARUS DUA MANDI WAJIB UNTUK DUA HADATS BESAR

Sebagian ulama tabi’in seperti Hasan al-Bashri, Ibrahim an-Nakha’i, Atha’ bin Abi Rabah, dan Jabir bin Zaid berpendapat wanita tersebut harus melakukan dua mandi wajib. Satu mandi wajib untuk bersuci dari junub dan satu kali mandi wajib untuk bersuci dari haidh. Satu kali mandi wajib saja tidaklah sah untuk bersuci dari kedua hadats besar tersebut. (Ibnu Mundzir, Al-Ausath, II/227-228 dan Ibnu Qudamah, Al-Mughni, I/292)
Mereka melandaskan pendapat mereka kepada argumentasi sebagai berikut:
Pertama, Syariat mewajibkan mandi wajib karena haidh dan mandi wajib karena junub. Masing-masing adalah satu kewajiban tersendiri. Mandi karena haidh bukanlah mandi karena junub. Maka tidak boleh menggugurkan salah satu dari dua mandi wajib tersebut, kecuali berdasarkan dalil dari Al-Qur’an, atau As-Sunnah, atau ijma’. Padahal dalam hal ini, dalil tersebut tidak ada.
Kedua, Haidh dan junub memiliki pengertian yang berbeda. Mandi wajib untuk keduanya memiliki tujuan yang berbeda pula. Maka bersuci dari keduanya tidak bisa diwakili oleh satu kali mandi wajib semata.

KOMPARASI PENDAPAT

Pertama, Dalam bidang fikih berlaku kaedah at-tadaakhul. Yaitu jika terdapat dua perkara yang berasal dari satu jenis yang sama, maka satu sama lainnya saling memasuki. Sehingga mengerjakan salah satu di antara keduanya sudah mewakili perkara lainnya.
Haidh dan junub adalah dua perkara yang termasuk satu jenis yang sama, yaitu hadats besar. Hadats besar dan hadats kecil adalah salah satu bagian fikih yang padanya berlaku kaedah at-tadaakhul.
Kedua, Nabi SAW pernah melakukan hubungan seksual dengan beberapa istri beliau dalam satu malam. Beliau hanya melakukan satu kali mandi wajib atas seluruh hubungan seksual tersebut. Padahal, pada asalnya, masing-masing hubungan seksual tersebut mengharuskan satu kali mandi wajib.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ
Dari Anas bin Malik bahwasanya Nabi SAW menggauli istri-istrinya dalam satu malam dengan satu kali mandi wajib saja. (HR. Muslim, An-Nasai, dan Ahmad)
Ibnu Mundzir An-Naisaburi (wafat 318 H) berkata, “Karena wanita tersebut mengalami haidh, sebelum ia mandi wajib dari kondisi junub, maka satu kali mandi wajib telah mencukupinya. Sebagaimana orang yang melakukan hubungan seksual, kemudian melakukan hubungan seksual kembali, cukup baginya melakukan satu kali mandi wajib.” (Ibnu Mundzir, Al-Ausath, II/228)
Ketiga, Adapun perbedaan antara haidh dan junub dari sisi pengertian dan sebagian hukumnya adalah perbedaan yang tidak membawa pengaruh. Sebab, kewajiban yang ditetapkan syariat atas kondisi haidh dan junub adalah sama, yaitu mandi wajib.
Selain itu, melakukan mandi wajib dari junub tidaklah menjadikan seorang wanita suci selama ia masih mengalami haidh. Ia baru benar-benar dalam keadaan suci, setelah darah haidhnya berhenti dan ia melakukan mandi wajib darinya.
Imam Asy-Syafi’i berkata, “Jika seorang wanita mengalami junub, kemudian ia mengalami haidh sebelum ia mandi dari junub, maka tidak ada kewajiban mandi wajib dari junub atas dirinya selama masa ia masih haid. Sebab, ia melaksanakan mandi wajib adalah untuk mensucikan dirinya. Sementara ia tidak akan menjadi suci meskipun ia mandi dari junub, selama ia masih haidh. Jika haidhnya telah selesai, maka satu kali mandi wajib telah cukup bagi dirinya.”
“Demikian pula apabila wanita itu mengalami mimpi basah selama masa ia haidh, maka cukup baginya melakukan satu kali mandi wajib untuk kesemuanya. Ia tidak wajib melakukan mandi wajib, meskipun berulang kali mengalami mimpi basah, sampai ia suci dari haidh. Sehingga setelahnya ia cukup melakukan satu kali mandi wajib.” (Asy-Syafi’i, Al-Umm, II/95)

KESIMPULAN

Setelah melakukan kajian terhadap masing-masing pendapat di atas dan argumentasinya, para ulama muhaqqiq menyimpulkan bahwa pendapat pertama adalah pendapat yang lebih
kuat, mandi wajibnya cukup sekali. Wallahu a’lam bishshawab. []
sumber : hujjah.net
Previous Post
Next Post

0 komentar:

loading...